Menembus Batas (Sebuah Fragmen Novel)

Fathoni Mahsun
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Hari tanpa ketegangan dan beban kembali datang. Ciciricit burung-burung mengiringi mentari pagi terdengar lebih nyaring dari pagi-pagi biasanya. Udara pagi yang segar menyapa siapa saja yang menjumpainya. Nikmat, kesejukan yang disediakan oleh alam. Namun pada hari-hari sibuk, fasilitas alam tersebut tak begitu bisa dirasakan, karena orang-orang segera tenggelam dalam kerigitan hidup sejak pagi buta. Begitu bangun pikiran sudah disesaki dengan berbagai macam kewajiban yang menumpuk. Entah sejak kapan orang berpikir bahwa diperlukan satu hari dalam seminggu sebagai hari istirahat. Meletakkan sejenak segala beban, dan memberi kesempatan kepada tubuh untuk menjadi seperti sedia kala, yang bugar, yang berpikiran jernih, dan yang penuh semangat.

Banyak orang yang berlari-lari pagi, untuk sekedar merapal jatah udara pagi yang selama ini terlewat. Lari pagi sebenarnya menuntut energi fisik yang tidak ringan, sehingga mengucurkan banyak keringat. Tapi anehnya orang lebih enjoy melakukannya dari pada beraktifitas seharian di kantor yang hanya duduk-duduk dan menggerakkan polpen. Hari minggu yang disepakati sebagai hari libur, merupakan hari yang memberi kesempatan bercengkeraman dengan keluarga. Lari pagi sebagai salah satu penyalurannya. Perpaduan antara udara segar pagi hari, kebersamaan dengan keluarga, dan terlepasnya segala kewajiban, merupakan formulasi yang manjur untuk menengok sisi kemanusiaan dalam diri setiap insan.

Pagi itu Rosyid meluluskan permintaan istrinya untuk jalan-jalan. Menyusuri rerumputan pinggiran aspal yang masih menanggung titik-titik embun. Titik embun itu dipercayai secara turun-temurun berkasiat mengobati reumatik. Tapi permasalahannya penyakit reumatik sekarang sudah pergi, berganti asam urat. Masih berkasiatkah rerumputan itu? Hamparan sawah di seberang jalan menawarankan pemandangan berupa selimut kabut yang sedikit demi sedikit mulai melepaskan diri dari pucuk-pucuk padi yang mulai menguning. Sementara, siraman mentari terasa hangat menyentuh kulit, nampaknya dia belum mengeluarkan energi panas dengan kapasitas penuh. Perlahan, sebagaimana burung pipit yang mengintip perlahan bulir-bulir padi di tengah kegelapan kabut yang mulai beranjak. Di bantaran parit pinggir sawah, beberapa tumbuhan putri malu yang sudah tidak digelayuti embun, mulai berani membuka dekapannya, seakan tidak ingin tertinggal membuka aktifitas pagi. Sebuah pergeseran masa yang menakjubkan.

Sejak semalam istri Rosyid merengek minta jalan-jalan. Tetapi bukan jalan-jalannya yang menjadi ujung pangkal permasalahan. Rosfiana, istri Rosyid ingin pagi-pagi sekali menuju pasar. Dalam celotehnya, dia ingin membuat menu sarapan istemewa. Perpaduan antara masakan Jawa yang manis dan masakan Padang yang pedas, tapi diolah dengan sederhana seperti masakan Sunda. Rosyid penasaran juga mendengarnya. Sebuah rasa penasaran yang cukup beralasan, karena tempo hari istrinya nyatanya berhasil menyajikan resep imajinasinya, setelah melalui percobaan berulang-ulang. Membuat abon kering dari jamur tiram yang mempunyai kandungan air tinggi. Namun lebih dari itu Rosyid tidak mau mengecewakan istrinya yang sedang hamil muda. Mungkin ini yang dikatakan orang, ngidam. Tapi anehnya Rosfiana tidak pernah meminta mangga muda, atau kedondong, atau buah-buah yang asam-asam lainnya.

Istrinya malah lebih sering mereka-reka masakan. Padahal latar belakang pendidikannya bukan tata boga. Sebelum resep abon jamur tiram, Rosyid sempat dibuat terkejut oleh istrinya. Ketika itu sepulang kerja, istrinya langsung menyambutnya dengan berseri-seri. “Oh, suamiku datang. Kok lecek banget sih, capek ya?? Kasihan. Sini aku hibur dengan sesuatu yang istimewa.” Tanpa sempat ba bi bu, lengan Rosyid sudah digapit tangan istrinya. Pikir Rosyid mau segera diajak ke kamar, wah lumayan…, untuk menghilangkan penat. Tapi perkiraannya salah besar, ketika di depan kamar langkah kaki istrinya masih melaju menuju ruang makan. Segera kursi disiapkan, dan Rosyid dipersilahkan duduk oleh istrinya.

Di depannya, meja makan masih tertutup sehingga Rosyid tidak bisa melihat hidangan apa yang akan disajikan oleh istrinya. Namun tak urung juga karena pengaruh perut yang keroncongan Rosyid membayangkan menu makan siang kesukaannya, yang memang sudah dirindukannya sejak seminggu yang lalu. Ikan wader yang digoreng kering, lalu dipadukan dengan sambal terasi. Rosyid lebih suka bahan-bahan sambal tersebut digoreng dahulu sebelum diracik dan diulek. Baik tomat, cabai merah, maupun bawang merahnya. Karena kalau digoreng, warnanya akan lebih menarik, serta hilang kandungan airnya. Selain itu terasinya harus terasi pilihan, bikinan Sidoarjo yang terkenal enak dan sudah biasa dipakai masak istrinya. Sebab lidah Rosyid paling peka kalau terasinya diganti bukan yang biasanya. Rosyid juga pesan pada istrinya agar kalau beli ikan wader pilih yang kecil-kecil saja, sebab yang besar durinya keras dan menusuk-nusuk di mulut. Lalapan harus juga menyertai, boleh kacang panjang muda yang rasanya empuk dan manis, boleh kubis, boleh juga mentimun, atau bahkan ketiganya sekaligus malah bagus. Dipadu dengan nasi hangat tentunya akan menjadi hidangan yang menggairahkan.

“Tapi aroma sambal itu kok tidak tercium?” pikir Rosyid. “Padahal hidungku biasanya sudah bisa mencium aroma sambal kesukaanku walaupun aku berada di ruang depan.” Ketika istrinya sudah duduk di depannya, di seberang tempat duduk Rosyid, istri yang dimenangkannya dari saingan dengan beberapa pemuda itu mulai membuka tabir kemisteriusan.

“Sudah seminggu aku menguji coba masakan ini. Baru kali ini bisa berhasil dengan sempurna. Rasanya puuuaas banget.”
“Bukan masakan yang biasanya toh??” selidik Rosyid.
“Maksud Mas, sambal lalapan sama ikan wader??”
“Iya, kan aku pesan itu sejak minggu lalu.”

“Bukan, membuat sambal wader dengan hidangan yang biasa sudah tidak menantang bagiku. Ini jauh lebih istimewa, bahkan Mas mungkin belum pernah membayangkan sebelumnya.”

“Masakan apaan sih, kok Mas nggak pernah tau kamu udah nyiapin seminggu??”

“Ya iya dong, namanya juga surprise. Surprise untuk suamiku tercinta.” Berkata demikian Rosfiana sambil berkerling genit. Seketika Rosyid merasa tertohok dengan persembahan sang istri dengan pancaran ketulusan yang sempurna itu. Walaupun dia sendiri belum tahu masakan apa yang ada di hadapannya. Dia pun berjanji membalasnya.

“Masak sih?? Oke deh kalau nanti memang terbukti istimewa, Mas janji akan memberikan hadiah yang tidak kalah istimewa.”

“Iiiih, masak ngasih hadiah nunggu dimasakin dulu sihh.” Yang dirajuk hanya tersenyum tipis.

“Kapan nih mulainya??, saya buka ya??”
“Eit jangan dulu, biar adek yang membukakan. Penasaran ya mas??”

“Laper, tau!!” tawa pun pecah. Rosfiana segera menggapai ujung atas tutup makanan itu. Sebelum membuka dia berucap “Bismillahhirohmanirrohim”

“Silahkan… ini dia masakan istimewa adek….” lalu dia mengangkat tutup itu dari meja. Di dalamnya ternyata hanya ada tiga telor asin yang diletak di atas piring kecil.

“Lo…., kok Cuma telur asin sih. Apa istimewanya??”
“Sabar tuan Rosyid yang tampan. Rosfi akan menjelaskan apa keistimewaan telor-telor asin ini.” Dia pun beranjak dari tempat duduknya. Berlagak seperti dosen yang sedang menjelaskan sebuah mata kuliah penting, dengan mengelilingi meja dan Rosyid.

“Telor-telor asin tersebut bukanlah telor biasa. Di dalamnya terkandung segala yang tuan inginkan. Satu telor mempunyai rasa sambal terasi, satu telor mempunyai rasa ikan wader, dan satu telor lagi mempunyai rasa nasi.”

“Maksudnya??” rasa tak sabar berganti keterkejutan, mendengar sesuatu yang ganjil dari mulut istrinya itu.

“Tenang tuan Rosyid, saya belum selesai menjelaskan. Telor-telor tersebut kalau dibelah dan dimakan, rasanya sudah tidak lagi seperti telor asin pada umumnya. Semuanya mengikuti kegemaran tuan Rosyid. Sambal terasi dipadu dengan ikan wader dan tidak ketinggalan nasinya.” Lalu Rosfiana mengambil satu telor yang paling kiri. Dibelahnya telor itu menjadi dua, lalu disuruhnya suaminya menyendokinya. “Silahkan tuan dicicipi!!, ini rasa sambal terasi”. Agak ragu-ragu Rosyid mengambil sendok, tapi keraguan itu tidak bisa mengalahkan rasa penasarannya. Selama ini dia tidak pernah tau ada telor asin rasa sambal terasi. Itu karena kulit telor yang keras dan tidak bisa didaur ulang. Barangkali kalau onde-onde atau pia yang mempunyai rasa bermacam-macam masih masuk akal. Karena isinya bisa tergantung yang membuat, dikasih isi kacang hijau, atau ubi, atau isian yang lain bisa. Termasuk pentol pun di dalamnya masih bisa diisi daging, lemak, atau telor masih wajar. Ini telor, sudah dari sononya begitu. Paling mentok orang hanya bisa merubah dari tidak asin menjadi asin. “Aku masih belum percaya. Apalagi wujud telor ini tidak berubah, masih tetap ada putih telornya. Kuning telornya pun tidak berubah menjadi isi sambal terasi.” Bisik Rosyid dalam hati.

“Kok malah bengong sih??”
“E.., bener nih rasanya seperti sambal terasi?? Kok bentuknya sama seperti telor-telor asin lainnya?”

“Tuan nanti akan tau kalau sudah mencoba.” Akhirnya disendoknya pula telor yang sudah dibelah itu. Menakjubkan!! Rasa sambal terasi ternyata sudah terasa sejak suapan pertama. Racikan pedas, asin, manis, dan terasinya persis seperti sambal terasi yang dibuat istrinya. Bedanya, rasa itu berbalut rasa asli telor asin. Seakan tak percaya, dia sendok lagi bagian telor yang tersisa, sampai habislah setengah telor itu seketika.

“Kok bisa sih?? Ada telor asin rasa sambal terasi? Bagaimana cara buatnya?” Lalu Rosyid pun meneliti sekeliling kulit telor, mencari kalau-kalau ada bekas bukaan yang kemudian ditutup kembali. Tidak ditemukan. Tapi dia masih tidak percaya. Dia lihat permukaan kulit telor yang masih utuh. Bisa jadi bukaannya tepat dibagian yang dibelah, sehingga bekasnya tidak terlihat. Diperiksanya dua telor utuh yang masih tersisa. Ternyata tidak ada sedikitpun bekas goresan, apalagi bekas belahan. Semuanya utuh. Lalu tanpa permisi dia buka telor yang kedua. “Apa bener telor yang kedua ini mempunyai rasa ikan wader seperti kata istri saya?” ungkapnya dalam hati. Sang istri pun membiarkan suaminya memuaskan rasa penasarannya. Dia sendiri sudah puas karena bisa memupuskan ketidakpercayaan suaminya bahwa telor juga bisa diberi rasa macam-macam tanpa merubah bentuk aslinya.

Tepat seperti apa yang dikatakan istrinya, telor yang kedua ini memang mempunyai rasa ikan wader, walaupun memang agak aneh. Tekstur telor, wujud juga telor tapi rasanya ikan wader. Ini luar biasa. Telor yang ketiga akhirnya tidak ketinggalan. Benar-benar mempunyai aroma rasa nasi, walaupun rasa telor asinnya juga masih ada. Katika selesai menghabiskan telor yang ketiga, istrinya pun tepuk tangan.

“Hebat…, tuan Rosyid telah berhasil menghabiskan tiga telor kurang dari lima menit.”

“Kalau ada sepuluh lagi aku juga masih sanggup menghabiskan. Tapi coba jelaskan pada saya, gimana caranya adek memasukkan rasa pada telor-telor itu!!” rupanya ada desakan yang kuat dalam benak Rosyid untuk mencari jawaban atas rasa penasaran yang makin menggebu itu.

“Prosesnya panjang tuan. Tapi ringkasnya ada dua tahapan penting.” Lagak dosennya masih berlanjut “Tuan tidak menemukan bekas luka apa pun di permukaan kulit telor, bukan?”

“Hem hem”
“Itu karena adek menggunakan teknik tingkat tinggi, membutuhkan banyak refrensi dan telah melewati puluhan percobaan. Secara prinsip aneka rasa itu memang dimasukkan melalui kulit telor yang keras itu. Nah bagaimana agar kulit telor tidak rusak? Karena kalau kulit telor lubang sedikitnya saja, akibatnya fatal, akan gagal total karena prosesnya dilakukan ketika telor masih mentah.”

“Ya, aku paham itu”
“Kuncinya, kulit telor harus kita buat lentur dan elastis.”
“Apa bisa??”

“Bisa tuan, caranya direndam dengan air cuka. Setelah beberapa lama, kulit telor yang keras itu bisa lembek.”

“O.., itu rahasianya. Lalu proses memasukkan rasanya bagaimana?”

“Pertanyaan bagus. Kita menggunakan suntik tuan. Adonan rasanya kita taruh di dalam suntik, lalu kita masukkan ke dalam telor. Bekas lubang suntikan di kulit telor yang kecil itu akan menutup dengan sendirinya. Sehingga praktis tidak ada bekasnya sama sekali.”

“Wah hebat adik.”
“Tahan dulu pujiannya.., bisa dilanjut tuan? ”
“Silahkan, silahkan Nyonya Rosyid”

“Proses penting berikutnya adalah memunculkan rasa yang diinginkan. Tidak mungkin memasukkan sambal dalam wujud aslinya ke dalam telor, sama tidak mungkinnya pula memasukkan ikan wader mentah-mentah ke dalam telor. Ada tiga tahapan yang diperlukan. Pertama, sambal harus dihaluskan sampai benar-benar halus, sampai tidak ada butir-butir cabai atau tomat yang tersisa. Kedua, sambal yang sudah halus tersebut di ekstrakkan sampai bisa berwujud bubuk kering. Ketiga, ekstrak yang sudah dalam bentuk bubuk tersebut dicairkan lagi sehingga bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam telor melalui suntikan. Prinsip yang sama juga dilakukan pada wader.”

“Nasinya sama juga?”
“Nasi lebih gampang, kita tidak usah repot-repot mengekstraksikan. Cukup menggunakan air tajin saja.”

“Wah, benar-benar hebat istriku ini.” Lalu direngkuhnya istrinya yang kebetulan posisinya berdiri disampingnya, sehingga terjerembah dalam pangkuannya. Kemudian dia kecup keningnya.

“Hanya ini hadiah istimewanya?”

Tiiiiiinnnn…, suara klakson sepeda motor dari arah belakang membuyarkan lamunan Rosyid. Ketika itu pasar sudah di penghujung mata. Pasar tersebut terletak di desa sebelah, sehingga memang bisa dijangkau dengan jalan-jalan di pagi hari. Rosyid pada dasarnya tidak biasa ikut masuk ke dalam pasar. Tapi karena dia tidak tega melepaskan istrinya yang sedang hamil sendiri, dia pun ikut masuk ke dalam pasar. Apalagi ini adalah kehamilan anaknya yang pertama. Bagian dia adalah mengawal dan membawa barang, sedangkan istrinya yang bagian hunting dan menawar. Satu jam berikutnya semua barang sudah didapat, mulai dari bumbu-bumbu, sayuran, ikan laut, dan daging.

“Berat Mas? Saya bawain gih sebagian!!”
“Gak usah, adek nanti bagian masak aja.”

“Beres Bos!! Pokoknya nanti Mas dijamin tidak kecewa dengan masakan yang adek kasih judul ‘masakan lintas budaya’, karena memadukan tiga kebudayaan sekaligus.”

“Serem banget judulnya, nggak lintas negara sekalian, Jeng??”
“Kalau lintas negara, pesawatnya kemahalan Pak Rosyid.” Tawa mereka pun meledak.

“Eh Mas, anak kita nanti kita kasih nama siapa ya.”
“Pokoknya nanti kalau laki-laki bagian saya yang kasih nama, kalau perempuan adik yang kasih.”

“Ehm.., siapa ya enaknya?” Dalam perjalanan pulang itu Rosfiana menghempaskan pandangannya ke arah jingganya mentari di arah timur, yang beraltarkan sawah dengan padi montok-montok. Sebagian warna jingga itu disimpan oleh awan pagi yang berwarna semburat abu-abu. Sementara burung bangau dikejauhan sana melintas dari selatan ke utara, seakan membelah mentari. Burung bangau yang terbang melintasi mentari tersebut menyadarkan pada siapa saja, bahwa apa yang mereka saksikan ini adalah alam nyata. Bukan sebuah lukisan raksasa. Bagi Rosfiana, keberadaan burung yang menjadi pelengkap keindahan panorama pagi tersebut, memberikan makna berbeda. Burung-burung tersebut menitikan inspirasi bagi Rosfiana.

“Kalau perempuan, saya akan namai Qurrota A’yun, seseorang yang menyejukkan pandangan mata.”
“Heemm.., nama yang cukup bagus. Saya setuju?!”
“Kalau laki-laki??”

“Kalau laki-laki…..” yang ada dalam pikiran Rosyid saat ini adalah bahwa kenyataannya dia sedang mendampingi istrinya mewujudkan obsesi memasaknya yang diluar batas kewajaran. “Nah kalau laki-laki, saya beri nama yang pokoknya mengandung kata ‘mujtahid’. Orang yang mempunyai pemikiran di luar batas kewajaran. Mirip ibunya yang sedang berpikir di luar batas, karena menciptakan masakan yang nyeleneh-nyeleneh.”

“Ha ha ha, nyindir sampeyan Mas.”
“Lo, memang kenyataannya begitu kan?”