Mencegah Timbulnya Mitos Baru

MITOS PRIBUMI MALAS
Oleh: S.H. Alatas
Penerjemah: Akhmad Rofi’ie
Penerbit: LP3ES, Jakarta, 1988, 358 halaman
Peresensi: Selo Soemardjan
http://majalah.tempointeraktif.com/

ALATAS, bekas guru besar sosiologi di Universitas Nasional Singapura, telah menulis sejumlah buku dan artikel yang terbit di berbagai majalah. Yang terkenal adalah bukunya The Sociology of Corruption, 1968. Karena buku itu, Alatas pernah diundang oleh Emil Salim, Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup, untuk ikut serta dalam diskusi mengenai korupsi sebagai gejala sosial dan cara memberantasnya. Continue reading “Mencegah Timbulnya Mitos Baru”

Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal

Iwan Komindo *)
http://pt-br.facebook.com/topic.php?uid=224410308710&topic=14037

Bagi kami kau tak hilang tanpa bekas/Hari ini tumbuh dari masamu/Tangan kami yang neneruskan/Kerja agung jauh hidupmu/Kami tancapkan kata mulia/Hidup penuh harapan/Suluh dinyalakan dalam malammu/Kami yang meneruskan sebagai pelanjut angkatan.

Syair tersebut terukir di makam Ali Archam di Digul Atas, tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia . Lokasinya terletak di tepi Sungai Digul Hilir, Tanah Papua bagian Selatan. Continue reading “Nyanyian Untuk Nasionalis Generasi Awal”

Pram, Marxisme-Komunisme dan Inkonsistensi

Hary B Kori’un
Riau Pos, 17 Sep 2006

JAKARTA, April 1999. Lelaki tua itu masuk ke dalam ruangan, duduk di antara pembicara yang lain dan sejenak kemudian langsung berbicara. Meski keriput terlihat di sana-sini, namun dia masih kelihatan kokoh dan berotot. Dia memang terlambat, moderator sudah lebih dulu membuka acara diskusi itu sebelum lelaki itu sampai. Kemudian sang moderator, Hilmar Farid, memberi kesempatan kepada lelaki itu untuk menyampaikan pikiran-pikirannya. Continue reading “Pram, Marxisme-Komunisme dan Inkonsistensi”

Perempuan Panggilan

Evi Idawati
suarakarya-online.com

Malam menusuk. Sunyi menggelayut. Titik cahaya dari gurun awan memanggil, mendesah dan menggigil. Mendengar suara dari hati yang menekuk lidah. Yang selalu berdetak dengan satu kata. Air yang mengalir dari ujung mata, persembahan bagi kedamaian dan gairah untuk mencintainya. Seperti rasa nyaman perempuan dalam pelukan suami setelah bisa rindu menggigit tulangnya. Seakan bayi yang lelap dalam buaian bunda. Perasaan itulah yang selalu membuatku berputar dan berputar. Aku terbang! Membelah langit! Menyusur malam! Membelai bulan! Continue reading “Perempuan Panggilan”

Kucing Keempat

Faisal Syahreza
http://www.lampungpost.com/

“AKU mempunyai sebuah impian untuk kota ini. Impian sederhana tentang sebuah rumah bagi seluruh kucing yang ada.” Lirih hatinya.

Anak itu pun berteduh di bawah atap bangunan pertokoan. Sementara jalanan masih mengambang dengan rintik hujan. Setiap hari memang tak menentu di kota, siang panas untuk kemudian sorenya diguyur hujan. Gerimis berlapis-lapis mengepung jalanan. Orang-orang tampak kedinginan, bersembunyi memelukan badannya sendiri. Suara mulai redam memasuki liris hujan. Continue reading “Kucing Keempat”

Bahasa »