Sajak-Sajak Imron Tohari

Tempayan Retak

dunia itu rahasia, dari ujung ke ujung
fikiran mencari jawab
:hanya satu perkara
segala kuasa adanya kehendak
tidakkah indah cinta tanpa tercipta benci?
tidakkah abadi bahagia tanpa ada duka?,di semesta
kekuatan rohani ladang pertarungan
baik buruk tarik menarik
rimbun fikiran
berkata-kata cinta
benci kangen
duka suka
memetakan tangis?
tidak penuh air pada tempayan retak
segala ingin segala hijab

masihkah terfikir retak tempayan?

10 January 2011

Mengumpulkan Repihan Mata

Tahun demi tahun bertanya tentang nasib
Mengumpul repihan mata
Kuayun-ayun sunyi
Kenapa kehidupan tidak hanya ada jalan suka?
Lalu kukata pada jiwa yang letih
Jangan peduli matahari yang berlagak jadi malaikat
Dan angin yang suka menyalib ketakberdayaan
Tapi dengar
Suara burung malam yang berkericau

9 Januari 2011

Bagaimana Mungkin Berhenti Mencintaimu

dinda kenapa mesti bersedih
di tengah kalut
ribuan ketakutan berebut
wajah pasi
alam sekeliling bisu batu
jatuh selembar daun
dalam detak takdir
pikiran bergelayut
di atas pembaringan tiada airmata mampu
hentikan waktu
kesendirian, ajak kaki melangkah
meski perasaan belum yakin merentas,dinda

lihat di alur sungai itu
tidak selamanya air bening
tapi dikeruh air, pun
tidak menjadikan ikan berhenti berenang

jadi tertawalah
tertawailah gundah
dan aku akan senantiasa menemanimu
menjadikan perjalanan ini partitur abadi

1 January 2011

Malam Tahun Baru

langit berubah sawah petasan berbatang lidi
malam yang latah, mencari hura
adam hawa campur baur lupa dirinya sendiri

31 December 2010

Bintang Jatuh Di Altar Herodes

Petang berjalan lambat
Langit masih biru
Di tanah basah jejak tertinggal
Cemara tua layuk di bukit

25.12.10

Berburu Bahagia Mencari Jalan Pulang

Di samudera melayar sampan mengambil keberuntungan
angin kemarau ingatkan rumah anak istri menampi air mata
Bayangan kehidupan yang susah membuat di hati rekah bunga
ombak bergulung pun kini tiada menciptakan rasa ketakutan

Mencari jalan pulang kenapa mesti dihadapkan suka dan duka
menatap bentangan panjang kehidupan serasa bertaruh di meja judi
berhitung akan nasib hingga lupakan petang telah lewati pagi

Kesedihan dan kebahagiaan silih berganti saling berkejaran
seperti pergantian hari datang dan pergi layaknya tetamu
Mengarungi samudera berburu bahagia jangan lupa arah tuju
di dunia, kilau mutiara tidak menjadikan tak berhingga keabadian

24 December 2010