Tour De Borneo (1) Sebuah Esai Perjalanan Budaya

Gerson Poyk
http://www.suarakarya-online.com/

Pesawat Garuda membelah langit Laut Pulau Jawa pada tanggal 10 April 2006. Dalam tempo satu jam pesawat mendarat di Banjarmasin. Saya dan penyair- pelukis Tariganu disambut oleh penyair-pelukis dan teaterawan Ajim Ariaji, ketua panitia temu teater seluruh Kalimantan.

Dalam perjalanan dari bandara menuju ke hotel, kepada kedua seniman saya bercerita bahwa ini untuk ketiga kalinya saya menginjak Banjarmasin. Pertama di masa Bung Karno. Waktu itu saya naik kereta ‘ular jawa’ dari Jakarta ke Surabaya. Batapa rakusnya ular besi itu menelan penumpang sehingga sesaknya luar biasa. Dalam tempo 24 jam di perut kereta saya menghibur telinga dengan tape recorder sehingga hidung jadi lupa akan bau keringat Jawa. turun dari kereta di Pasar Turi sebuah becak terseok-seok membawa ini badan yang lelah ke pelabuhan Tanjung Perak. Sebuah kapal tua yang kotor karatan penuh sayuran memberi harga tanpa tiket. Tidur diatas timbunan kubis di depan dapur membuat saya mendapat makanan ekstra dari koki. Laut dan cuaca sangat bersahabat tetapi kapal merayap seperti keong diatas permukaan air. Dua malam lamanya dilaut baru kapal tersebut berlabuh di dermaga Barito.

Waktu itu Banjarmasin adalah mousike (nyanyian batin), adalah poetry, adalah enerji spiritual masa muda yang belum semuanya dibawa kepermukaan berupa karya seni berupa poem (sajak, puisi), prosa dan esei. Memang di majalah Mimbar Indonesia tahun lima puluhan sajak-sajak saya selalu dimuat tetapi penulisan prosa belum begitu gencar. Begitu juga penyair-penyair dari Banjarmasin. Namun saya beruntung mengenal mereka lewat majalah tersebut. Penyair Yustan Azidin dan Hijaz Yamani selalu menggetarkan jiwa lewat sajak-sajak mereka yang dimuat di majalah intelekual Mimbar Indonesia itu. Nama-nama lain yang terkenal adalah Jok Mentaya dan Anang Adriansyah. kan tetapi Ketika itu saya tak mau mengganggu kesibukan mereka karena saya lebih suka menjadi seorang pengembara sunyi yang mengalir seperti sungai Barito. Setelah lelah berjalan kaki keliling kota saya beristirahat di sebuah penginapan kayu di bibir Barito. (kini tempat itu telah berdiri sebuah hotel berbintang empat). Malam-malam saya mengembara di bibir Barito lalu menyewa sebuah sampan kecil. Paruh waktu pertama waktu pendayungan saya banyak bertanya kepada pendayung pemilik sampan. kemudian hening seribu senyap yang ingin menangkap bulan yang bergerak-gerak dipermukaan Barito. Oh, tiba-tiba dari perkampungan di sebelah sana ada gelombang suara yang mengusir seseorang yang dianggap the other karena sungai Barito berhadapan dengan poetry, dengan getaran intuisi kreatif yang merambah ke segala bidang kehidupan, segala bidang kebudayaan, sebutlah budaya spiritual seperti sastra, sains, religi, budaya material seperti pelabuhan (dermaga), gedung-gedung, pabrik, dst, budaya personal seperti, presiden, menteri, profesor, dokter, klerik, pelacur, koruptor, jendral dst. Barito berhadapan dengan nyanyian batin yang tersembunyi, kerahasiaan tenaga spiritual yang mendorong pembentukan budaya, misalnya dalam hubungan budaya personal sastrawan, ia berpotensi membentuk karya seni (prosa, puisi, teater dst).

Dalam perjalanan dari bandara ke kota Banjarmasin (25 km) saya bercerita bahwa suatu jari saya bertemu seorang encim. Beliau memandang saya dari kepala hingga kaki lalu berkata, “Di masa saya masih Sekolah Dasar, saya banyak membaca tulisan Bapak di majalah Si Kuncung di antaranya berjudul Garpu Telanjang Di Dunia, di sungai Barito.” Oh, saya memperhatikan rambut si encim yang mulai memutih. Oh, sang waktu, oh usia manusia, begitulah kesan saya, begitulah gentar ekstensial terhadap kefanaan tetapi ada kebahagiaan karena berlian kecil berupa cerpen mini di majalah Si Kuncung telah di pungut oleh si gadis kecil yang bertemu saya di masa rambut ubannya.

Memang waktu itu saya berdayung sampai pagi, kemudian sampan merapat ke sampan lain. Antara sampan saya dan sampan warung ada sampan lain sehingga ketika mengambil kue, orang harus memakai garpu terpanjang di dunia. kini garpu terpanjang itu masih ada, tak berubah, masih kasar dan di ujungnya hanya mencuat sebuah paku.

Kunjungan ke dua adalah atas undangan KKO. Pesawatnya Dakota. Walaupun tua tetapi saya tak gentar karena menurut literatur mengenai aviation, walaupun salah satu mesin atau sayapnya bolong kena tembakan namun masih bisa terbang dan mendarat dengan mulus. Saya agak lupa menginap dimana atau untuk acara apa. Mungkin untuk acara pelantikan. Barangkali pergi pulang dalam sehari. Yang saya masih ingat adalah ketika pulang ke Jakarta. Di atas pesawat ada Jendral (Marinir) Hartono, dua atau tiga anggota kowal (Korps Wanita Anggota Laut) beberapa pria marinir dan dua atau tiga wartawan. Di atas pesawat (tepatnya dalam pesawat), semuanya jadi manusia biasa, tidak angker dipihak marinir. malah sang jenderal tertawa-tawa ketika melihat seorang prajurit yang tidur terlentang. Seseorang membakar rokoknya dan rokoknya itu di tusukan ke roti lalu roti itu di letakkan keatas ritsleting celananya. Melihat asap mengepul semua tertawa gembira, termasuk para kowal yang duduk menjepit badan saya yang kedinginan karena hanya memakai baju tangan pendek. Tidak lama kemudian Jenderal (Marinir) itu dipindahkan ke Korea Utara sebagai duta besar dan meninggal mendadak.. itulah kenangan perkunjungan kedua ke Banjarmasin.

Perkunjungan ketiga bersama fotografer Don Hasman. Dia membawa kamera canggih sedangkan saya hanya sebuah kamera ‘krupuk plastik’. Tiba di Banjarmasin, saya mengajak Don Hasman mampir sebentar ke Harian Banjarmasin Post sekadar untuk memberitahu rekan-rekan wartawan bahwa kami sedang melakukan perjalanan jurnalistik ke kota intan Martapura. Karena pemimpin umum dan pendiri Banjarmasin Post sedang berada di rumahnya di seberang jalan, kami mampir kesana untuk duduk dan beberapa saat selama (almarhum) Jok Mentaya beristirahat siang. Muncul ke kamar tamu, duduk bersama kami, beliau berkata bahwa waktu penyerahan Trophy Adinegoro untuk saya di Hotel Indonesia beliau ada di sana. Lalu ia menawarkan kami untuk menjadi tamunya selama berada (bekerja) di Kalimantan Selatan. Ia meminjamkan sebuah mobil, menginap atas tanggungannya di sebuah hotel dan mengajak kami ke sebuah restoran enak dan berkata kepada pemiliknya bahwa kami adalh tamu beliau. Saya berkata kepada pemilik restoran agar di sediakan bir. Si ‘Koh’ pemilik restoran berkata sambil menoleh ketetangga duduk kami, “Saya tuang dulu ke cerek, ya, Pak!” lalu bir dalam cerek itu dituang pelan-pelan ke gelas agar tidak berbusa. Hidup pun berjalan mulus dalam udara fundamentalis di sebuah restoran di negeri ini. Hari itu saya lega karena Don Hasman mengatakan bahwa ia pernah membawa (menyetir) mobil dari Eropa melalui Turki dan seterusnya. ***