Catatan Kecil tentang Bali

Judul: Basa Basi Bali.
Penulis: Gde Aryantha Soetama
Penerbit: Arti Fondation, 2002
Tebal: ix + 233 halaman
Peresensi: IGK Tribana
http://www.balipost.co.id/

BUKU ini boleh dikatakan catatan-catatan fenomena yang ada di Bali setelah berkenalan dengan dunia luar. Gde Aryantha Soetama mencoba menyuguhkan tentang Bali dari “sisi dalam” berdasarkan fakta, kesan, pujian atau keluhan orang Bali sendiri di tanah kelahirannya. Penulis buku seolah sebagai juru bicara atau juru berita kepada masyarakat pembacanya — terutama masyarakat Bali — tentang kondisi Bali yang sudah berubah dari sisi fisik maupun batin. Penulis seolah mengajak pembaca mencermati perubahan yang ada di pulau ini.

Materi buku ini adalah kumpulan esai yang pernah dimuat di salah satu media cetak yang terbit di Bali. Dalam buku ini terdapat 101 judul tulisan. Sebagai esai jurnalistik, buku ini enak dibaca. Tidak dapat diragukan lagi bahwa penulisnya seorang pencatat fenomena plus jurnalis yang jujur dan berwawasan masa depan tentang tanah kelahirannya. Betapa tidak, apa yang tersaji dalam buku ini benar-benar suatu gejala bahwa Bali sedang/akan berubah — tentu ada perubahan yang negatif. Kalau ternyata di depan mata sendiri telah terjadi perilaku yang menghancurkan Bali, apakah orang akan berpangku tangan? Itulah mungkin yang terlintas dalam pikiran pembaca setelah membaca buku ini. Masyarakat Bali yang mencintai tanah kelahirannya akan mencermati apa yang tersaji dalam buku ini hingga menjadi ngeh akan tanah kelahiran.

Dari sisi judul, terasa materi buku ini hanya omongan pengisi waktu luang. Basa-basi sesungguhnya cuma sepotong ungkapan rasa, ala kadarnya, tak terlalu penting untuk diperhatikan. Tampaknya inilah sedikit kelemahan buku ini dari sisi judul. Sebab, basa-basi mengingatkan orang hanya sekadar sopan santun, salah satu ciri keramahan orang Bali. Bagi orang yang belum menjadikan membaca sebagai bagian dari hidupnya, tidak akan tertarik menjamah buku ini. Memang menurut si penulis, orang Bali umumnya belum menjadikan kegiatan baca-tulis sebagai budaya. Budayanya masih budaya lisan. Kalau di suatu tempat terjadi gejolak masalah adat, tiada lain karena belum adanya aturan secara tertulis yang bisa dijadikan pedoman untuk dibaca. Akibatnya, penyelesaiannya hanya berdasarkan selera seseorang atau kelompok yang berkepentingan. Oleh karena itu tidak mustahil di desa adat ada mayat yang tidak boleh dikubur atau diaben.

Sekali lagi, buku ini layak dibaca oleh siapa saja, termasuk pelajar — terutama di SMU — yang mengadakan penelitian sederhana tentang masyarakat Bali untuk mata pelajaran sosiologi. Tidak berlebihan kalau materi dalam buku ini dapat dijadikan sumber. Mengapa? Untuk mengadakan penelitian lapangan tampaknya dibutuhkan tenaga dan biaya yang cukup lumayan. Atau, kalau ingin mengetahui kondisi masyarakat Bali, bacalah buku ini. Materi-materi di dalam buku ini bisa juga dijadikan bahan diskusi di kelas, apalagi dalam dunia pendidikan kita sekarang ingin mengangkat budaya lokal yang aktual masa kini.

Diawali dengan judul “Aceh = Bali?”, penulis seolah membuka mata masyarakat Bali bahwa Bali sudah diperdaya oleh orang luar demi kepentingan sesaat. Tentu marahnya masyarakat Bali tidak harus seperti sebagian masyarakat Aceh dengan mengangkat senjata yang dikenal dengan sebutan GAM. Mungkin kerugian masyarakat Aceh sebatas kekayaan sumber alam. Sedangkan kerugian bagi masyarakat Bali tampaknya lebih besar lagi. Kondisi Bali yang “carut marut” ini tentu akibat kebijakan orang pusat yang mengeksploitasi Bali secara berlebihan. Seperti yang terlihat sekarang ini, berapa keuntungan yang didapat masyarakat Bali dibandingkan pengorbanannya?

Tentang carut marutnya Bali seperti sekarang ini tentu tidak sepenuhnya akibat orang luar. Orang (Bali) yang silau terhadap uanglah sebagai penyebabnya. Banyak orang Bali menjadi “pelacur”, tanah-tanah yang tidak semestinya dijual diserahkan kepada pemilik uang atau orang yang mengiming-ngimingi kekayaan materi. Hutan yang memberi perlindungan sekaligus kemakmuran juga dikorbankan demi uang. Ketika investor mengincar tanah-tanah, janjinya akan memberi lapangan kerja kepada penduduk lokal. Apa yang terjadi setelah mereka beroperasi? Pekerja lokal didepak dengan alasan pertimbangan mutu SDM, walaupun sedikit ada benarnya.

Bali, selain sebagai wisata budaya ternyata juga dijadikan “pulau selingkuh” (hal. 88). Bagi orang Bali, tentu bersifat akomodatif terhadap pendatang yang mengaku sebagai wisatawan. Namun, apa yang dilakukan di Bali? Eh, ternyata mereka — orang asing dan orang Indonesia — di Bali melakukan perbuatan selingkuh yang sesungguhnya. Walaupun dalam buku ini memakai nama yang bukan sebenarnya, tentu hal ini bukanlah mengada-ada bagi seorang penulis yang bernama Gde Aryantha Soethama. Semuanya berdasarkan fakta.

Seni bagi orang Bali adalah bagian dari kehidupan bermasyarakat. Dengan demikian, persembahan seni itu sesungguhnya berdasarkan konsep ngayah — kerja tanpa imbalan. Apa yang terjadi sekarang? Ternyata jiwa ngayah sudah bergeser kepada kerja yang semata-mata karena motivasi uang. Inilah yang dimaksud dengan pergeseran nilai budaya — segala sesuatunya dinilai dengan uang. Memang belum sepenuhnya bergeser, namun adanya fenomena ini bukanlah rahasia lagi.

Apakah kebetulan atau tidak, ternyata buku ini diakhiri dengan materi tulisan yang berjudul “Duenang Sareng” — sikap merendahkan diri. Inilah rasa kekerabatan orang Bali yang paling kental. Pembaca diajak memikirkan, selanjutnya bertindak dengan ringan tangan kalau ada fenomena yang mengarah kepada kerugian Bali. Bagi si penulis buku, ungkapan duenang sareng sebatas kegiatan (upacara) adat. Mestinya falsafah ini juga untuk menolong masalah kemanusiaan maupun pendidikan yang meningkatkan martabat masyarakat Bali.