Simpul-simpul Peradaban Air Bali

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

HINGGA akhir dasawarsa 1970-an, sebagian lebih orang Bali pastilah masih menjadikan air sebagai satu simpul komunikasi, selain bale banjar, pasar, dan sejumlah simpul lainnya. Toh di antara begitu banyak simpul-simpul manusia Bali itu, air tetaplah menjadi simpul komunikasi paling luas. Tidak sebatas sebagai simpul komunikasi sosial, air juga dijadikan simpul komunikasi spiritual. Akibat ini: tiada terelakkan bila air lantas menjadi simpul peradaban Bali yang berpengaruh besar, luas.

Di sumber-sumber mata air, di pusat-pusat aliran-aliran air, seperti di sungai, di pancuran di campuhan, itulah manusia Bali berkomunikasi sosial dengan sesama Bali. Kayeh, mengambil air, karena itu, pada masa itu bukanlah sekadar membawa air dari pusat aliran ke rumah, tapi juga adalah jalinan komunikasi berkeakraban kemanusiaan. Di air itu ketegangan raga maupun kejiwaan dilepas saat kayeh (mengambil air ataupun mandi), dibagi dengan sesama dalam silang komunikasi penuh canda, gurau, bisa saja lebih serius tinimbang debat politisi di ruang sidang Dewan. Di air itu keluh dilepas, di air itu beban dibagi, atau juga rahasia diungkap, kontrol sosial ditebar, dan kerap penuh jenaka, sekaligus mengalir begitu saja, seperti air.

Itu sangat boleh jadi tradisi yang tidak semata-mata ada di Bali, atau bahkan mungkin pula tidak hanya di tanah nusantara. Itu besar kemungkinan kecenderungan umum peradaban dunia manusia agraris, yang perlahan menyusut manakala banjir peradaban industri mulai menyundul-nyundul. Naluri alamiah paling purba manusia mungkin adalah mencari pusat-pusat air itu, tak terkecuali manusia Barat maupun Timur. Sejumlah kota dunia mengisyaratkan jelas jejak kehidupan peradaban air sebagai pusat orientasi manusia, pada awalnya. Sebut misalnya, London di tepi Sungai Thames, atau Cairo yang membentangdi delta-delta Sungai Nil.

Bukankah Tokyo yang kini menjadi satu pusat denyut peradaban dunia paling berpengaruh luas di dunia juga berada di tepian Sungai Sumida? Pertimbangan apa pula bisa dibayangkan kini manakala menyaksikan kenyataan kota New York sebagai kota paling berpengaruh baik sosial, ekonomi, maupun kultural, dan juga gaya hidup, informasi bagi manusia modern, justru berada di seputar muara Singai Hudson –sungai yang kelak selain menjadi urat nadi denyut ekonomi dunia, juga menumbuhkan ”aliran” The Hudson School dalam ranah seni lukis?

Tradisi peradaban di sepanjang alir Sungai Sindu, Sungai Gangga, yang membentang dari Tibet hingga tanah India, dengan hulu Pegunungan Himalaya, nun ribuan tahun lampau sampai kini, bukankah menunjukkan kian pasti bagaimana manusia merespons menuju pusat air untuk membangun hidup sekaligus peradabannya? Dari alir air itulah kearifan pandangan hidup tradisi Veda kemudian disepakati kalangan Indolog menebar, mengalir ke seantero jagat. Alir itu terus-menerus melanjut, tiada terputus, hingga melahirkan keyakinan visioner Rsi Walmiki di tanah India, maupun Mpu Yogiswara di tanah nusantara belakangan, akan keberlangsungan tiada putus mahakawya Ramayana di relung-relung jiwa manusia sebumi. Sepanjang Pegunungan Himalaya tegak kukuh berdiri, selama Ibu Sungai Gangga tiada kunjung kering mengalirkan kesejukan nan jernih bening air, diyakini Ramayana terus pula hidup, dibaca orang, dijadikan sumber inspirasi kearifan nilai hidup oleh manusia sebumi.

Air, memang, tidak semata sebagai sumber kehidupan sejak manusia berada dalam kandungan gua garba sang ibu, tapi kini juga berbiak sebagai sumber pengetahuan, sampai puluhan cecabang ilmu yang berhulu pada ilmu air (hydrology). Mulai dari ilmu arus permukaan air (potamology) sampai ilmu perilaku air (hydraulic), dari ilmu daya air (hydrodinamics) hingga ilmu pelukisan air (hydrography), ilmu gerak air (hydrokinematics), ilmu keseimbangan air (hydrostatics), dll. Kearifan kesadaran terhadap keluasan ”ilmu air” itulah kiranya dapat ditangkap manakala prasasti-prasasti Bali Kuna menyuratkan perihal bahwa (desa-desa) di wingkang ranu (di sekitar tepian danau), mendapat perlakuan istimewa sang raja. Jejak peradaban Bali Kuna baik di wingkang ranu Batur maupun wingkang ranu Tamblingan justru menunjukkan keunggulan pencapaian lahiriah maupun batiniah, dengan teknologi yang sudah berbasis besi yang dikerjakan oleh para teknolog pande wesi, pandai besi. Dari manakah bijih-bijih besi itu didatangkan ke Bali? Adakah Bali masa itu justru telah menghasilkan bijih-bijih besi sendiri, atau telah mengimpor dari kerajaan lain di luar Bali? Bagaimana simpul peradaban air di wingkang ranu sebagai pusat air Bali itu mesti diapresiasi, dimaknai kini?

Kearifan menuju pusat air sebagai pusat kota memang tidak hanya dimiliki manusia-manusia lampau Tokyo, Cairo, hingga New York. Nun di masa Bali Kuna, Balingkang yang keberadaannya dikelilingi pebukitan cintamani (Kintamani), sekaligus juga di tepian Danau Batur, pernah dipilih sebagai pusat Kerajaan Bali yang tanggung, jauh sebelum para Arya Majapahit berkekuatan pasukan tempur menggempur ”menjarah” Bali. Kerajaan Bedahulu pun diperkirakan berada di lokasi yang tak jauh dari pusat air Tirta Empul dan alir Sungai Petanu. Ketika kemudian penguasa berdarah Majapahit memindahkan kerajaan Bali dari Samplangan ke Gelgel, adakah ini sudah kebetulan belaka ketika akhirnya secara geografis Gelgel pun berdekatan dengan pesisir laut dan Tukad Unda. Lalu, bergeser lagi ke Smarapura yang di sisi timurnya dibatasi aliran bening besar sungai terlebar di Bali, Tukad Unda itu.

Dari sini dapat diduga kuat bukan suatu kebetulanlah manakala selain gunung atau bukit, batas desa-desa di Bali juga didasarkan pada sungai yang mengalirkan air, di sisi barat dan atau sisi timur desa. Historiografi tradisi babad di Bali menunjukkan, setelah Rsi Markandeya dengan para pengikutnya sukses rahayu membabat hutan di kaki Tolangkir, lantas mendem pancadatu di Basukian sebagai akar karahayuan jagat Bali Pulina, maka sistem dan infrastruktur manajemen air yang dinamakan kasuwakan itulah kemudian dibangun. Dari kasuwakan ini lantas dikenal subak, yang menjadi simpul utama urat nadi peradaban air Bali. lewat subak dialirkan kearifan hidup, bagaimana sepatutnya manusia memperlakukan air dari pusat hulunya di danau, di tengah tubuhnya di sungai/telabah, di beji, hingga di hilir kakinya di samudra, agar terus mengalir berotasi memberi basuki, keselamatan tiada akhir, bukan bencana tiada berkesudahan. Dengan kondisi geografis yang dibelah barisan gunung di tengah-tengah (dari ujung barat sampai ujung timur), perbukitan di bagian selatan, dan dataran rendah di utara dan selatan, menjadilah Bali Pulina berdanau di tengah-tengah pula. Mulai dari Danau Batur (15,9 km2), Buyan (3,9 km2), Beratan (3,8 km2), hingga Tamblingan (1,3 km2) –belakangan ”dibuat-buat” pula penuh politis 100 ha waduk Palasari. Ini rahmat karunia sempurna, sekaligus juga tantangan yang mempersyaratkan mutlak: siapa pun pemimpin Bali mesti berkearifan berkepintaran ”ilmu air subak” berkelanjutan dalam menata dan mengelola ruang, distribusi ekonomi, sampai mengukuhkan peradaban rohani Bali. Tanpa kearifan kesadaran ”ilmu air” itu maka Bali, seperti divisikan Rsi Markandeya, bukannya menuai basuki (selamat), melainkan bakal bersimbah baya (bencana).