Membicarakan Trisula Muda Penyair Lampung

Teguh Prasetyo
Lampung Post, 30 Sep 2007

“PUISI merupakan tempat serta upaya membuat sesuatu yang tampak sia-sia menjadi berharga.”

Kalimat yang dilontarkan Goenawan Mohamad mungkin bagi masyarakat awam hanyalah sebatas kalimat lalu saja. Namun, ternyata bagi mereka yang menjadi penyair, bisa jadi kalimat ini menjadi semacam motivator untuk terus berbuat dan berkarya dalam kerja-kerja kreatifnya guna melahirkan karya sebagai sebuah perwujudan eksistensi kepenyairannya. Continue reading “Membicarakan Trisula Muda Penyair Lampung”

Pelestarian Seni Tradisi,Menjaga Kesakralan atau Kreasi?

Mustaan
Lampung Post, 22 Juli 2007

SAKRALNYA seni tradisi daerah menjadi potensi tersendiri dalam mendukung pengembangan. Karena seni bukan hanya sekadar prestise suatu daerah, melainkan ada tradisi-tradisi yang harus dijaga keasliannya. Dari berbagai ragam seni, tentunya dibarengi dengan legenda atau juga ritual tradisi yang harus tetap dijalankan. Walaupun sebagian masyarakat mengartikan lain terhadap ritual tradisi sebagai hal yang bertentangan dengan akidah, ritual tersebut harus tetap dijalankan, Continue reading “Pelestarian Seni Tradisi,Menjaga Kesakralan atau Kreasi?”

Menggali Nilai Baru Budaya Lokal

Oyos Saroso H.N.*
Lampung Post, 5 Juni 2005

KETIKA Dewan Kenian Lampung (DKL) menggelar lomba cipta puisi tingkat nasional untuk memperebutkan penghargaan Krakatau Award, beberapa waktu lalu, ratusan puisi dari berbagai penjuru Tanah Air berhasil dikumpulkan panitia. Yang menakjubkan adalah, banyak penyair yang menempelkan kata dari “berbau” Lampung dalam puisi-puisinya. Lokalitas tiba-tiba menjadi penting bagi penyair ketika panitia lomba menentukan tema kelokalan dalam lomba penulisan puisi. Continue reading “Menggali Nilai Baru Budaya Lokal”

Surat kepada Seorang Teman yang Mencemooh Indonesia

Goenawan Mohamad
majalah.tempointeraktif.com

Indonesia tak akan pernah lahir baru dalam satu kuartal. Jika Bung berpikir bahwa sebuah perubahan yang besar akan terjadi dalam waktu 100 hari, inilah yang harus saya bisikkan kepada Bung: angka “100” di sini mirip dengan “1001 malam” atau “langit ketujuh”: bilangan yang lebih bersifat retoris ketimbang matematis. Kita tak dapat menggunakannya sebagai mistar pengukur. Kita hanya dapat memperlakukannya sebagai pembangkit imajinasi. Continue reading “Surat kepada Seorang Teman yang Mencemooh Indonesia”

Bahasa ยป