Aceh, PKA, dan UU Hamidy

Herman Rn
http://www.kompasiana.com/pelangi-rn

Kalau ada yang menulis tentang Aceh hingga lebih 50 buah buku, ia adalah UU Hamidy. Lelaki itu lahir Rantau Kuantan, Riau, 17 November 1943. Kendati bukan kelahiran Aceh, ia tahu benar seluk beluk Aceh, terutama bidang sastranya dan terkhusus lagi tentang hikayat-hikayat Aceh. Karena itu, tak salah jika salah seorang ulama sekaligus sastrawan Aceh, Prof. Ali Hasjmy, menggelari Hamidy sebagai “Orang Aceh yang lahir di Pekanbaru. Menariknya lagi, Hamidy mengawali tulisannya dengan Aceh dan tulisan terakhirnya pun tentang Aceh. Continue reading “Aceh, PKA, dan UU Hamidy”

Mencari Warna Setelah Tsunami

Utami Widowati
http://majalah.tempointeraktif.com/

“Tanah Aceh, nyeri kami nyeri daging dan tulang kami nyeri darah dan tangis kami nyeri gigil nyeri perih…”

INILAH sepenggal puisi Fikar W. Eda, penyair dan wartawan koran Serambi Indonesia di Jakarta, yang dimuat dalam buku Maha Duka Aceh. Antologi puisi dari Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jakarta, ini terbit pada Januari 2005, hanya sebulan setelah bencana. Continue reading “Mencari Warna Setelah Tsunami”

Berkalam dan Bermadah

Amarzan Loebis
majalah.tempointeraktif.com

MASA-masa remaja dan belia…di Riau adalah bayang-bayang di keremangan…. Demikian kalimat berlagu Tenas Effendy di depan Majelis Konvokesyen ke-35, Dewan Canselor Tun Abdul Razak di Bangi, Selangor Darul Ehsan, Malaysia, Sabtu 17 September lalu. Siang itu “Pak Tenas”-demikian ia biasa disebut-menerima Anugerah Kehormatan Doktor Persuratan dari Universiti Kebangsaan, Malaysia. Continue reading “Berkalam dan Bermadah”

Teks

Asarpin

Teks itu kata yang terdiri dari empat huruf. Sangat singkat. Walau demikian, kata ini kerapkali disalahmengerti atau sering membingungkan. Kalau tak membuka kamus maka sulit untuk memahami dengan baik apa yang disebut teks. Kalau ada seorang penulis mengatakan kembali kepada teks, atau jangan terlampau taat pada teks. Apa gerangan yang dimaksud? Continue reading “Teks”

Bahasa »