Pelajaran Tersenyum

Benny Arnas
http://www.lampungpost.com/

SEJATINYA, gadis itu hanya berteman dan bercakap dengan angin, dedaunan, belatung, dan tanah serta pepohonan yang mempersilakan air mengalir dan memercik darinya.
***

Apakah ia kara? Mana sang ayah, sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas keluarga, atas dirinya?

Apa? Ayah?

Ah, kini gadis kecil tak peduli lagi. Sama dengan tak mau tahu bahwa setiap anak sejatinya memiliki ayah. Ya, bunda adalah orang tuanya. Bunda berjiwa kembar dalam badan tunggal. Ya ayah, ya bunda, ada dalam diri wanita yang melahirkannya itu.
***

“Kerjakan nomor 1 sampai 30!” Bu Alis memberi tugas setelah seharian menyetrap beberapa murid yang tidak mengerjakan tugas.

Dari arah kursi belakang, seorang gadis kecil mengacungkan tangan.

“Iya,” ujar Bu Alis, “Ada yang ingin kau tanyakan, Pik.”

“Ya, Bu.”

Bu Alis tersenyum masam sambil mendongak ke arah jam yang bertengger di dinding, satu meter di atas papan tulis. “Cepatlah, nanti telat juga kita pulang!”

Anak-anak lain bersungut-sungut. Takut kalau Bu Alis marah. Mereka tak ingin jadi korban setrapan seperti beberapa temannya yang berdiri—dengan sebelah kaki di depan kelas—sejak kelas dimulai, hingga kini hendak pulang.

“Mmm….”

“Cepatlah!” Bu Alis membentak.

“Mengapa… Ibu jarang sekali tersenyum?”

“Aaaah….!” Bu Alis mengibaskan tangannya. “Kukira apa yang ingin kau tanyakan tadi!” ujarnya gusar. “Hei, dengar kalian semua…!”

Anak-anak makin bersungut. Kedua tangan mereka sudah rapi terlipat di atas meja, dengan kepala setengah menunduk dan ekspresi wajah yang disopan-sopankan.

“Kalau anak-anak bengal macam kalian aku baik-baikkan, akan jadi apa negara ini? Makin ngelunjak kalian nanti. Tak ada hormat-hormatnya pada guru. Nanti juga tak hormat pada orang tua, orang yang lebih tua, dan pada siapa-siapa!”

Belum sempat Upik menganggapi, Bu Alis sudah berlalu. “Jangan lupa, les di tempat Ibu sore ini. Selamat siang!” repetnya sebelum menutup kelas.
***

“Pengidap kanker otak harus segera dioperasi. Obat-obatan yang diberikan tak lebih hanya sekedar penghilang rasa sakit. Apabila terus dibiarkan, ia bisa kehilangan ingatan masa lalunya. Ia juga bisa membuat dunianya sendiri.”

Wanita paruh baya itu menunduk saja. “Biarlah saya pulang dulu ke desa, Bu. Kumpul uang dahulu,” batinnya.
….

Dalam perjalanan pulang, seorang gadis enam tahun-an bertanya pada ibunya:

“Bunda, kok bu dokternya tak pernah tersenyum ya?”

“Hussh… tak baik menggunjing orang, Nak. Apalagi orang yang lebih tua.”

“Dia dan teman-temannya di rumah sakit itu juga jahat ya, Bunda?”

“Husssh…! Sudahlah!”

“Masak enggak mau ngobatin Upik.”

“Enggak cukup uangnya, Nak.”

“Katanya berobat dan sekolah tidak bayar, Bunda?”

“….”

“Awas, Bunda…!”

“Aaaakkkhhh…!”

“Bundaaa…!
***

Gadis kecil itu berlari dengan langkah lebar. Ujung kedua kakinya mengenjit-enjit serupa balerina. Ah, balerina. Terlalu tinggi kata itu. Gadis kecil itu tak paham apa itu balerina. Tinggalnya saja di desa. Terpencil. Yang ia tahu adalah hatinya benar-benar gembira hari ini. Sepanjang jalan ia semringah: tersenyum dengan sebenar senyum.

Dari mana kau, wahai peri kecil?

“Dari rumah Umi.”

Umi? Umi siapa?

“Umi. Ya Umi.”

Ibumu?

“Bukan! Ibuku namanya bukan Umi, tapi Jamilah.”

Ooo…

“Umi orangnya cantik. Usianya sama dengan Bu Alis.”

29?

“Entahlah. Pokoknya seumuran Bu Alis. Guru kami yang masih gadis!”
….

Gadis kecil itu berlari kecil lagi. Tetap berinjit-injit. Kali ini di hadapannya telah menghampar sawah setengah menguning. Pemandangan yang kurang disukai si gadis kecil. Menurutnya, kalau padi-padi itu tidak hijau lagi. Alamatnya sawah akan segera berisi lumpur dan tanah liat saja. Ah, tak elok dipandang! Gadis kecil itu tetap tidak mau menerima ketika suatu waktu seorang petani yang tiba-tiba saja peduli pada celotehannya berkata: “Tapi itu juga alamat bahwa kita akan panen. Banyak beras. Kau bisa makan hingga kenyang. O ya, dulu, ketika orang tuamu masih hidup, mereka juga senang bila padi-padi di sawah telah menguning. Ah, sayang kau masih sangat kecil waktu itu.”
***

“Nilaimu bagus-bagus, Nak.”

“Iya, Bunda.”

“Bunda juga sering tersenyum, ya?”

“Kok bertanya seperti itu, Sayang?”

“Kalau lihat Bunda, Upik jadi ingat Umi.”

“Umi mana?”

“Umi yang tinggal di pondok dekat hutan, Bunda.”

“Ooo di sana. Baru dibangun pondok ya?”

“Ada Umi di sana, Bunda.”

“Iya, tapi apa hubungannya dengan senyum Bunda?”

“Iya. Kalau liat Bunda, Upik ingat Umi.”

“Enggak kebalik?”

“?”

“Bukannya kalau lihat Umi, Upik jadi ingat Bunda?”

“Eh… ah… sama saja Bunda.”

“Ya sudah. Bunda menanak nasi dulu ya, Nak.”

“Iya bunda.”

“…”

Ah, andaikan Bunda sering di rumah.

Gadis kecil itu menekuri buku-buku pelajarannya. Walaupun baru kelas dua SD, ia tidak mau mengecewakan Bunda.

“Ranking berapa, Nak?”

“Dua puluh, Bunda.”

“Dari…?”

“Tiga dua, Bunda.”

Gadis kecil itu masih mengingat dengan baik bagian dialog dengan sang bunda beberapa bulan silam. Bundanya yang pergi subuh-pulang magrib sudah sangat capai bekerja sebagai pengangkut batu. Pernah ia menanyakan di mana gerangan sang bunda bekerja, tapi wanita paruh baya itu hanya tersenyum dengan mata sendunya. Gadis kecil itu tahu makna bahasa wajah orang yang melahirkannya itu: Sudahlah Nak, belajarlah yang rajin agar tidak jadi pengangkut batu seperti orang tuamu.
***

“Ada apa pula dengan dirimu, Nak?”

“…”

“Jangan diam, Nak.”

“…”

“Tak kaupikirkan betapa capainya Bunda mengais rezeki.”

“…”

“Masih kecil, tapi kau sudah bertingkah aneh-aneh saja!”

“Bu Alis tak pandai mengajar, Bunda.”

“Apa maksudmu, Nak? Jaga tuturmu! Dia gurumu. Ibunda Guru yang mulia. Tak ada yang elok serupa sang guru. Bila tak ada dia, maka tak ada sekolahan di kampung kelam ini, Nak.”

“Upik tak rehat sekolah Bunda. Hanya les saja tak mau dengan Bu Alis lagi. Upik les dengan Umi saja, Bunda.”

“?”

“Boleh, Bunda?”

“Umi lagi, Umi lagi. Siapa nian Umi itu, Nak?”

“Seumuran Bu Alis. Agak lebih muda dari Bunda-lah. Tapi… baik sekali.”

“Ah, Bunda tak mengerti, Nak.”

“Bundaaa…!”

“Hhh….”

“Ayolah kita ke sekolahnya Umi tu!”

“Umi tak punya sekolah, Bunda. Cuma pondok.”

“Pondok?”

“Iya.”

“Jadi, macam mana ia memberi pelajaran? Aduuh… Upikku Sayang, jangan ganjil-ganjillah bercerita!”

“Tapi… Upik bisa mengerti semua pelajaran kalau Umi yang mengajar.”

“Maksudmu, Nak?”

“Iya Bunda. Yang belum dipelajari, Upik juga bisa!”

“Ah, tak mungkin….”

Entah bagaimana caranya, akhirnya gadis kecil itu berhasil meyakinkan bundanya.
***

“Bagaimana bisa kau dapat ranking satu, Upikku Sayaaang…!”

“Ya, Upik belajar dengan Umi, Bunda.”

“Husssh! Kau bawa-bawa jualah Bu Alis tu. Ia juga berjasa, Sayang.”

“…”

“O ya, apa yang kau pelajari dari Umi, Nak?”

“Umi sering tersenyum, Bunda.”

“Maksud Bunda, seperti apa dia mengajarmu, Nak?”

“Dengan senyum, Bunda.”

“Aduuuh, Nak. Senyam-senyum, senyam-senyum. Macam mana kau ni, Upik. Ranking satu, tapi…”

“Iya, cuma dengan senyum, Bunda!”

“Pelajarannya?”

“Pelajaran tersenyum!”
***

Rumah Upik raib. Bunda juga tak lagi tampak. Entah, apakah ditelan kabut yang tumpah pagi tadi, atau apa… oooh, Upik tak mengerti. Gadis kecil itu meraung-raung. Baru ia sadari bahwa wajah Bunda mirip sekali dengan Umi. O tidak, wajah bunda benar-benar sama dengan wajah Umi.

Jadi? Ooohhh….

Maka, tergesa ia ke utara desa, ke hutan, ke pondok Umi.

Upik terpekur di tanah kosong itu. Tak ada lagi pondok itu. Apakah ada dalilnya bahwa rumah dan pondok pun dapat bersepakat untuk menghilang? Ah, Upik juga tak mengerti. Di sana, ia hanya mendapati sebuah foto kusam yang tergeletak di salah satu sisi kuburan: foto wanita paruh baya yang sedang tersenyum. Ia tercekat membaca sebuah nama yang terukir di sana, di nisan tua.
***

“Sekarang Upik di mana?”

“Di rumah sakit, Sayang!”

“Mana Bunda?”

“…”

“Mana Umi?”

Suster-suster muda itu terdiam.

“Kita panggil dokter saja, ya….”

“Kamu saja!”

“Kamu!”

“Aku takut nanti dia marah. Kamu tahu kan kalau dokter muda itu buasnya kayak harimau. Nyuruh kita tersenyum tapi dia sendiri tidak pernah tersenyum!”

“Ya sudah, panggil gih!”

“…”

“Mana Umi…?”

“…”

“Bu… bu dokter, anak ini sudah sadar. Dia menyebut dirinya Upik, Bu!”

“Mana Bunda…?”

“Tenang ya Sayang, di sini ada bu dokter yang akan menemanimu.”

“Mana Umi….?”

“Itu hanya khayalanmu saja, Nak. Kau sekarang di rumah sakit. Istirahatlah, ya.”

“Mana Bunda….?”

“…”

“Bu dokter, gimana ini?”

Setelah kembali berusaha menenangkan si pasien, dokter itu memperkenalkan diri. Dokter Alis. Entah, apa maksudnya mengutarakan hal yang tidak penting itu. Dokter itu lalu tersenyum. Seperti menyeringai. Ada taring di dekat gerahamnya.

Gadis kecil tercekat. Nama yang baru saja ia dengar seolah mengeluarkan tangan-tangan kekar dan berkuku tajam yang tak tampak, yang mencekiknya.

Upik meninggal dunia. Ada senyum yang melengkung di wajahnya.
***

“Meninggalnya gadis kecil itu karena terlalu lama bertahan hidup hanya dengan makanan yang tidak jelas asupan gizinya.”

“Tapi Bu, bukankah ia selama ini bisa bertahan hingga lima tahun dengan makanan seperti itu?”

“Tak tahukah kalian kalau cacing memiliki kandungan protein yang mengalahkan ikan?”

“Tidakkah ada penyebab lain… ?”

“Itu di luar analisis medis?”

“Penyebab lain… ?”

“Penyebab lain lagi? Karena saya jarang tersenyum pada pasien? Itu maksud kalian? Kalian rekan wartawan jangan membuat berita yang tak jelas kebenarannya!”

“Maaf Bu, kami bahkan tidak tahu kalau Anda jarang tersenyum….”

“?”

“…”

“Ya sudah, lupakanlah itu!”

“!?”

“Yang jelas, yang akan saya katakan ini, saya pikir, jauh lebih layak kalian jadikan berita.”

Berceritalah bu dokter itu bahwa ia pernah bertemu dengan si anak dan almarhum ibunya beberapa tahun silam. Entah bagaimana bisa dokter pelit senyum itu dapat menyampaikan hal tersebut. Yang jelas dengan percaya diri sekali ia menceritakan percakapan yang pernah ia lakukan dengan perawatnya, beberapa saat setelah dua beranak itu meninggalkan RS:

Para kuli tinta itu hanya mengangguk-angguk. Tak ada yang mereka lakukan—tidak pula mencatat, selain bergumam dalam hati: Ah, cari sensasi saja kau, gadis tua!

————
Benny Arnas, lahir dan tinggal di Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Meraih Anugerah Batanghari Sembilan (2009) dan Krakatau Award (2009 & 2010). Bukunya Bulan Celurit Api (kumpulan cerpen, 2010).