Kahlil Gibran dan Chairil Anwar di Mata Saya: Perjumpaan dan Pembayangan *

Abdul Aziz Rasjid

Satu

Setiap pagi juga senjahari, dengan menghisap rokok yang asapnya berbaur dengan aroma kopi Yamani, Gibran Kahlil Gibran —mungkin mengenakan jubah panjang yang lebar dengan noda-noda tinta berbagai warna— melamun seorang diri di dalam kamar yang sudah diubahnya menjadi semacam kubu dimana objek-objek yang dirindukannya dan direnunginya hadir dalam bentuk pembayangan-pembayangan. Nantinya, Gibran akan mengekspresikan pembayangan-pembayangan itu dalam kata dengan menulis surat pada orang-orang yang dikasihinya.

Kadangkala, ia akan menulis sambil membayangkan dirinya seolah berada dalam sebuah rumah di Kairo bersama May Ziadah, gadis yang dicintainya; memimpikan sebuah momen, May duduk di depannya membacakan artikel padanya —entah yang Gibran tulis, maupun May yang menulis— dan setelah itu, mungkin mereka akan berdebat, beradu pendapat lalu tertawa bersama (Surat Gibran pada May Ziadah, ditulis tahun 1928[1]). Atau di saat lain, ia akan membayangkan suatu hari di masa tuanya nanti, Gibran berniat mengucilkan diri, menanggalkan kehidupan yang dirasanya penuh kepalsuan, menghabiskan hari-hari di sebuah pertapaan di tepi salah satu lembah di Libanon (Surat Gibran pada Mikhail Naimy, ditulis di Boston, 1922).

Saya kira, Gibran telah memfungsikan kamar menjadi semacam ruang abtraksi dimana dia bebas bergerak untuk merenungi dunia batin subjektif yang dialaminya —dimana Freud menyebutnya sebagi id “kenyataan psikis yang sebenarnya— dengan kenyataan di luar dirinya yang sedang terjadi guna menemukan pengujian terhadap kenyataan. Sedang lain sisi, surat menjadi cara paling efektif bagi Gibran untuk mewadahi hasil abtraksi sebagai mekanisme pertahanan diri berbentuk sublimasi agar orang-orang yang dikasihinya dapat memahami suara hatinya.

Gibran yang saya pandang lebih sebagai penyair —lantaran saya pertama kali berjumpa dengan puisinya bertajuk “Anak” yang dikutip Budi Darma dalam novelnya berjudul Rafilus[2]— walau ia dikenal pula sebagai pelukis, lewat surat-suratnya itu, telah mengarsipkan bentuk-bentuk pengujiannya terhadap kenyataan yang bertitik sentral pada kehidupan romantik seorang penyair yang lebih mempercayai kekuatan bahasa daripada persentuhan panca indera. Surat-surat itu, menyimpan sebuah fakta tersendiri yang jarang dialami —diikuti— manusia lain: Gibran konsisten dengan konsepsinya bahwa keindahan-keindahan yang paling lembut dalam hidup ialah yang tak terlihat dan tak terdengar (Surat Gibran pada Amin Guraib, ditulis di Boston, 28 Maret, 1908)

Dua

Setiap kali saya membaca kembali surat-surat Gibran, saya membayangkan wajah pucat pasi seorang penyair yang menantang kepenatan kesendirian nan sunyi. Terutama, jika saya mengkhikmati surat-surat Gibran yang bertiti mangsa tahun 1930, itulah surat miris dari seorang penyair yang menunggu ajal yang akhirnya menemuinya di tahun 1931. Surat menjadi semacam pengantar bagi obituari yang ia tulis sendiri untuk menunjukkan kekeras kepalaan Gibran yang seolah ingin membuktikan bahwa kerinduan tak musti dipertemukan oleh perjumpaan indrawi.

Membaca kembali surat-surat Gibran yang bertiti mangsa 1930 itu, saya lalu teringat bahwa hari-hari menunggu ajal yang dialami Gibran memiliki kesamaan dengan yang dirasakan Chairil Anwar. Kedua penyair ini yang seolah tahu ajalnya telah mendekat, sama-sama menengok kembali kepada hidupnya di masa lampau dan membayangkan kembali masa-masa yang paling membahagiakan di hidupnya.

Bila Gibran, menyinggung kematiannya dengan menulis surat pada May Ziadah, Felix Farris dengan harapan ingin menjalani sakitnya di Mesir (tempat May tinggal) atau di kampung halamannya di Libanon agar bisa dekat dengan orang-orang yang dicintainya, maka Chairil menulis pengalaman cintanya dalam puisi “Mirat Muda, Chairil Muda” (ditulis tahun 1949).

Chairil dalam puisinya itu melukiskan suatu perbuatan cinta yang tidak saja melibatkan roh dan jiwa, namun juga badan dan nafsu, namun pada larik akhir puisi “Mirat Muda, Chairil Muda” ia membuat penyataan miris: di antara kenangan paling bahagia sekalipun kematian juga hadir sangat dekat. Chairil menulis begini:

Hiduplah Mirat dan Chairil dengan deras,
menuntut tinggi tidak setapak berjarak
dengan mati [3]

Di antara jarak ajal yang dirasa begitu dekat, uniknya, keduanya mengucapkan kematian dengan ringan saja. Bagi Chairil, kematian yang dicatat dalam sajak “Mirat Muda, Chairil Muda” ada di mana-mana dalam kehidupan manusia, juga pada saat manusia bersenang-senang. Kematian adalah kenyataan sederhana, sama sederhananya seperti adanya udara di muka bumi ini[4]. Sedang bagi Gibran, terlihat manakala ia memikirkan kematian —seperti ia tulis dalam suratnya pada May Ziadah (ditulis tahun 1928); ia merasakan kesenangan dalam memikirkan dan merindukan kematian.

Walau keduanya, terkesan mengucapkan peristiwa kematian dengan ringan, ternyata menguraikan keberangkatan kematian dalam kata bukanlah cara yang mudah. Gibran maupun Chairil sama tahu, peristiwa keberangkatan kematian tak dapat dipetik dari wilayah panca indera, sebab itulah keberangkatan kematian lebih menjadi ide daripada penggambaran peristiwa, kemungkinan memikirkan keberangkatan kematian bisa jatuh pada rasa menyerah. Chairil Anwar pada larik akhir sajak “Derai-Derai Cemara” menulis:

ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Sedang pada surat Gibran pada May Ziadah (ditulis tahun 1928), Gibran berucap:

Lalu aku kembali pada diriku dan ingat bahwa ada sebuah kata yang mesti kukatakan sebelum keberangkatanku. Aku menjadi bingung di antara ketidakmampuanku dan keharusanku, lalu aku menyerah pada harapanku

Kata menyerah yang diucapkan Chairil maupun Gibran yang memiliki hubungan referensial dengan kematian adalah perwujudan psikologis yang mengikuti prinsip konstansi. Prinsip konstansi yang dirumuskan oleh Fechner —juga menjadi rujukan Freud untuk menjabarkan hasrat untuk mati— menyatakan bahwa semua proses kehidupan cenderung kembali ke stabilitas inorganik. Tapi, ada satu hal penting sebelum manusia menyadari bahwa kehidupan hanyalah jalan memutar ke arah kematian, manusia pada umumnya berupaya membuat pengalihan-pengalihan untuk membentengi diri agar tidak melakukan agresi terhadap diri sendiri ketika ajal kematian telah dirasa semakin mendekat.

Pada Gibran dan Chairil, kata (surat dalam Gibran, Puisi bagi Chairil) menjadi media pengalihan yang berhasil membuat keduanya tidak melakukan agresi terhadap diri sendiri ketika ajal kematian telah dirasa semakin mendekat. Kata menjadi sumber energi bagi keduanya yang sejak mula menjadi bagian penting dari dinamika kepribadian mereka sebagai penyair. Dalam riwayat kehidupan keduanya: kebiasaan, pandangan hidup praktis mereka ekspresikan dalam kata, sebab pada mulanya juga pada akhirnya penyair memang ditakdirkan untuk percaya bahwa apa pun yang dirasakan manusia, sejauh dapat diekspresikan, hanya dapat diekspresikan dalam kata.

Tiga

Penyair yang seakan ditakdirkan mengekspresikan apa pun yang dirasakannya —entah itu persepsi, ingatan maupun gagasan— dalam kata bukanlah sebuah sikap yang tiba-tiba jatuh dari langit. Penyair juga melakukan identifikasi yaitu pengambil alihan ciri-ciri orang lain dan menjadikannnya bagian yang tak terpisahkan dari dirinya, tetapi tidak pada semua aspek melainkan hanya mengambil hal-hal yang ditanggapi akan menolongnya untuk mencapai tujuan tertentu. Pada Gibran proses identifikasi ini, terlihat dalam prosanya yang bertajuk “Penyair Ba’labak[5]”. Dalam prosanya itu, Gibran menggambarkan bahwa konsep-konsep baru dalam persajakan Arab dimungkinkan dapat senantiasa terjadi sebab penyair-penyair Arab melakukan identifikasi pada semangat pembaruan yang disemaikan oleh Khalil Effendi Mutran.

Cerita dalam prosa “Penyair Ba’labak” bermula dari kematian penyair muda di taman istana. Sang Amir, pemimpin kota Ba’labak —kota purba di Libanon yang juga dikenal dengan sebutan Heliapolis, 112 S.M, lalu memakamkan sang penyair muda di bawah kerimbunan kuil Istyar Suci untuk memuliahkan jenazahnya. Kematian penyair muda itu, berbarengan dengan kedatangan filsuf India di istana Sang Amir yang menjelaskan pengetahuan tentang proses perpindahan jiwa dari satu tempat ke tempat lain, perpindahan jiwa dari generasi ke generasi hingga ke titik kesempurnaan dan berakhir di batas Tuhan. Saat berada pada upacara pemakaman, lalu sang Amir bertanya pada filsuf India tentang adakah kemungkinan kelahiran kedua (reinkarnasi)? Dan sang filsuf menjawab bahwa “apa yang dirindukan oleh jiwa, akan terkabulkan”.

Singkatnya, lalu cerita beralih pada masa 1912 M dan bertempat di Kairo, Mesir, dimana seorang Amir negeri sedang duduk merenungkan suku bangsa yang muncul tenggelam di sepanjang tepi sungai Nil. Lalu Sang Amir itu berkata pada Nadimnya bahwa ia rindu pada alunan syair, dan meminta si Nadim menyanyikan sebuah syair. Pada mulanya si Nadim menyanyikan syair penyair jahiliyiah, tetapi sang Amir meminta si Nadim mendendangkan syair yang baru. Selanjutnya, sang Nadim menyanyikan salah satu syair penyair dua masa dan alunan sajak-sajak Andalusia, tetapi si Amir meminta si penyair menyanyikan syair yang lebih baru lagi. Akhirnya, si Nadim menyanyikan syair penyair muda Ba’labak dan sang Amir merasakan adanya sepasang tangan gaib yang menariknya dari istana ke suatu tempat yang asing. Dan pada akhirnya sang Amir hanya bersidekap mengulang-ngulang sebait firman Allah yang diwahyukan melalui seorang rasulnya, “padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkanmu, kemudian kamu dimatikan dan dibangkitkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan”.

Secara khusus prosa bertajuk “Penyair Ba’labak” itu ditulis Gibran untuk menghormati Penyair Khalil Effendi Mutran yang menerima penghormatan dari Liga Kemajuan Arab pada tahun 1912 (Surat Gibran pada Salim sarkis, ditulis di New York, 6 Oktober 1912). Di mata Gibran, Khalil Mutran yang lahir di Ba’labak tahun 1872, dinilainya telah menuangkan jiwanya laksana anggur ke dalam piala Liga Kemajuan Arab demi mempromosikan persatuan dan kebudayaan Arab.

Prosa “Penyair Ba’labak”, juga berisi pujian-pujian bagi kepenyairan Khalil Mutran. Pujian pertama, Khalil Mutran dinilai oleh Gibran telah menguatkan ikatan persahabatan antara dua negeri Siria dan Mesir, oleh karena itu ia pantas menerima penghormatan dari Liga Persatuan Arab. Penilaian ini, dalam prosa ditampakkan Gibran dalam cara penyimbolan Khalil Mutran sebagai seorang Amir Ba’labak yang sedang duduk di singgasana emas dan menerima orang-orang bijak dari Timur.

Pujian kedua, berada pada konsep persajakan Khalil Mutran yang dinilai Gibran bukan hanya membawa pembaruan, namun juga memberi inspirasi terhadap cara pengucapan generasi penyair Arab selanjutnya dalam membaca dunia. Penilaian ini disimbolkan oleh Gibran lewat pembayangan Khalil Mutran sebagai Amir Mesir, Kairo yang tergugah oleh syair Arab Modern.

Di antara kedua pujian itu, ada satu titik penting, yaitu pernyataan tersirat yang seakan menegaskan bahwa sajak yang menjadi adalah sebuah laku pemberontakan terhadap konvensi sastra yang berlaku umum di suatu masa. Di tangan Kahlil Mutran sajak yang menjadi adalah sajak yang membawa pembaruan. Pembaruan inilah yang nantinya membentuk semacam pola reinkarnasi, dimana perpindahan spirit pendobrakan konvensi akan terus merasuk ke dalam tubuh para penyair lain sebagai laku identifikasi guna menemukan kekhasan pengucapan maupun wawasan penyair.

Secara historis, pembaruan Kahlil Mutran ditandai dalam upayanya mengembangkan aliran romantik yang pertama dalam persajakan Arab dengan menulis sajak berjudul “Nayrun” atau “Nero” yang merupakan sajak dengan satu tema yang terpanjang yang belum pernah terdapat dalam sejarah persajakan arab saat itu. Berikut fragmen dari sajak panjang bertajuk “Nero”[6], yang terdiri dari 400 baris, yang ditulis oleh Khalil Mutran dalam kumpulan sajaknya yang bertajuk Diwan:

Yang memberikan dukungan padanya
Lebih patut mendapat celaan ketimbang dia
Macam apa itu Nero yang mereka puja?
Dia kasar dan tak tahu apa-apa
Si cebol yang mereka junjung setinggi-tingginya
Mereka merangkak-rangkak di mukanya dan dia pun sombong jadinya
Mereka mengagungkannya dan mengembangluaskan bayang-bayangnya
Hingga bumi pun penuh dengan kejahatan di mana-mana
Mereka berikan kekuasaan mereka padanya
Maka di pun menjadi tiran atas mereka
Penguasa hanya mungkin menindas semaunya
Bila tak perlawanan yang ditakutkannya
Sebagian mengutuk Nero, tetapi aku mengutuk bangsa
Jika mereka menentangnya, pasti akan undur dia
Setiap bangsa menciptakan Nero-nya sendiri pula
Apakah itu “Caesar” atau “Khosru” namanya — sama saja

Kata dalam fragmen sajak “Nero” menggugat realitas dan menyeruak sebagai nada protes, Khalil Mutran dalam sajaknya merangkai kata dan kalimat untuk mempertimbangakan wawasan tentang pentingnya mengkaji ulang despotisme, ketidakadilan social juga tirani yang sering melanda penguasa. Sedang sebagai perambahan ucapan, sajak “Nero” dalam bentuknya merupakan eksperimentasi pengucapan seorang penyair yang dengan segala daya upaya, ingin mengetahui batas-batas yang paling jauh yang bisa dicapai oleh seorang penyair dalam menggubah sajak panjang yang berpokok pada satu tema dan menggunakan rima tunggal (monoryme). Dalam usaha pembaruan inilah, sajak “Nero” menjadi sebuah dunia tersendiri di antara mode persajakan Arab saat itu. Tak urung sajak Mutran pun lantas menghancurkan pola qasida yang telah kehabisan potensi-potensi puitiknya dan menunjukkan bahwa sajak-sajak Arab harus diganti dengan bentuk-bentuk puisi yang lebih bebas[7].

Maka, disinilah pengucapan kata dalam sajak Khalil Mutran lantas memberi pengaruh pada penyair arab lainnya sehingga konsep-konsep baru dalam persajakan Arab dimungkinkan dapat senantiasa terjadi. Kahlil Gibran pun terpengaruh oleh pembaruan ini, pada nantinya ia lebih memilih pembaruan gaya persajakan dengan menulis dalam gaya prosa-puisi maupun puisi-prosa yang ternyata menjadi suatu tonggak sejarah, bukan saja dalam persajakan Arab, tetapi juga dalam sastra Arab pada umumnya.

Pemberontakan terhadap konvensi sastra di suatu zaman, memang berlaku umum bagi kepenyairan seseorang, bahkan telah menjelma sebagai sebuah keharusan. Chairil Anwar pun, di dalam perpuisian Indonesia juga melakukan perambahan pengucapan yang melanggar dan merombak konvensi Pujangga Baru[8], buktinya, bila konvensi pujangga baru memeras tenaga kreatif dengan pemandangan alam yang harus selektif, menghadapkan puisinya pada alam yang indah untuk menghidupkan kesedihan paling melankolis, maka puisi Chairil berucap sebaliknya, alam bisa mengerikan, malam dapat fatal, menjadi kehancuran yang menggoncangkan.

Empat

Di mata saya, Kahlil Gibran dan Chairil Anwar adalah individu-individu yang seakan lebih pantas hidup dalam dunia khayalan namun tak dipungkiri pernah ada dalam dunia nyata. Kehidupan keduanya —seperti manusia pada umumnya— dikelilingi oleh konflik-konflik batin, tetapi secara khusus keduanya menggali potensi-potensi bahasa (kata) sedemikian rupa sebagai media menampung pikiran dan tindakan-tindakan rasional untuk mengurangi ketegangan konflik batin. Pemaksimalan potensi bahasa yang dilakukan keduanya pada akhirnya menandakan sesuatu, setidaknya sebuah poisisi hakiki yang semua orang kini mengenal keduanya; bahwa Kahlil Gibran dan Chairil Anwar adalah seorang penyair.

Sedang kematian: ending drama kehidupan yang membayangi keduanya akhirnya tak sepenuhnya merenggut dan menang. Sebab setiap kata yang ditulis Chairil Anwar maupun Kahlil Gibran, pada suatu momen —saya bayangkan ketika seorang pembaca membaca karya-karya mereka— akan setia menjumpai dan menyentuh pikiran-pikiran para pembaca, membagikan pengalaman, semangat dan cita rasa semasa keduanya menjalani kehidupan. Dan pada akhirnya dalam kata-katalah keduanya menetap, merasuk ke dalam tubuh dan berbisik lirih bahwa segala sesuatu yang dirasakan manusia, selama mampu diekspresikan, hanya dapat diekspresikan dalam kata.
________________
[1] Surat-surat Gibran yang dikutip dalam esai ini, seluruhnya bersumber pada buku Kahlil Gibran, a self-potrait atau Potret Diri , terj. M. Ruslan Shiddieq (Pustaka Jaya. Cet 5: 2000)
[2] Sila baca novel Budi Darma bertajuk Rafilus (Balai Pustaka. Cet..1. 1988. h.105-106)
[3] Puisi-puisi Chairil Anwar yang dikutip dalam esai ini, seluruhnya bersumber pada buku Chairil Anwar yang bertajuk Aku Ini Binatang Jalang, Koleksi sajak 1942-1949 (ed. Pamusuk Eneste. Cet. 21. Juni 2009)
[4] Interpretasi kematian dalam sajak “Mirat Muda, Chairil Muda”, merujuk pada buku Arief Budiman bertajuk Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan (Wacana Bangsa. Cet.2. 2007. h. 35-36)
[5] Prosa bertajuk “Penyair Ba’labak” saya baca dalam buku Al-Majmauah Al-kamelah Li Mauallafat Jubran Khalil Jubran al-‘Arabiyyah atau Penggali Kubur, terj. Faazi L. Kaelan (Pustaka Jaya. Cet 1: 1998)
[6] Fragmen sajak “Nero” yang ditulis khalil Mutran dikutip dari Hartojo Andangdjaja, Puisi Arab Modern (Pustaka Jaya. Cet 1, 1983. h. 168)
[7] Ibid. h. 19-20
[8] A Teeuw, “Sudah Larut Sekali. Chairil Anwar: Kawanku dan aku”, dalam Tergantung pada Kata (Pustaka Jaya. Cet.2. 1983, hlm. 16)

*) Esai ini terkumpul dalam buku Kahlil Gibran di Indonesia (editor: Eka Budianta, Ruas, November 2010) hlm. 29-37.