Sastra Etnis Tionghoa Pengaruhi Sastra Indonesia Modern?

I Nyoman Suaka
http://www.balipost.co.id/

Masyarakat etnis Tionghoa yang kini sedang merayakan Imlek (1 Februari 2003), ternyata memiliki tradisi besar dalam bidang kesusastraan, Tidak saja populernya cerita Sam Pek Ing Tay dan cerita silat Ko Ping Ho, namun juga keberadaan sastra Melayu Tionghoa disebut-sebut sebagai cikal bakal lahirnya kesusastraan Indonesia Modern. Mengapa demikian?

SASTRA Melayu Tionghoa yang tumbuh dan berkembang di Indonesia sebenarnya digolongkan dalam kesusastraan etnis. Sastra Melayu Tionghoa muncul dan hidup berdampingan dengan sastra etnis Jawa dan sastra etnis Sunda. Kasus sastra Jawa waktu itu sekitar tahun 1850 sampai 1900 menggunakan media bahasa daerah dan cerita yang dilukiskan berlatar budaya Jawa. Demikian juga kesusastraan Sunda dengan latar sosial budaya Sunda yang sangat kental.

Dari tiga sastra etnis itu — Jawa, Sunda dan Tionghoa — yang paling cepat dan pesat mencapai bentuk sastra modern adalah Sastra Melayu Tionghoa (Sumardjo, 1992:6). Hal ini disebabkan kesusastraan Jawa dan Sunda berakar pada kebudayaannya masing-masing dan sulit dipahami oleh masyarakat di daerah lain. Berbeda dengan sastra Melayu Tionghoa yang menggunakan bahasa Melayu rendah, penyebarannya sangat luas di masyarakat, sebab waktu itu bahasa Melayu telah menjadi bahasa pergaulan.

Masyarakat Tionghoa di Indonesia tidak memiliki tradisi kebudayaan yang kuat. Masyarakat Tionghoa ini adalah kaum imigran yang datang dari Cina. Keturunan mereka yang lahir dan besar di Indonesia makin lama makin tidak menguasai bahasa Cina dan kebudayaan nenek moyangnya. Warga etnis Tionghoa ini tinggal di kota-kota sehingga pengaruh kebudayaan modern semakin dirasakan. Pengaruh inilah yang kemudian melahirkan karya-karya sastra yang berkisah seputar pengaruh Barat, sebagai cermin masyarakat waktu itu.

Masuknya kebudayaan Barat berpengaruh banyak pada warga Tionghoa waktu itu, sebab mereka sendiri tidak menguasai budaya Jawa dan seni. Di samping itu, sistem pemerintahan kolonialisme Belanda turut mempercepat pembauran budaya itu. Pemerintah kolonial zaman itu membagi penduduk Indonesia atas tiga golongan. Golongan pertama adalah masyarakat Eropa (Belanda) yang ada di Indonesia. Golongan kedua, masyarakat Tionghoa dan Timur Asing lainnya. Masyarakat pribumi ditempatkan sebagai golongan ketiga atau masyarakat terendah.

Pembagian seperti itu memberi peluang lebih besar bagi masyarakat Tionghoa untuk lebih dekat dengan kekuasaan kolonial. Di samping itu, kehadiran warga ini sangat diharapkan karena pintar dalam soal berdagang. Sedangkan masyarakat pribumi menjadi semakin tertindas, terlebih lagi sebagai masyarakat jajahan. Penataan sistem politik dan ekonomi itu juga berimbas pada kebudayaan.

Memiliki Kemiripan

Sastra Indonesia Modern yang dimulai tahun 1920-an memiliki kemiripan dengan tema-teman dalam sastra Melayu Tionghoa. Sastra etnis Tionghoa ini yang lebih awal menerima pengaruh kebudayaan Eropa, akhirnya dijumpai juga pada kesusastraan Indonesia modern. Bahkan beberapa sarjana menilai, sastra Melayu Tionghoa banyak memberikan pengaruh kepada sastra Indonesia Modern.

Sarjana John B. Kwee dalam disertasinya yang berjudul “Chinesse Malay Literature of The Peranakan Chinese in Indonesia 1880-1942” seperti dikutip (Faruk dkk, 200:40-42), menyebutkan banyak pengaruh sastra peranakan Tionghoa dijumpai dalam sastra Indonesia, seperti tampak dalam cerita penyerahan penebusan “Sitti Nurbaya” atas utang ayahnya dipengaruhi oleh “Allah yang Toelen” karya Om Kim Tat. Roman “Percobaan Setia” sama dengan “Saltima” karya Tio Ie Soei. Roman “Salah Asuhan” sama dengan karya Vjoo Cheong Seng yang berjudul “Nona Olanda sebagai Istri Tionghoa”. “Salah Pilih” sama dengan karya Tan Boen Kim yang berjudul “Nona Iam Im”. Dalam cerita ini terdapat tokoh wanita yang bepekerti buruk karena telah mengecap pendidikan Belanda.

Karya lainnya dalah “Gadis Modern” sama dengan novel Chang Mung Tse yang juga mempunyai judul yang sama. Karya “Tak Disangka” sama dengan “Apa Mesti Bikin” karya Aster yang terbit pertama kali tahun 1930. Novel “Manusia Baru” sama dengan “Merah” karya Liem King Ho. John Be Kwee menemukan sekitar 14 karya sastra peranakan Tionghoa yang memiliki andil dalam proses penciptaan karya-karya sastra Indonesia modern termasuk yang telah disebutkan tadi.

Pengaruh yang tampak dalam karya-karya itu, kalau dilihat dari latar biografis pengarang Indonesia waktu itu, memang memiliki kesamaan dengan pengarang Tionghoa. Pengarang “Salah Asuhan” Abdul Muis dan “Salah Pilih” oleh Nur Sutan Iskandar serta pengarang lainnya mengenyam pendidikan Belanda. Akibatnya, mereka sering bergaul dengan orang-orang Belanda dan pejabat Belanda. Bahkan pengarang Indonesia banyak yang menajdi pegawai pemerintah Belanda. Dengan demikian, pengaruh itu bukanlah semata-mata dari pengaruh sastra peranakan Tionghoa, tetapi juga melalui proses dan pergulatan batin pengarang melihat kondisi sosial masyarakat masa itu.

Tema-tema yang digarap oleh pengarang Indonesia awal 1920-an adalah masalah-amsalah yang aktual dan ramai dibicarakan oleh masyarakat seperti soal adat, kawin paksa, budaya tradisi dan modernisasi. Pengarang Tionghoa juga melihat permasalahan serupa, akibat pengaruh kebudayaan Barat yang dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Kekayaan dan khazanah kesusastraan etnis Tionghoa ini perlu digali lagi sebagai keanekaragaman kebudayaan Indonesia. Memang, pemerintahan orde baru sempat membelenggu kebudayaan Tionghoa di Indonesia, baik dalam masalah agama, budaya dan sastra. Seiring dengan alam demokrasi, diskriminasi rasial etnik itu harus dihapus, termasuk perkembangan sastra Tionghoa itu perlu diajarkan di bangku sekolah SMU dan perguruan tinggi yang membuka jurusan sastra Indonesia.

* IKIP Saraswati Tabanan