Takdir Belum Mati

Binhad Nurrohmat
http://www.ruangbaca.com/

Majalah Pujangga Baru menjadi “penyambung lidah” pemikiran Takdir dan melahirkan “gaya nasionalistik-romantik Pujangga Baru”.

Sutan Takdir Alisyahbana adalah sebuah nama yang menjulang serta suara lantang yang polemis dalam ranah kebudayaan kita. Takdir tertoreh tebal dan kontroversial di pagina sejarah kebudayaan lantaran pemikirannya yang dinilai amat berkiblat ke Barat dan kritiknya yang tajam menujah kebudayaan prae Indonesia (kebudayaan Nusantara sampai akhir abad XIX) yang dia tuding sebagai zaman jahiliyah keindonesiaan yang tak bertali-sambung dengan keindonesiaan yang sejati yang meruak sejak abad XX yang menurutnya melahirkan “suatu generasi yang baru di lingkungan Nusantara ini, yang dengan insyaf hendak menempuh suatu jalan yang baru bagi bangsa dan negerinya”.

Bagi Takdir, hanya dengan mereguk roh Barat kebudayaan Indonesia dapat maju dan mengejar atau menyamai capaian kebudayaan Barat. Khas pemikiran Takdir berkata kunci “dinamis” dan “Barat” dan menilai kebudayaan prae Indonesia sebagai mumi dan “statis”.

Pemikiran Takdir ini berseberangan dengan Ki Hajar Dewantara yang “mengelus-elus” warisan kebudayaan dan sejarah gemilang para leluhur dengan “puncak-puncak kebudayaannya” itu, maupun dengan Sanusi Pane, yang menuduh pendirian pemikiran kebudayaan Takdir terlampau ekstrem. Sanusi Pane mengajukan ideal kebudayaan Indonesia dengan “haluan yang sempurna”: menyatukan Barat-Timur, “menyatukan Faust dan Arjuna”.

Pemikiran dan kritik kebudayaan Takdir tampil terus-terang, bergelora, dan sarat superlativisme seperti tergambarkan dalam puisi dan prosanya maupun dalam peristiwa yang terkenal dengan sebutan Polemik Kebudayaan, di mana Takdir menjadi biang utama yang bersengat dan berkobar-kobar melontarkan pemikiran dan kritiknya serta menggebu-gebu meladeni reaksi para penentangnya.

Seni dan Identitas Indonesia

Takdir merupakan “varian” kebudayaan dan kesusastraan di negeri ini. Tak sedikit nama penting dari generasi semasanya maupun sesudahnya yang menampik dan menerima pemikiran kebudayaan dan karya kesusastraan Takdir. Namun, lantaran apa yang telah digagas dan dikerjakannya selama hidupnya dengan kekukuhan pendirian dan keluasan rambahan pemikirannya, Takdir tak mungkin terhapus sebagai “wakil” yang terkenal dari suara zaman di masanya.

Lelaki kelahiran Natal, Tapanuli, pada 11 Februari 1908, itu pernah memimpin majalah Panji Pustaka dan Kepala Sidang Pengarang di Balai Pustaka. Lantaran merasa tak leluasa memperjuangkan cita-cita di lingkungan pemerintah kolonial, pada Juli 1933 (bersama Amir Hamzah, Armijn Pane, dan sejumlah rekannya yang lain) ia menerbitkan majalah kebudayaan nasional Pujangga Baru –tempat berkecamuknya Polemik Kebudayaan yang terkenal itu. Majalah ini konon pailit, tapi Takdir mengotot tetap menerbitkannya dan bisa bertahan sampai ketika pihak pendudukan Jepang melarangnya lantaran dianggap kelewat kebarat-baratan.

Konon, sikap kebudayaan Takdir yang kebarat-baratan itu diwakili tokoh Tuti dalam romannya, Layar Terkembang (1936), dan diselusupkan melalui bentuk puisi Barat yang dipilihnya, yaitu soneta, serta melalui gagasannya “memajukan kesusastraan” tradisional dengan melakukan perambahan tema, cara penulisan, serta ekspresi yang baru ke dalam dunia syair dan pantun. Menurut Takdir, pakem formal syair dan pantun tradisional mengalami kemandekan tema dan meminggirkan individualitas. Lebih jauh, Takdir juga menghimbau para pengarang “menahan diri” dalam memproduksi jumlah mengarang demi menaikkan mutu karya mereka.

Gagasan dan himbauan Takdir pada mulanya dianggap “sepi” dan sedikit saja yang seiring pikirannya, yaitu Armijn Pane dan Amir Hamzah, dan mereka bertiga menjalin korespondensi. Takdir mengusulkan pembentukan organisasi pengarang yang sesuai dengan cita-cita kebudayaannya itu. Armijn Pane tak sependapat dengan usulan itu. “Lebih penting daripada kedua hal ini (perkumpulan/majalah) ialah soal majalah itu. Kalau sudah ada majalah itu, akan ada pertambatan pujangga semuanya, sedang kalau ada perkumpulan dan tiada majalahnya, maka maksud perkumpulan itu tiada akan banyak tercapai,” kata Armijn.

Setelah berdiskusi melalui surat-menyurat itu, mereka bertiga bertemu di Jakarta pada Januari 1933 untuk menyusun anggaran dasar organisasi pengarang dan rencana menerbitkan majalah kesusastraan. Dalam sepucuk surat bertanggal Februari 1933, Armijn Pane menyatakan, “Nama majalah itu ialah Pujangga Baru, sebab majalah itulah akan jadi penambat pujangga-pujangga muda, pujangga-pujangga baru sekarang. Di situlah mereka itu bersuara sebebas-bebasnya.”

Edisi perdana Pujangga Baru terbit pada Juli 1933, yang memuat kata pengantar, sebelas puisi, dan dua esai yang salah satunya ditulis Takdir, “Menuju Seni Baru”, yang menggelorakan sikap dasar kebudayaan Takdir. Dalam tulisan ini Takdir bicara tentang individulisme masyarakat modern, upaya menciptakan seni baru, dan melancarkan “provokasi”: seni Indonesia bakal mandul jika meniru seni masa lampau.

Dari esai ini terenduslah jejak mula pemikiran Takdir yang tak melulu berkutat pada seni, tapi juga punya perhatian mendalam pada soal kemasyarakatan dan kebudayaan. Yang menarik dalam perkara seni adalah kepercayaan Takdir bahwa perasaan pribadi dalam karya sastra bisa seiring dengan peran kesenian sebagai agen perubahan sosial.

Pujangga Baru di kemudian hari menjadi “penyambung lidah” utama pemikiran Takdir, mencoraki dan bahkan namanya identik dengan majalah ini serta melahirkan “gaya nasionalistik-romantik Pujangga Baru”.

Bagi Takdir, kesusastraan punya peran penting dan tak terceraikan dari seluruh dinamika kemasyarakatan dan kebudayaan. Menurut Takdir, seni yang bertanggung jawab merupakan agen bagi perubahan sosial. Sanusi Pane tak menolak pendapat Takdir ini, tapi, menurut Sanusi, sikap seperti ini bisa menjadikan seni bertendens atau didaktik yang bisa mengorbankan nilai seni.

Pemikiran-pemikiran Takdir yang diumumkan di Pujangga Baru sebenarnya meneruskan dan mengembangkan pendirian pemikirannya sebelumnya yang disiarkan di majalah Panji Pustaka.

Selain masalah kebudayaan dan kemasyarakatan, di dua majalah ini, Takdir memaparkan dasar pemikiran kesusastraannya (puisi dan prosa) secara definitif, didaktik, disertai contoh, dan kerap mengalasinya dengan referensi dari Barat.

Misalnya, “Dalam dada tiap-tiap manusia berdebur darah penyair”, “Syair atau puisi ialah penjelmaan perasaan dengan perkataan. (…) Perasaan itu hendaknya lebih mulia dari perasaan setiap hari. Atau seperti kata Albert Verwey, salah seorang yang ternama dalam dunia syair-menyair Belanda dalam lima puluh tahun yang akhir ini: Puisi itu tidaklah lain daripada perasaan kita tentang hidup, terlepas dari segala yang kebetulan atau yang fana” atau “syair itu tak boleh dipakai kiasan yang terlalu sering dipakai orang, kiasan itu pun dalam segala hal harus sesuai dengan perasaan yang hendak diucapkan. Bacalah syair yang kami terima dari pembantu R. di bawah ini: ‘Tanahku, O, Tanah Emas!’:Tanahku, o, tanah emas!/ Sungguh jelita cantik dan molek,/ Sungguh indah alamatmu tuan:/ –Dengarlah tembangan para pujangga,/ Menyairkan kecantikanmu…”.

Sedangkan contoh wejangan Takdir dalam perkara prosa sebagai berikut: “Dalam puisi perasaan bersemaharajalela, tetapi sebaliknya dalam perosa perasaan itu diawasi oleh pikiran dan sering semata-mata pikirlah yang berkuasa”, “Perosa Melayu ialah kuda sudah dikekang, sudah jinak. Penunggangnya sudah boleh mengantuk-ngantuk di atas pelana. Ia sudah tahu jalan kudanya: pasti demikian, tak mungkin lain daripada itu,” dan “Perosa Melayu yang akan datang harus penuh berlimpah-limpahan semangat. Atau seperti kata Van Deyssel yang telah menjelmakan perosa baru dalam kesusastraan Belanda: ‘Saya suka akan perosa, yang datang kepada saya seperti seorang laki-laki, dengan mata yang bersinar-sinar, dengan suara nyaring, seraya mengambil napas dan mengayun-ayunkan tangannya. Saya hendak melihat pengarangnya tertawa dan menangis di dalamnya, mendengar ia berbisik dan berteriak, merasa ia mengeluh dan sesak napas.’.”

Sejak edisi tahun ketiga, Pujangga Baru mengulik ihwal kebudayaan dan identitas Indonesia, misalnya tulisan Takdir, “Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru”, yang mendedah pemikiran semangat keindonesiaan sebagai ciptaan abad XX. Menurutnya, semangat keindonesiaan merupakan tahapan baru kebudayaan di Nusantara yang terjelma setelah bergaul dengan kebudayaan Barat dan menggantikan semangat prae Indonesia itu. Tulisan Takdir ini memancing Polemik Kebudayaan yang melibatkan para figur besar yang aktif arena sosial, politik, kebudayaan di masa itu (Sanusi Pane, Ki Hajar Dewantara, Adinegoro, Dr. Sutomo, dan lainnya). Pemikiran kebudayaan Takdir dinilai pro-Barat dan sinis terhadap kebudayaan pribumi. Takdir mengelak. Menurut Takdir, substansi pemikirannya adalah menilai ulang masa silam dan menengok semangat “dinamis Barat”.

Polemik besar itu merupakan awal reaksi terbuka terhadap “Westenisme” yang digelorakan Takdir dan dia tak menyerah dengan pendiriannya: kebudayaan prae Indonesia tak cocok lagi bagi kebudayaan Indonesia baru.

Dalam tulisannya, “Sikap yang Nyata”, di Pujangga Baru menjelang edisi akhir tahun ketiga, Takdir menyuarakan sikap yang dia sebut Prima vivere, deinde philosophari serta pendapatnya soal kaitan semangat Timur dan depresi ekonomi Indonesia masa itu: “Kalau bangsa kita hendak berubah kedudukannya dalam dunia ekonomi pada khususnya, dalam hal materi pada umumnya, maka jiwa bangsa kita harus berubah dari akar-akarnya.”

Amir Syarifuddin bereaksi keras dan menuding tulisan Takdir itu timpang. Takdir balas menuding secara tersirat bahwa orang telah menyalahpahami tulisannya itu. Bagi Takdir, tugas pemikir kebudayaan menciptakan kebudayaan yang lebih tinggi atau setara dengan dengan kebudayaan sebelumnya dan tak wajib meneruskan tradisi masa silam.

Makna Takdir bagi Kita

Tampaknya, gejolak pemikiran Takdir yang radikal itu belum mati, tentu dengan bentuk variannya lantaran perbedaan ruang dan waktu masa Takdir dan masa kita. Deru globalisasi yang kian menyata dan mundurnya mutu kehidupan masyarakat kita saat ini menyebabkan pemikiran Takdir bisa disimak saat ini sebagai “peringatan yang keras”, untuk disetujui ataupun ditampik sama sekali.

Semangat kebudayaan kosmopolitan Takdir menuntut sikap inklusif, seperti era global saat ini yang menggetarkan sejumlah tata-nilai pribumi yang menggugah dan mengganggu kesadaran dan identitas keindonesiaan yang kian membuncah dan mengeras saat ini. Ah, apakah Takdir datang kelewat cepat?

Tanpa Takdir, Polemik Kebudayaan yang terjadi pada 1930-an itu barangkali tak pernah ada. Apakah polemik itu memang penting atau perlu? Mungkin juga, tanpa Takdir dan Pujangga Baru-nya itu tak bakal pernah muncul kesastrawanan Amir Hamzah, Sanusi Pane, dan Armijn Pane. Apakah ini tak layak disyukuri?

Yang terpenting dari Takdir adalah sikap kritis dan keberanian menghadirkan diri dan pemikirannya secara terbuka dengan sikap dan dasar pemikiran yang jelas dan dikukuhi seumur hidupnya dengan tegas dan setia. Takdir tentu tak sempurna, namun sekecil apapun anggapan orang tetaplah ia “ilham” penting dan langka bagi manusia Indonesia untuk terus melihat, menilai, dan membentuk diri di tengah dunia yang tak berhenti berubah ini.

*) Penyair dan kolomnis sastra