“Horison” dan Generasi Pasca-Orba

Binhad Nurrohmat*
Kompas, 24 Des 2006

Life begins at forty, kata orang, dan tahun ini majalah Horison berumur 40 tahun—sebuah rekor hidup majalah kesusastraan yang belum tertandingi di negeri ini. Majalah kesusastraan berbahasa Indonesia itu lahir setelah kekuasaan Orde Lama tutup buku dan ketika kekuasaan Orde Baru baru berdiri. Majalah bulanan yang legendaris itu terbit pertama kali pada Juli 1966 dengan SIT No.0401/SK/DPHM/SIT/1966, 28 Juni 1966 dan SIUPP No.184/SK/MENPEN/SIUPP D.I/1986, 3 Juni 1986.

Di tengah keterbatasan pada mula kelahirannya, Horison mampu gigih dan bergairah membangun dirinya dalam kesunyian dan keterpencilan. Kantor Horison berpindah-pindah tempat, susunan pengelolanya berulang bongkar pasang, dan kondisi keuangan perusahaan yang darurat.

Kegigihan dan gairah itu bukan tanpa hasil. Horison melahirkan sastrawan “Generasi Horison” (Subagio Sastrowardoyo, Bakat Alam dan Intelektualisme, 1971) yang menjadi barisan penting kesusastraan Indonesia: Goenawan Mohamad, Budi Darma, Iwan Simatupang, Taufiq Ismail, Subagio Sastrowardoyo, Umar Kayam, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Putu Wijaya, dan Hamsad Rangkuti.

Deretan nama-nama ini hanya sebagian contoh sastrawan yang menggerus energi kreatif terpentingnya sepanjang 1960-an hingga 1980-an dan berjuang agar karyanya dipajang di lembaran Horison. Mereka merintis karier kesusastraan, mendapat ruang kebebasan bereksperimen, dikenal khalayak luas, dan memantapkan posisi kesastrawanan melalui Horison yang sekian dekade lalu menjadi pusat parameter kesusastraan yang paling berpengaruh di Tanah Air.

Hebatnya, sastrawan “Generasi Horison” itu memiliki karakter, wawasan, dan bentuk kesusastraan yang beragam meski berproses dalam sebuah majalah yang sama. Ada puisi Sutardji Calzoum Bachri, Sapardi Djoko Damono, dan Goenawan Mohamad maupun prosa Danarto, Iwan Simatupang, Umar Kayam, Putu Wijaya, dan Budi Darma— yang sampai kini dianggap tonggak utama kesusastraan Indonesia.

Pada masa keemasannya, redaksi Horison sungguh jeli menangkap potensi pertumbuhan dan keberagaman dalam kesusastraan sehingga Horison memberikan sesuatu yang berharga bagi kesusastraan dengan bermodal dedikasi dan keterbatasan infrastrukturnya.

Kini prasarana Horison jauh lebih baik ketimbang dulu. Untuk merawat prestasi cemerlang itu, Horison mesti bertanding dengan masa keemasannya sendiri dan berupaya mencapai prestasi selanjutnya dalam situasi dan kondisi negeri serta kehidupan media massa yang sudah sangat berbeda.

Kelahiran Horison menandai lahirnya gairah kesenian dan kebudayaan yang sedang merekah bersama berdirinya kekuasaan Orde Baru (Orba)—setelah melewati masa keras dan gemuruh, penuh spanduk slogan, pertarungan dan intrik yang ganas dalam kehidupan politik dan kebudayaan di negeri ini pada 1960-an.

Dalam situasi sosial-politik di masa Orba, pada mulanya, keberadaan Horison dan para pengelolanya—kaum Manifes Kebudayaan itu—berada di atas angin dan memiliki kebebasan yang luas dan besar untuk “melanjutkan” keyakinan dan visi kebudayaan Humanisme Universil.

Pada masa Orde Lama, Humanisme Universil dan kelompok Manifes Kebudayaan (yang gigih mendukungnya) merayap di bawah tanah karena diserang habisan-habisan oleh kelompok Lembaga Kebudayaan Rakyat yang menganut Realisme Sosialis dalam kesenian dan kebudayaan.

Kelahiran Horison merupakan bentuk “kemenangan” kelompok Manifes Kebudayaan (yang oleh kelompok Lembaga Kebudayaan Rakyat diperolok dengan sebutan “Manikebu”) itu.

Kelahiran Horison tak lepas dari latar historis sosial-politik di negeri ini, dan bukan tanpa pengaruh (atau konsekuensi?): absennya kecenderungan kesusastraan yang kritis terhadap tirani kekuasaan Orba.

Dari “Horison” ke koran

Pada masa keemasan Horison muncul sejumlah reaksi tandingan. Majalah Aktuil yang terbit di Bandung pada dekade 1970-an melawan kemapanan dan “kesakralan” kesusastraan Horison. Majalah Aktuil dipimpin oleh Remy Sylado yang terkenal dengan Gerakan Puisi mBeling yang dikembangkan melalui majalahnya itu. Di kota dan dekade yang sama diselenggarakan Pengadilan Puisi yang menggugat “hegemoni” kesusastraan Horison dan para sastrawannya.

Munculnya reaksi-reaksi tandingan itu menunjukkan adanya anggapan kuatnya pengaruh Horison dalam kesusastraan di Tanah Air. Reaksi-reaksi itu merupakan mutu sikap serta karakter suatu generasi kesusastraan di negeri ini yang memiliki nyali budaya tanding dan menolak takluk kepada dominasi atau hegemoni kesusastraan tertentu.

Selain itu, pertumbuhan media massa koran selepas 1970-an yang membuka lembaran kesusastraan membuat media kesusastraan kian meluas dan pelakunya makin banyak. Lembaran kesusastraan di koran yang terbit rutin sekali seminggu lebih banyak menampung pertumbuhan dan aktualisasi kesusastraan ketimbang Horison yang terbit bulanan.

Ajang kompetisi dan aktualisasi kesusastraan perlahan bergeser ke koran atau setidaknya Horison tak lagi menjadi satu-satunya kiblat kompetisi maupun aktualisasi kesusastraan sehingga pengaruh Horison tak sebesar dan sekuat sebelumnya.

Karya, polemik, isu, dan perdebatan kesusastraan yang dianggap penting atau fenomenal sejak 1980-an (hingga sekarang) pun munculnya di koran, bukan di Horison. Misalnya, pada 1980-an terjadi perdebatan panjang Sastra Kontekstual dan pada 1990-an merebak polemik Puisi Gelap, Sastra Koran, Revitalisasi Sastra Pedalaman, Sastra Reformasi, dan Sastra Saiber di koran Jakarta maupun daerah. Tiras yang besar dan peredaran yang luas membuat karya, polemik, isu, dan perdebatan di koran lebih bergema.

Sejak 1980-an lahir “Generasi Sastra Koran” yang cenderung inklusif dan rileks ketimbang generasi sastra sebelumnya, lebih sadar dan peka kenyataan sekeliling dan menjadikannya sumber penciptaan, serta mewarisi watak koran sebagai media yang industrial.

Realitas kesusastraan di koran yang pada mulanya dianggap “sastra rendahan dan dangkal” kemudian makin memendarkan pamor nilai dan wibawa kesusastraannya, melahirkan kesemarakan dan keberagaman kesusastraan, menjadi sumber pengaruh yang kuat, dan para tokohnya menjadi pemuka kesusastraan Indonesia sejak 1980-an hingga sekarang.

Kesusastraan di Horison bertanding dengan kesusastraan di koran mestinya tak terelak dalam ajang kesusastraan yang kian kompetitif ini. Jika menghindar, Horison akan meluputkan puncak-puncak kondisi aktual kesusastraan di Tanah Air.

Horison masa kini yang memilih terjun ke sekolah untuk menyebarkan “pendidikan” kesusastraan memang sangat membantu kurikulum kesusastraan di sekolah dan meningkatkan apresiasi kesusastraan para pelajar. Tapi, kerja keras keluar-masuk sekolah di banyak pelosok Tanah Air itu membuat Horison kehilangan energi dan konsentrasi untuk menjadi penjemput bola terdepan kesusastraan, terutama karya-karya penting dekade pertama “Generasi Sastra Pasca- Orba” itu.

Apakah itu semata konsekuensi dari sebuah pilihan?

* Binhad Nurrohmat, Penyair
Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2006/12/esai-horison-dan-generasi-pasca-orba.html