Mengaji Tamat, Tradisi (Religius) Awal Turun ke Sawah

Nelson Alwi
http://www.suarakarya-online.com/

DARI pertahunan ke pertahunan, hasil panen(an) atau produksi padi di areal persawahan Nagari Koto Gadang (Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat) terasa kian dan semakin anjlok. Hama tikus mewabah dengan hebatnya: umbut padi digerogoti, batangnya dipatah-patahkan lalu diporakporandakan oleh binatang pengerat itu.

Di samping itu, pianggang alias wereng pun datang menyerang: buah padi yang masih muda diisap sarinya, tangkai-tangkainya mencuat ke angkasa, dan bulir-bulir gabah yang kelihatannya bernas itu, ternyata hampa. Sebagai umat (beragama) Islam sudah dua-tiga kali masyarakat nagari melakukan “Ratib Tolak Bala”. Namun hasilnya tidak pernah memuaskan. Ritual keagamaan “Ratib Tolak Bala” itu sendiri selalu diiringi kegiatan baburu mancik (berburu tikus). Saban Minggu orang senagarian menguber(i) tikus diimbali nagari 500 rupiah per ekor. Tapi, sebanyak yang mati dan tertangkap sebanyak itu pula yang muncul atau lahir ke dunia.

Selidik punya selidik, ketahuan dan disadari bahwa segala sesuatu upaya seperti di atas belum mencukupi. Salah satu penyebab berjangkit dan berkembang-biaknya hama-hama padi tersebut adalah lantaran para petani tidak serentak turun ke sawah sehingga hama-hama padi senantiasa memperoleh makanan segar dengan cara berpindah dari petak sawah yang satu ke petak sawah lainnya. Memasyarakatnya berbagai bibit padi varietas unggul membuat sebagian petani begitu bersemangat menggarap sawah-ladangnya. Dan ini tidak terikuti oleh sebagian petani yang lain. Sementara di sawah “A” padi sudah menguning, di sawah “B” orang baru selesai bersiang, sedang di sawah “C” padi baru saja ditanam.

Dalam hal ini, kemajuan teknologi di bidang pertanian rupanya harus disejalankan dengan taktik dan strategi (tradisional) masyarakat tani.

Singkat cerita, rapat nagari memutuskan agar para petani turun ke sawah secara serentak. Hal ini tidak boleh tidak mengingatkan masyarakat pada kebiasaan atau tradisi-religius di masa lampau: mengawali acara turun ke sawah dengan terlebih dulu menyelenggarakan upacara “Mengaji Tamat”.

Upacara “Mengaji Tamat”, menurut Lebai Aluma salah seorang ulama di nagari tersebut dilatarbelakangi hadist yang berbunyi “setiap kerja baik hendaklah dimulai dengan niat”. Dan sebagian masyarakat pun percaya bahwa niat musti “dilepasi”. Selain itu juga diyakini bahwa “siapa yang menziarahi aulia maupun kuburnya, di sisi Tuhan, sama faedahnya dengan menziarahi makam Nabi Muhammad SAW”.

Ya, upacara “Mengaji Tamat” diawali dengan mengunjungi tempat atau kuburan orang (yang dianggap) suci. Di sana mereka, dipimpin seorang imam, bertahlil dan berdoa dalam rangka mensyukuri nikmat (“melepasi niat”) sekaligus memasang niat buat kerja mendatang.

Malamnya acara dilanjutkan di masjid, beramal membaca kitab suci Al-Quran serta “mengunjungi” Nabi Besar Muhammad SAW dengan melantunkan “salafal enam”. Dengan vokal naik-turun dan irama yang khas, mengumandang lengkingan suara sang imam me”rawi”kan riwayat hidup Muhammad Rasulullah, diselingi dengungan makmum yang, di saat-saat tertentu, membaca “salallahualaihiwassalam”.

Setelah itu orang pun melafalkan zikir “alfashalu alannabi qatimil rasulih giyamu” (seribu salawat buat Muhammad), bersahut-sahutan, sambung-menyambung dalam irama tersendiri. Dan, sembari berdiri orang lalu membaca “ya nabi salamualaika/ ya rasul salamualaika/ ya habibi salamualaika/ salawatullahi mualaika” dan “salasilah” berbunyi “ya nabi salamualaika/ ya rasul salamualaika/ ya abubakar siddiq/ fatimah binti rasuli.”

Kemudian ada tahap memuliakan Nabi Muhammad, yakni dengan mendendangkan ajaran-ajaran beliau. Di antaranya dibaca “asraqalbadru alaina/ fattafat mingkul buduri” dilanjutkan “sailillah ya syekh ahmadul qadir jailani alal ibadi mahyudin fiqalbibahim maulana alal ibadi, baitulmukuddus”, dan ditutup dengan “salallahualaihiwassalam/ salallahualaihiwassalam/ salallahualaihiwassalam muhammadarrasullah”.

Berdasarkan komando sang imam, makmum duduk sebentar. Tidak lama kemudian imam memberi aba-aba untuk menyalawati Nabi Muhammad SAW (12 kali) dan beristigfar (12 kali). Dan dengan didahului imam, makmum kembali berdiri untuk melaksanakan “Ratib Tegak”. Dalam ratib yang dilakukan sambil berdiri ini dilafalkan kata “lailahailallah” (99 kali), “Allah” (99 kali), “hu Allah” (99 kali), “Allah hu” (99 kali) dan, diakhiri dengan membaca “lailahailallah muhammadarrasulullah salallahualaihiwassalam.”

Acara disudahi dengan pembacaan doa dan makan bersama: tua-muda, besar-kecil, lelaki-perempuan. Jamuan itu ditangani oleh sekelompok orang (panitia). Menunya, atau lauk-pauknya tergantung keadaan, bila memungkinkan orang kampung (dalam hal ini nagari) akan menyembelih kerbau atau sapi atau beberapa ekor ayam serta lauk-pauk alakadarnya pun jadi.

Dan sebagaimana biasa, keesokan harinya masyarakat tani di Nagari Koto Gadang mengadakan gotong-royong massal memperbaiki irigasi: membuat sejumlah kanal di sungai agar airnya bisa dialirkan ke sawah yang ketinggian. Lalu, beberapa hari setelah itu para petani pun beramai-ramai turun ke sawah.

Pada dasarnya upacara “Mengaji Tamat” mengandung nilai-nilai positif lagi konstruktif: meningkatkan rasa kebersamaan dalam hidup beragama dan berkorong-berkampung alias bermasyarakat.

Sementara tujuannya tiada lain, mensyukuri rahmat Tuhan atas terlaksananya berbagai program (pertanian) yang telah lalu di samping membulatkan tekat seraya memasang niat untuk menyukseskan pertahunan mendatang.

Tetapi memang, selaku muslim maupun muslimah yang akan memulai kerja baik, sudah sepantasnyalah jika masyarakat tani tersebut menyelenggarakan upacara “Mengaji Tamat” yang berlandaskan agama serta keyakinan terhadap Yang Maha Pemberi sebagaimana tercermin dalam doa-doa agar pertahunan demi pertahunan selalu berhasil dan ini, pada satu kurun waktu, dulu, telah menjadi tradisi tahunan di Nagari Koto Gadang.***

Budayawan, tinggal di Padang