Obituari: Sang Pemberani Itu Pergi…

Putu Fajar Arcana
Kompas, 3 April 2011

KEPERGIAAN Ratna Indraswari Ibrahim (62) di pagi hari membuat jantung saya berdegup kencang. Minggu (27/3), saya menerima kabar ia kembali dirawat di rumah sakit karena terserang stroke untuk kedua kalinya. Tahun lalu, di bulan Mei, saya berkunjung ke rumahnya di Malang. Ia tampak sehat dan sudah pulih setelah sebelumnya juga terserang stroke.

Kabar Senin (28/3) pagi itu, benar-benar tak bisa saya percaya. Saya mengusap muka dan menenangkan pikiran untuk berusaha memercayai bahwa sastrawan produktif yang rendah hati itu benar-benar telah menghadap Yang Mahakuasa. Kira-kira suasana pertemuan saya dengan Ratna di beranda rumahnya, yang dahulu sering saya kunjungi, mirip seperti Jumat (1/4) pagi ini. Gerimis menitik pelan sejak dini hari, seperti air mata yang turun, lalu perlahan membentuk genangan-genangan. Mungkin kenangan yang telah mendesak dada saya hingga sesak sepanjang pekan.

Menuliskan kenangan sering kali jatuh ke dalam genangan melankolia. Lalu cipratan genangan itu membaluri muka, yang dalam seketika berbias pucat pasi. Tidak! Sikap itu pasti paling dibenci Ratna. Ia telah melalui masa-masa sulit dalam hidupnya. Bayangkan pada usia 10 tahun, di mana seharusnya hidup bermekaran, ia malah mengalami hal sebaliknya. Perlahan tangan dan kakinya mengecil. Matanya mengabur. Lalu akhirnya ia harus ”menyerah” hidup sepanjang umur di atas kursi roda. Itu belum cukup! Tangan Ratna sama sekali tidak berfungsi, bahkan untuk menulis dan makan sekalipun. Matanya juga mengabur sampai minus 10. Fase ini menjadi titik terendah dalam kehidupan Ratna. Moralnya pelan-pelan ambruk. Bahkan, tuturnya, ia sempat marah sekali kepada Tuhan.

”Bagaimana tidak, aku lahir normal, tetapi paling jelek di antara semua saudara perempuan. Sudah jelek, cacat pula. Aku marah sama Tuhan karena ini tidak adil. Aku cemburu setiap ada anak main engklek, gobak sodor, atau sepeda. Sementara aku duduk saja di kursi roda…” Itulah ucapan Ratna. Dahulu ia penuh kemarahan. Saat-saat frustrasi dan krisis mental yang dalam itulah selalu ada Siti Bidasari Ibrahim binti Arifin (alm), ibunya. Ibunya selalu bilang, ”Tuhan tidak mungkin menciptakanmu tanpa maksud baik. Pasti ada kelebihan di balik apa yang kamu jalani sekarang.”

Ratna kemudian tersadarkan oleh hukum fisika, sebuah benda akan memindahkan massanya ke sisi lain apabila diberi tekanan. ”Seperti tangan ini, kalau ditekan di sini akan menggelembung di sana,” ujar Ratna. Saya ingat persis kata-katanya itu. Namun, tak mudah bagi Ratna mempraktikkan menekan ruas tangan antara siku dan telapak. Beberapa kali ia mencoba. Akhirnya hanya sentuhan kecil. ”Kira-kira seperti inilah… ke-ke-ke…” ujarnya. Ia terkekeh. Seperti mengejek ketakberdayaannya.

Pelisanan

Kepercayaan akan adanya hukum fisika itu membuat Ratna pelan-pelan menyadari bahwa tangan dan kakinya boleh lumpuh, tetapi telinga dan daya ingatnya telah lahir sebagai ”mesin” yang menggerakkannya untuk melawan ketakberdayaan. Telinga dan daya ingat itu juga modalnya saat-saat menempuh kuliah di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang, mesti tak sampai selesai. Ia ”mencatat” seluruh materi kuliah lewat telinga dan menyimpannya di dalam ingatan.

Telinga dan daya ingat itu pula yang menjadi andalan utamanya untuk kemudian menuliskan cerita-ceritanya. Sebuah metode kerja yang unik di masa sekarang. Ratna selalu melisankan kisah-kisahnya untuk kemudian ditulis oleh seorang asisten. Terakhir ia bersinergi dengan Susanty Octavia (23), cerpenis yang juga harus melewati hari-harinya di kursi roda. Ratna merasa beruntung dipertemukan dengan Santy. Selain bisa mengetik dengan baik, Santy juga cerpenis yang setiap saat bisa menerjemahkan cerita-cerita lisan Ratna ke dalam bahasa tulis.

Pilihan hidup sebagai pengarang telah melahirkan Ratna menjadi episentrum dari berbagai aktivitas manusia. Di satu sisi ia memang membutuhkan orang lain untuk menyerap segala kisah yang kemudian menjadi materi awal cerita-ceritanya, di sisi lain ia juga membutuhkan aktivitas untuk dirinya sendiri. “Ya, aku menerima setiap curhat (curahan hati) dari kawan-kawan yang datang ke rumahku,” kata Ratna. Curhat-curhat itu kemudian ia gubah menjadi ratusan cerpen dan bahkan tujuh novel yang sudah ia tulis. Ratna melakukan itu dengan merelakan rumahnya di Jalan Diponegoro 3, Malang, menjadi pusat kegiatan kelompok diskusi, seperti Forum Pelangi. Bahkan, rumah itu juga terbuka bagi berbagai kegiatan lain, termasuk diskusi-diskusi yang dicap ”subversif” oleh penguasa.

”Rumah ini pernah dikurung oleh aparat keamanan karena saya menggelar diskusi buku tentang Tan Malaka, yang waktu itu konon dilarang di mana-mana, ke-ke-ke …,” tutur Ratna ringan. Ia malah terkekeh-kekeh mengenang peristiwa itu. ”Bagaimana mungkin orang cacat bisa melawan…,” katanya, lagi-lagi tertawa.

Rumahnya selalu ramai. Selain beberapa kamar disewakan, Ratna juga membuka toko buku di paviliun yang terletak di bagian barat halaman rumahnya. Toko buku itu bernama Tobuki, kependekan dari Toko Buku Kita. Di Tobuki, semua pembeli melayani diri sendiri, dari memilih buku, membayar, sampai mengambil uang kembalian di laci. Kata Ratna, bukan muluk-muluk untuk mengajarkan tentang kejujuran, tetapi semata-mata karena ia tak mampu melayani pembeli. ”Aku tak bisa menggerakkan roda kursi sendiri, harus minta bantuan orang. Jadi, lebih bagus silakan layani diri sendiri saja, he-he-he,” ucapnya. Pengarang yang meraih penghargaan Kesetiaan Berkarya dari harian Kompas tahun 2005 itu tertawa lagi.

Begitulah Ratna selalu mengisahkan segala sesuatu secara santai dan penuh tawa. Ia seperti tak pernah punya beban meski tinggal sendirian di rumah tua warisan orangtuanya. Ia adalah perempuan pemberani yang melintasi badai dari atas kursi roda sendirian. Tak ada kerabat dan tak ada sahabat. Sekarang pun, saya yakin, ia sendirian menembus kabut menuju kecerahan yang telah disiapkan Yang Mahakuasa kepadanya….

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/04/obituari-sang-pemberani-itu-pergi.html