Puisi-Puisi Imron Tohari

Hakikat Tentang Keyakinan

Meyakini keberadaan Kekasih
seperti saat menatap ketinggian langit yang
dipenuhi gumpalan awan putih, ada, namun tak tersentuh

Duhai wahai engkau yang tengah dijerat cinta
Dalam diri orang-orang tak ber-Tuhan pikiran itu kuasa
berkehendak atas keinginan-keinginan
lalu mereka, orang-orang tak ber-Tuhan itu serempak berkata
bila pikiran yang menjadikan pengetahuan berkuasa akan hidup
iakah mesti jiwa ini tersalib Tanya akan Kekasih?

O, duhai wahai engkau yang tengah dijerat cinta

diperjalanan spiritual keheningan itu kristalisasi sunyi
Dalam diri orang beriman, seperti halnya hafiz
juga para pencinta
menemu keberadaan rumah Kekasih
mesti rela meninggalkan kebun-kebun pikiran
yang pohon buahnya ranum duniawi
dan membiarkan jiwa berjalan melewati lembah
dengan kanan kirinya berserak burung-burung pemakan bangkai

4 Mei 2011

Ingin Kutulis Sajak Bahagia yang ada Serupa Tapi

Entah kenapa saat aku ingin menulis sajak cinta,
aku kehilangan huruf c

Saat kualihkan menulis sajak rindu,
aku kehilangan huruf r

Kala ingin kutulis sajak penuh harap
kalimat-kalimat berderet serupa tapi

iakah mesti seperti itu rasa dan fikiran?

Bahkan saat aku berfikir

Aku butuh pekerjaan….
Tapi pekerjaan itu sulit

Aku butuh makan….
Tapi cari makan itu rumit!

Aku ingin hidup….
Tapi hidup itu susah

Aku ingin punya pacar…
Tapi punya pacar itu ngurangi kebebasan

Aku ingin punya istri….
Tapi punya istri itu beban

Aku ingin punya anak…
Tapi punya anak itu merepotkan

Aku ingin karier…
Tapi karier itu menyita waktu

Aku ingin banyak uang
Tapi banyak uang mesti kerja keras

Aku ingin kehidupanku tenang;bahagia
Tapi iakah seperti itu bila berkeluh sahaja?

3 Mei 2011

Gerimis yang Nyanyi

Dalam hal biasa,
gemericik sungai di belakang rumah hanya bunyi

Tapi kala melaun rindu
sebisa-bisanya bisa terdengar jerit lelaki tua dan
kulihat ianya menancapkan gagang pancing di tanah
dengan kedua tangan menggenggam ikan yang menggelepar

Saat kudekati, lelaki tua itu menatapku
ianya berubah senja
dengan gerimis yang nyanyi

: Ikan yang menggelepar itu jiwaku
dan ianya ingin menikmati senja
tanpa rintik air mata.

April 24, 2011

Tentang Keyakinan

Engkau adalah rimba
Beribu jalan beribu semak, dan aku merindukanmu
Tapi tanpa peta seringkali aku tersesat di dalam jiwa

22 April 2011

Kacau

Tindih menindih kian sengkarut
Pedih tersembilu di sudut kelu
Tatas merentas doa tersebut
Nurani lunglai tertunduk membisu

Apatah yang kau cari, tuan diraja?

Jiwa Negeriku hancur terburai
Airmata mengalir enggan merinai
Surya terpejam kian tercerai
Tersekat awan pun, batin terkulai

Inikah tanda hujah* imanku
Luruh meretak cerminan rupa
Gelap kupandang cermin akhlakku
Benar salah biaskan cahaya

Lihat tuan, debu mengabu
Cekat melekat mengusir terang
Sulit terpilah sirupa jalang
Juang lara resah bergelimpang

(dipertegas dalam puisi ” Hilang Basmalah ” by lifespirit 2011 )

Indonesia Setengah Tiang

Di jaman orba
namamu hantu
bagi mereka yang berhati tirani

Di jaman orba
jasadmu tak tertemu
hingga kini
tinggal detak

“Perjuangan belum berakhir!” Katamu

Disimpan di mana
lagu perjuangan
kebangsaan
kepahlawanan
dahulu kala

Disimpan di mana
Bait sakti garuda pancasila
Mantra pancasila dasar yang lima
Maklumat sakti UUD empat lima

Ooooo… diantara kibar sang saka
negeri kembali carut marut
wajah pemerintahan begitu renta
tubuh-tubuh keadilan bungkuk
tak mampu, memanggul beban kejujuran

Kenapa entah
tibatiba pelosok negeri tepuk bergemuruh
tapi darah rakyat terus menetes luka
sementara orang-orang terhormat berebut teriak
:Jiwaku
Indonesia

Dan ianya, tetesan luka itu
kian menderas, menulis nama pada nisan

26 Juli 2010. rev 5 April 2011 ( Dari kumpulan puisi “Indonesia Setengah Tiang “ )
Inspirasi : Puisi “Peringatan” Wiji Thukul

Enam Tahun Di Hari Kita Layari Cinta

Tadi malam aku jelau asmara
Di matamu
Di senyummu
Kudapati pohon cinta berbuah rindu

Enam tahun kita layari bahtera kasih
Sekian lama pula mimpi bersama
Mengikat tali kemesraan
Mengalunkan senandung hati

Tadi malam saat aku jelau asmara
Angin di luar mengetuk-ngetuk pintu
Kunang menari-nari
Melaun di mekar bunga

O, belahan jiwa
Ini hari kala surya memancar
Menatap langit biru
Asaku tinggi menjulang, sungguh

Di debar jantung ini
Namamu kerinduan abadi

17 April 2011

Catatan:
Melaun ; Melaun-laun ; Berlama-lama

Setangkup Rindu

sejauh kau layar rindu dalam arung kata
aku masih di sini
menatap dinding-dinding kenang
kusentuh seluruh

butir-butir airmata nestapa
kuabadikan pada nyanyian embun
tentang jejakjejak rindu

o, segala manikam
rasa
menggurat senja

dengan air mata
sukma menyatu
di bingkai bianglala

mestikah kau meragu setia?

dalam diam-ku
sering kutatap
: langit masih biru
bulan jatuh di kerling matamu

24 November 2009

Catatan: Puisi ini merupakan puisi yang saya tulis khusu untuk menyulang puisi karya Nona Muhtar yang kita beri tajuk ” Memanah Bulan ”