Ontohod

Asep Yayat
http://www.suarakarya-online.com/

Setelah cukup lama ditunggu, bus kota itu akhirnya muncul juga. Seolah terengah di tengah riuh lalu-lintas yang terik dipanggang matahari, bus menepi dan kemudian berhenti di depan halte. Saya lihat, bus tak dijejali penumpang seperti saat jam berangkat ataupun bubar kantor.
“Bulus, Bulus! Lebak Bulus!” teriak kondektur mewartakan jurusan yang dituju.

Saya bergerak cepat naik bus itu lewat pintu depan. Seorang penumpang lain berbuat serupa lewat pintu belakang, tempat kendektur menggelantung.

Di perut bus tak ada penumpang yang berdiri. Saya celingukan mencari-cari tempat duduk yang masih kosong. Ah, kursi di sisi kanan baris keempat dari depan masih menyisakan satu-satunya tempat duduk tanpa penumpang. Hup, saya bergerak gesit. Tak mau terdahului penumpang lain yang tadi naik lewat pintu belakang.

Alhamdulillah tempat duduk itu berhasil saya kuasai. Seorang lelaki bertubuh gempal dan agak kumal tak acuh saja saat saya menjatuhkan pantat di sampingnya. Sementara penumpang yang tadi naik lewat pintu belakang akhirnya berdiri bergelantungan di gang dekat tempat duduk saya. Orang itu tinggi, berkulit bersih, dan bertubuh atletis. Kumis tipis menghias bibirnya yang sedikit menghitam. Sementara rambutnya yang pendek dan klimis disisir ke belakang.

Bus bergerak lagi. Suara mesinnya menderum keras mengalahkan deru lalu-lintas kendaraan di jalan yang kebetulan siang itu tak dihadang kemacetan.

Di halte berikutnya, empat penumpang naik lewat pintu depan – dan entah berapa orang lewat pintu belakang. Salah satu yang naik lewat pintu depan adalah seorang wanita muda bertubuh sintal. Dia langsung memilih tempat – berdiri menggelantung – di ujung gang depan, dekat tempat duduk sopir.

Mungkin merasa tak enak hati, atau boleh jadi juga karena halte tujuannya sudah dekat, pemuda ceking di kursi paling depan berdiri dan memberikan tepat duduknya kepada perempuan sintal itu. Dia sendiri kemudian menggelantung persis di sisi kiri tempat duduknya semula.

Melihat itu, lelaki gempal di samping saya mendengus sambil berbisik. “Lihat pemuda ceking itu. Dia ngasih tempat duduknya kepada perempuan itu belum tentu karena dia memang gentle,” katanya. Jelas bisikan orang itu ditujukan kepada saya.
“Maksud Anda?” ujar saya tak kuasa menahan heran.

“Lha, iya. Dia memberikan tempat duduknya kepada wanita itu boleh jadi bukan karena dia menghargai dirinya sendiri sebagai lelaki yang harus menghormati wanita,” ujar lelaki gempal itu lagi.

Saya diam. Saya merasa tidak tertarik menanggapi. Tapi, eh, si gempal nyerocos lagi. Seperti tak peduli bahwa saya tak berminat mengobrol dengannya.
“Gua yakin, dia menyerahkan tempat duduknya kepada wanita itu sebagai akal bulus. Cuma modus, Bung,” kata si gempal. “Modus? Modus bagaimana?” tanpa sadar saya terpancing juga.

“Iya modus. Modus untuk melecehkan wanita itu. Dia memilih berdiri bergelantungan agar bisa leluasa melakukan pelecehan seksual. Coba saja lihat nanti kalau penumpang padat. Dia pasti beraksi. Dan wanita yang dia kasih tempat duduk itu adalah sasarannya,” kata si gempal lagi.
“Ah, Anda berburuk sangka,” ujar saya.

“Lha, gua pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri kok bagaimana lelaki seperti dia melakukan pelecehan seksual di atas bus kota. Korbannya bahkan ibu-ibu.”
“Benarkah?”

***

Si gempal menarik napas. “Kejadiannya sekitar tiga atau empat bulan lalu. Di bus jurusan ini pula. Saat itu sore. Jam bubaran kantor,” katanya kemudian. Saya diam. Menunggu lanjutan ceritanya.

“Bus kala itu sudah penuh,” kata si gempal lagi tanpa saya minta. “Jadi, penumpang yang naik pun harus rela berdiri. Tapi gua sendiri, karena naik saat penumpang bus masih agak lengang, kebagian tempat duduk. Ya, di posisi seperti sekarang ini. Di kursi baris keempat dari depan.

Meski sudah berjejal, bus masih saja menjaring penumpang. Nah, di sebuah halte, antara lain seorang wanita muda naik. Bodinya sintal kayak wanita yang kini duduk di depan itu. Dengan susah-payah, wanita itu berupaya menerobos jejalan penumpang. Upayanya tidak sia-sia. Dia akhirnya bisa mendapat posisi – berdiri di belakang tempat duduk sopir, menghadap jendela.

Persis di belakang wanita itu, berdiri pula seorang pemuda. Kayaknya mahasiswa. Di punggungnya nemplok tas ransel. Seperti kemejanya, celana yang dikenakan pemuda itu terlihat longgar.

Bus bergerak lagi. Di halte berikutnya, beberapa penumpang turun. Tapi penumpang yang naik lebih banyak ketimbang yang turun. Jadinya, bus makin sesak. Penumpang kian berimpitan serupa ikan sarden.

Di antara penumpang yang baru naik itu adalah sepasang laki-perempuan. Belakangan ketahuan bahwa mereka suami-istri. Sang istri berwajah lumayan cantik. Umurnya mungkin belum tiga puluh. Sementara sang suami kira-kita berumur empat puluh. Tampangnya sedikit sangar.

Boleh jadi karena tampang sangar lelaki itu pula maka penumpang-penumpang lain bergeser menggeliat untuk memberi ruang bagi pasangan suami-istri itu memepet ke bagian depan. Mereka kemudian memilih posisi berdiri berhimpitan di samping kanan mahasiswa bercelana longgar tadi.

Sementara itu, memanfaatkan kepadatan penumpang, si mahasiswa merapatkan badannya ke bagian belakang bodi si wanita sintal. Tak cuma itu, dasar ontohod, lelaki muda itu menggesek-gesekkan anunya ke bokong si sintal.

Awalnya si sintal kelihatan tidak ngeh bahwa dia dikerjain si ontohod. Maklum penumpang dalam bus berdesakan. Tapi lama-lama si sintal sadar juga. Cuma kayaknya dia tak berani berteriak. Mungkin takut atau mungkin juga malu. Hanya ekspresi wajahnya nyata sekali kelihatan senewen kepada si mahasiswa ontohod itu.

Merasa dikerjain tak senonoh, si sintal bergerak mengubah posisi. Meski tidak mudah, dia akhirnya bisa beralih posisi jadi di belakang si ontohod. Tapi entah bagaimana, si ontohod sendiri tahu-tahu jadi menghadap wanita yang tadi naik bersama si sangar. Sementara posisi si sangar malah di belakang si sintal.

Nah, pemuda itu memang benar-benar ontohod! Wanita pasangan si sangar pun segera dia kerjain pula. Persis seperti sebelumnya dia ngerjain si sintal. Gua yakin, si sintal sendiri tahu kelakuan bejat itu pemuda ontohod. Cuma, lagi-lagi dia memilih diam dan hanya pasang mimik senewen.

Namun kemudian gua lihat pasangan si sangar menyadari apa yang terjadi. Wanita itu seketika berteriak. “Eh, apa-apaan kamu, bedebah? Kurang ajar kamu, ya!”
Mendengar itu, si sangar pun terlihat kaget. “Kenapa, Mam?”
“Ini, Pah. Orang ini mepet-mepet dan gosok-gosokin anunya ke bokongku! Kurang ajar dia!” kata wanita itu makin sewot.

Emosi si sangar seketika tersulut. Tanpa banyak cingcong lagi, dia melayangkan tinjunya. Buk, buk, buk! Tiga bogeman dia daratkan di kepala si ontohod. “Setan lu, ya! Berani-beraninya bini gua lu perlakukan gak senonoh!” kata si sangar sambil melayangkan lagi tinjunya ke muka si ontohod.

Menyadari apa yang terjadi, beberapa penumpang lain ikut-ikutan membogem si ontohod. Suasana di dalam bus praktis jadi gaduh sehingga sopir pun menghentikan laju bus. Kesempatan itu dimanfaatkan si sangar untuk menyeret turun si ontohod. Istrinya bergegas ikut turun sambil tak henti memuntahkan makian.

“Gua gak tahu apa yang selanjutnya terjadi karena bus segera bergerak lagi lantaran diprotes banyak pengendara lain di belakang dengan ramai-ramai membunyikan klaksok. Cuma gua sempat lihat sekilas, di pinggir jalan itu si sangar masih meneruskan menghujani si ontohod dengan pukulan….”
Saya manggut-manggut. Takjub oleh cerita si gempal barusan.

***

Tanpa saya sadari, bus sudah tak lengang lagi. Penumpang berdesakan. Saya lihat, si atletis – lelaki yang tadi naik bersamaan dengan saya – masih berdiri berhimpitan dengan penumpang lain.

Begitu juga pemuda ceking yang tadi memberikan tempat duduknya kepada wanita sintal. Posisi si ceking kini sudah bergeser sedikit ke belakang. Tak lagi persis di samping kiri si sintal.

Saya tersenyum seraya mencolek si gempal di sebelah saya. “Pemuda itu tidak melakukan apa-apa,” kata saya berbisik seraya menunjuk ke arah si ceking dengan gerakan mata. “Anda salah sangka tentang pemuda itu. Dia pemuda baik-baik,” kata saya setengah meledek.

Si gempal tak bicara. Dia membuang pandangan ke luar jendela seraya mengangkat bahu. Sama sekali tak terlihat rasa bersalah.

Di pintu belakang, kondektur lagi-lagi terdengar berteriak-teriak. Pertanda bus mendekati halte. “Bulus, Bulus! Lebak Bulus!”

Bus menepi. Sejumlah penumpang turun dengan susah-payah menembus rapatnya penumpang lain yang bergelantungan. Si ceking termasuk ikut turun.

Sejurus kemudian, sejumlah penumpang baru gantian naik. Seorang perempuan berusia 50-an, tanpa peduli penumpang lain yang berdesakan, langsung menerobos mencari posisi di tengah. Si altetis terlihat bijak. Dia bergeser sedikit ke belakang, sehingga perempuan itu mendapat ruang di depannya. Perempuan itu lalu berdiri bergelantungan, persis di samping kiri tempat saya duduk.

Ah, saya jadi merasa tak nyaman. Saya tak bisa membiarkan ibu-ibu berdiri berdesakan di depan hidung saya.

Nurani saya mendorong saya berdiri dan menyerahkan tempat duduk kepada perempuan setengah baya berpenampilan menor itu. Tapi sebelumnya saya sempatkan berbisik kepada si gempal. Menggoda.

“Anda jangan mengira saya hendak berbuat yang tidak-tidak terhadap ibu ini. Saya lelaki baik-baik,” kata saya. Si gempal mendelik tanpa berkata-kata.

Maka saya dan perempuan menor itu berganti tempat. Saya kini ikut berdiri bergelantungan sambil berdesakan. Persis di belakang saya adalah si atletis.
Saya menebar pandangan ke luar jendela. Yeah, tempat saya turun tinggal tiga halte lagi.

Bus baru bergerak lagi ketika saya merasakan tubuh si atletis kian merapat ke tubuh saya. Pasti itu efek pergerakan bus, pikir saya. Tapi lama-kelamaan saya menjadi tak enak. Bukan saja tubuh si atletis tetap menempel rapat ke badan belakang saya, tapi saya juga merasakan bokong saya didesak-desaknya.

Saya menoleh ke belakang, dan segera beradu pandang dengan si atletis. Muka kami saling berhadapan dalam jarak hanya terpaut beberapa senti. Alamaaak, si atletis tersenyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya. Ontohoood!

Bulu kuduk saya seketika merinding. Seketika pula saya berteriak kepada sopir. “Kiri, Bang! Stop, stop, stop! Stooooooop!!!”***

Jakarta, 17 Mei 2011
Catatan:
Ontohod adalah umpatan Sunda untuk pelaku tindakan yang kurang/tidak patut.