Perempuan dan Matahari

Saut Poltak Tambunan
http://www.suarakarya-online.com/

“Jangan ngebut, Gus! Aku takut!” Ratih ketakutan ketika Bagus menambah kecepatan, pelukannya makin erat.
“Ha ha ha, aku suka ini!” Bagus tertawa ngakak lalu terputus karena Ratih mencubit pinggangnya.
“Aku nggak mau mati konyol, Gus! Aku serius!” “Sorry, sorry, Mbak.”
“Nih, aku peluk biar kau senang, tapi nggak usah ngebut,” Ratih memeluk lebih erat dari belakang.

Ratih gamang, takut, tapi senangnya bagai anak burung pipit belajar terbang. Belum pernah ia membonceng sepeda motor sejauh ini. Ia jenuh dengan kesehariannya yang hanya berkisaran dari rumah, di mobil, ruang kerja dan ruang rapat. Minggu pagi ini ia iseng minta jalan-jalan naik sepeda motor. Ia butuh matahari.

“Jadinya kita ke mana, Mbak?” “Jangan tanya aku, dong. Hari ini giliran Zorro menculik Elena lalu dilarikan naik kuda ke hutan,” sahut Ratih menempelkan kepalanya di punggung Bagus. “Siap, Tuan Putri,” sambut Bagus tapi bingung.
“Ke mana, ya? Ke Senayan City, mau?” “Nggak, ah, sudah sering aku ke mall dan kafe.”
“Ke Ancol?”
“Nggak mau. Tempat lain aja. Aku pingin lama naik motor begini, tapi jalannya jangan seramai ini. Takut.”
Bagus sendiri tidak pernah jalan-jalan. Sehari-hari jaga parkir. Paling juga nongkrong di mall.
“Ke Kebun Binatang mau?”

“Beugh!! Ogah!” kata Ratih setengah berteriak dan angin kencang merampas suaranya. “Ya, sudah, kita lihat pameran buku dulu di Senayan!”

“Nggak malu jalan sama aku? Cantik, manager hotel berbintang, naik motor dengan orang jalanan. Bagaimana kalau ketemu teman-teman Mbak?”
“Malu? Aku berhak berteman dengan siapa saja.”
Bagus menjalankan motornya dengan santai. Kendati hari Minggu, jalan utama di Jakarta macet juga.

“Terima kasih, Gus, aku senang!” teriak Ratih dari balik punggung Bagus. “Nggak pernah aku sebebas ini! Tapi kau nakal. Sebentar-sebentar kau sengaja rem mendadak biar dadaku nempel di punggungmu.”
“Ha ha ha, nggak sengaja, Mbak. Kalau keberatan, duduknya menghadap ke belakang saja.”
“Huu!” Ratih mencubit pinggang Bagus lagi.

Tiga bulan lalu Ratih keluar dari Butik Qita di Kemang. Ratih menenteng tas belanjaannya, membuka pintu mobil. Tiba-tiba tasnya direnggut dari belakang hingga Ratih terjengkang. Sebuah sepeda motor pun meraung-raung menyongsong si penjambret.

Ratih benar-benar schock, berteriak pun tak bisa. Tahu-tahu motor itu terjungkal. Seseorang menerjang pengemudinya dari samping. Sebentar saja kedua penjambret itu sudah babak belur dihakimi massa.

Tas Ratih utuh dikembalikan lelaki itu. Bagus namanya, penguasa parkir di kawasan itu. Dua hari Ratih dan Bagus bolak-balik dipanggil ke kantor polisi untuk urusan itu. Untung lekas beres. Untuk berterima kasih, Ratih memberi uang ke tangan Bagus namun ditolak.

“Aku butuh uang, Mbak, tapi bukan uang seperti ini. Aku hanya menolong Mbak,” kata Bagus ketika itu. Kalimat Bagus itu menohok perasaan Ratih. Orang jalanan seperti Bagus, ternyata uang tak selalu nomor satu.

Sejak itu Ratih sering bertemu Bagus. Pertemanan yang jomplang. Ratih Marketing Manager hotel berbintang yang sehari-hari tampil anggun dan modis, sedang Bagus hanya preman parkir. Ratih senang karena Bagus lugu namun tulus. Bagus sendiri sering salah tingkah. Ia terbiasa kasar. Ia merasa serba salah mengatur sikap, menjaga volume suara dan pi-lihan kata biar tampak sopan. Belum lagi jika akan bertemu Ratih, bau parfumnya membuar radius lima meter.

“Tak usah berubah, Gus,” kata Ratih, waktu di restoran Bakerzin Plaza Senayan, “aku lebih senang kau apa adanya. Yang penting kau tidak menjahati aku.”

Ratih beberapa kali membawanya makan di tempat mewah. Bagus tak bisa makan. Stress, tidak tahu bagaimana memakai sedok-garpu yang berjajar dengan aneka bentuk. Belum lagi daftar menu yang tak dimengertinya.
“Mbak, aku bukan Zorro. Terlalu hebat. Aku penyamun saja,” kata Bagus meneruskan canda Ratih tadi.
“Penyamun? He he, terserahlah. Intinya, kau culik aku dan kau bawa ke habitatmu,” balas Ratih tertawa.
“Wah, emas tebusanmu pasti banyak, ya?”

“Aku nggak bakal ditebus, Gus. Aku putri terbuang.” “He he he, rugi aku kalau begitu.” Kawasan Senayan ramai. Selain banyak orang berolah raga, pameran buku, ada juga pameran otomotif di Convention Hall. Ratih minta keliling-keliling dulu mengitari stadion utama. Ia masih senang naik motor itu.

Tiba-tiba sebuah mobil sedan memotong jalan dari samping sambil membunyikan klakson, sekaligus menyalakan lampu sein. Isyarat minta berhenti.
“Aduh, ada Mas Gun..!” kata Ratih panik. “Tapi nggak apa-apa, dekati saja, Gus.”

Kaca jendela mobil dibuka. Bagus hentikan sepeda motor di belakangnya. Ratih turun dari sepeda motor dan menghampiri. Ia membuka helm dan kaca mata hitamnya.
“Wow, Tante Ratih keren!” teriak Pio anak Mas Gun. Mereka sekeluarga lengkap di mobil itu. Mas Gun, Mbak Desy isterinya bersama dua anaknya yang remaja. “Mau ke mana, Mas?” tanya Ratih ke arah Mas Gun.
“Anak-anak mau ke pameran buku,” sahut Mas Gun datar sambil matanya menyipit melihat tampilan Ratih.
“Kalian mau ke mana?” Mbak Desi ikut bertanya.
“Ke situ, pameran mobi,”jawab Ratih sekenanya.
“Naik motor dengan gembel itu?” Mas Gun sinis.
Ratih terdiam.
“Harus bagaimana lagi cara mengingatkan kamu?”

“Ikut kita aja, Tante Ratih,” teriak si bungsu Tiwi dari samping mamanya. Sementara Ratih merasa sangat tak nyaman dalam sekapan tatap mata Mas Gun.
“Lain kali ya, Tiwi. Tante pergi dulu,” kata Ratih kemudian mengulurkan tangannya untuk menjentik pipi anak itu, tak tahu mau bilang apa lagi.
Ratih bergegas pergi ke sepeda motor. “Dia marah?” sambut Bagus.
“Biasa, Mas Gun amat sayang sama aku. Aku kan adiknya. Dia kuatir aku naik motor segini jauh.”

Bagus menghela nafas.Tadi ia melihat wajah Ratih tegang. Tentu saja Mas Gun marah melihat adik perempuannya masih bersama gembel yang tidak disukainya. Naik motor pula. Padahal Ratih punya mobil sendiri. “Masmu nggak suka melihat aku.”
“Santai saja, Gus,” sahut Ratih. Hatinya cemas.

Mas Gun sejak dulu tidak suka Ratih bertingkah aneh. Kendati sudah remaja, Mas Gun berani menampar Ratih jika pulang kemalaman, atau saat bolos sekolah.

Mas Gun merasa paling bertanggungjawab, terutama setelah ayah mereka meninggal. Dia yang meneruskan usaha perikanan peninggalan ayahnya. Dia pula yang menghajar bekas suami Ratih hingga terjengkang ketika ketahuan menyimpan isteri muda.
“Kita pulang saja?” tanya Bagus lagi.
“Pulang? Penyamun macam apa kau mengembalikan culikanmu tanpa hasil?” balas Ratih coba bercanda lagi.

“Jalan terus! Ke pameran mobil saja. Mas Gun dari dulu begitu. Banyak aturannya. Memangnya aku anak kecil? Huuu!! Aku sudah dewasa, malah sudah janda!”

RATIH tertunduk luruh hingga dagunya menempel di dada. Panjang lebar sudah Mas Gun mengomel, ditambah isak tangis ibunya minta agar Ratih mengubah sikapnya.

“Aku setuju ketika kamu minta cerai karena nggak mau suamimu, Miko, beristri dua. Sekarang kamu naik motor dengan gembel! Preman! Mau jadi apa kau?”
Ratih terdiam. Hatinya menjerit ingin berontak.

“Kamu bikin malu!” bentak Mas Gun. “Aku kenalkan kamu ke orang-orang baik, selalu ditolak. Dengan gembel itu kamu mau. Gembel itu hanya kepingin uangmu, tahu!?”
“Dia tidak seperti itu,” Ratih mengangkat kepalanya. “Dia tidak pernah mau terima uangku.”
“Halah! Aku kenal mereka, hanya perlu uang!”

“Lalu orang-orang yang Mas Gun kenalkan itu malaikat semua?” Ratih kini menentang mata Mas Gun. Sebenarnya Ratih hanya berteman dengan Bagus, tak lebih. Tapi ia tak bisa terima Mas Gun berlebihan menghinanya.
“Bukan malaikat,Ratih. Tapi mereka orang baik, punya masa depan yang jelas.”
“Mungkin adikmu belum cocok dengan mereka,” sela ibu Ratih, tak tega melihat Ratih menangis dibentak.
“Halah,lihat Khrisna itu, stafku. Kurang apa dia? Memang lebih muda dari Ratih, tapi nggak masalah kan?”
“Mas Gun tahu bagaimana mereka memperlakukan aku?”

kali ini kesabaran Ratih sudah kandas. “Mereka pikir aku janda muda yang kesepian dan bisa diapakan semaunya. Perlu aku detailkan kelakuan mereka semua? Mau kutunjukkan hotel murahan mana mereka mau bawa aku?”

“Lha ..!” Mas Gun gelagapan disengak seperti itu. “Makanya kau berpakaian yang sopan. Pakai jilbab, dong, kayak Mama itu. Pasti mereka nggak berani macam-macam!”

Ratih mendesahkan nafasnya. Begitu kalau Mas Gun terpojok, tak mau kalah. Ratih tak bicara lagi, sebab Mas Gun tak akan mau menerima penjelasannya. Memang, saat ini Bagus tukang parkir. Tidak punya kapasitas untuk memilih jalan hidup. Mereka berjuang untuk angka kecil-kecil. Mereka hanya ingin tak mati, jauh dari hasrat berarti. Tetapi mereka juga punya harga diri.
“Aku mau pulang, besok kerja,” kata Ratih, dingin.
“Lho, tidur di sini saja. Sudah engah malam,” cegah Mbak Desi yang sejak tadi tidak mau ikut bicara.

Ratih menolak. Kendati sudah punya rumah sendiri, di rumah ibunya ini ia tetap punya kamar pribadi. Kali ini ia mau pulang saja. Ia butuh sendirian.
“Ratih, ini yang terakhir. Atau, kau mau lihat aku singkirkan gembel itu!?” Mas Gun masih mengancam.
“Coba saja!” sahut Ratih ketus, lalu melarikan mobilnya. Kencang! Gundukan polisi tidur di depan rumah membuat mobilnya terbingkas tinggi. Gubrak!!
Mas Gun lari ke teras. Ia marah, tapi mobil Ratih terus ngebut, hilang di tikungan. Ia merasa ditantang.

* * *

Tiba-tiba Bagus raib. HP-nya pun off. Ratih penasaran. Usai magrib dia ke kawasan pertokoan tempat Bagus kerja. Tapi penjaga parkir sudah berseragam, orang baru semua. Bagus dan anak buahnya tak di sana.

“Nggak tahu, Mbak. Kami orang baru di sini,” sahut seorang tukang parkir ketika Ratih mendesak bertanya. Tukang rokok gerobak di seberang jalan pun mengaku tidak tahu apa-apa. Tapi Ratih memergoki rasa takut membias di matanya. Ratih tak habis akal. Disosorkannya tiga lembar uang seratus ribuan. Tukang rokok itu mengerutkan dahinya. Di tangannya ada uang.
“Begini, lho, Mbak. Sebenarnya aku nggak berani cerita,” tukang rokok itu tergagap.

“Mas boleh pegang janjiku. Mas aman,” Ratih meyakinkan. Akhirnya tukang rokok itu cerita, malam Minggu lalu ada polisi razia. Setiap orang lewat di geledah, termasuk tukang parkir, termasuk Bagus juga. Tahu-tahu di saku baju Bagus ditemukan sabu-sabu, narkoba. “Narkoba di saku Bagus!? Tak mungkin!!” Ratih ingin melarikan mobilnya sebisanya. Kasihan Bagus. Ratih tahu akibatnya buat Bagus jika tertangkap tangan mengantongi narkoba.
“Mas Gun keterlaluan!!! Bagus salah apaa!!?” Ratih menangis, menjerit histeris.

Bagus suka minuman keras, tapi tak pernah mengkonsumsi narkoba. Ratih yakin itu.Tapi kok bisa narkoba itu ada di sakunya? Ratih ingat ancaman Mas Gun! Ini keterlaluan!

Ratih langsung ke rumah ibunya di Rawamangun. Mas Gun tinggal di sana. Suara mesin mobil Ratih meraung masuk komplek. Pintu pagar rumah ibunya tertutup, ada mobil Mas Gun di garasi. Marah dan bencinya membuncah! “Mas Gun jahaaaaattt!!” jerit Ratih histeris Ia gelap mata! Ditekan habis pedal gas. Lalu pintu pagar ditabraknya, kemudian belakang mobil Mas Gun.

Suara benturan keras mengejutkan seisi komplek. Klakson mobil Ratih pun berbunyi terus. Mas Gun berlari keluar masih pakai celana pendek. Mobilnya hancur. Ratih merintih lemah di atas setir mobil, kepalanya berdarah-darah. ***

* Mei 2011