Takut

Gde Artawan
http://www.balipost.co.id/

Setelah didera rasa mual, dua bulan terakhir ini aku didera perasaan takut. Semula aku bayangkan kalau perasaan takut itu bersifat sementara saja, hanya singgah sesaat lalu pergi. Barangkali kondisi fisikku yang lemah akibat diserang gejala flu membuat perasaan takut itu muncul atau efek samping dari nonton film horor, atau yang lain. Ternyata setelah aku sembuh dari gejala flu, dan tidak nonton film horor perasaan takut itu tak juga hengkang dari dalam diriku.

AKU jarang ke luar rumah. Melaju di jalan raya mengendarai sepeda motor seakan-akan aku masuk ke gelanggang sirkuit dimana pengendara sepeda motor, mobil, seakan adu cepat untuk sampai di tempat tujuan. Pengendara seenaknya menyalip dari samping kiri samping kanan lalu tiba-tiba berbelok atau berhenti mendadak tanpa syarat lampu rem, lighting atau isyarat tangan. Deru suara knalpot tidak saja memekakkan telinga tetapi menderu menggedor jantung, paru-paru dan seisi rongga dadaku. Aku khawatir genderang telingku pecah, jantungku copot, paru-paruku robek, lantas dengan apa harus kutunjukkan kesejatian seorang manusia tanpa organ tubuh yang sempurna itu. Di jalan tak ada tegur sapa ramah taman sesama pengendara. Tak ada sunggingan senyum ketika aku berpapasan, menyalip atau disalip pengendara lain. Terkadang seorang pengendara mengejarku sambil menunjukkan wajah sangar dan sedikit bumbu makian, padahal secara sadar aku yakini kalau aku tak melakukan kesalahan apapun di jalan. Aku takut mengendarai sepeda motor, satu-satunya alat transportasi pribadi yang kumiliki. Aku putuskan sementara untuk tidak menggunakan alat transportasi pribadi. Untuk pergi memberi kuliah di kampus aku gunakan tranportasi lokal, bemo. Aku takut diserempet dan diumbari makian pengendara lain yang urakan di jalan. Dengan menumpang bemo, kalau terjadi serempetan tentu yang lebih dulu merasakan akibatnya adalah tubuh bemo yang kutumpangi, bukan tubuhku. Aku kira persoalan akan selesai sampai di situ. Tidak. Aku merasakan ketakutan luar biasa di dalam bemo karena wajah penumpang membiasakan semangat permusuhan yang dalam. Di antara kami seakan diwarnai perseteruan turun temurun dari para leluhur sekian generasi.

Di kampus aku kembali didera rasa takut yang luar biasa. Mahasiswa yang kuhadapi telah kehilangan etika untuk menghormatiku. Mereka dengan tanpa rasa hormat duduk-duduk di atas meja kuliah dengan dan dalam perkuliahan terang-terangan berani menentangku. Mereka telah berani mengatakan kalau apa yang aku kuliahkan hanya omong kosong belaka. Mereka terang-terangan mengatakan kalau aku memaparkan mimpi-mimpi yang jauh dari realita. Mereka terang-terangan dengan wajah garang, wajah yang kehilangan keluguan kanak-kanak — menolak materi sajian kuliah karena aku dituduh menyeret mereka ke dunia mimpi.

Mereka mencercaku dengan beratus-ratus pertanyaan tentang kehidupan real di lingkungan mereka. Mereka menolak penjelasanku. Aku takut. Aku takut pada diri sendiri yang tak kuasa memberi jawaban karena mereka sangat pintar dan menguasai betul medan forum-forum ilmiah. Mereka sangat jago dalam berseminar, berlokakarya atau dalam temu ilmiah yang lain. Sementara ketika aku berpartisipasi dalam forum itu dengan mencoba mengajukan pertanyaan atau mengajukan permasalahan atau mencoba memberi solusi atas permasalahan yang salah seorang dari mereka ajukan, mereka secara serempak menyorakiku, mereka mengatakan kalau aku asbun — asal bunyi.

Ketika ada peluang proyek-penelitian dari pusat, mereka berebutan dan seperti mudah ditebak mereka mampu memenangkan kompetisi dari beberapa proposal penelitian yang diajukan. Masing-masing individu dosen ada yang memenangkan kompetisi itu lebih dari satu proposal, sementara aku hanya bisa bengong karena jangankan bersaing dalam kompetisi itu, judul proposal pun aku tak punya.

Aku takut dengan kebloonanku. Komunitas kampus tidak lagi memberi ruang pada diriku untuk ambil bagian. Aku takut ke kampus. Aku simpan dalam-dalam kebloonanku di rumah. Di luar kampus dan di luar lingkungan rumahku, juga tak jauh beda. Rasa takut menghantuiku. Sisa-sisa puing bangunan perkantoran di kotaku akibat amuk massa beberapa tahun yang lalu menciutkan nyaliku. Ketakutan luar biasa aku alami ketika di depan mataku sendiri kulihat para simpatisan partai pemenang pemilu saling lempar batu sambil berteriak-teriak garang, sebagian kulihat mereka membawa senjata tajam. Aku terkencing-kencing lari ketakutan padahal tak ada yang mengejarku.

Di rumah aku sendiri didera rasa takut. Hari-hari di kotaku tak lepas dari keliaran para preman, para cowboy dengan wajah sangar, wajah garang yang siap setiap saat menelan wajah yang lain. Bangunan-bangunan pasrah untuk diperlakukan apa saja setiap saat, dilempari, dihancurkan atau dibakar. Aku takut, kotaku penuh kemelut. Para pengamat sosial dadakan sibuk mendebatkan wacana kekisruhan kotaku dengan cukup gencar.

”Mari kita ciptakan kehidupan kota yang kondusif, mari bergandengan tangan membangun kota yang kita cintai bersama.” Barangkali inilah kata-kata mutiara yang cukup bijak yang menjadi inti setiap pertemuan mulai dari acara diskusi, dialog, pertemuan. Kata ”mari” menjadi semacam kata kunci yang berlompatan bagai air terjun dari mulut para pengamat sosial dadakan itu. Makin lama jumlah mereka makin bertambah hingga hampir setengah lebih penduduk di kotaku mengusung lebel nama pengamat sosial. Mereka bergentayangan di forum-forum, di radio dalam acara interaktif, di televisi, di kantor-kantor, sampai-sampai di kampung-kampung. Aku semakin takut karena aku tidak bisa mengikuti mereka untuk menjadi pengamat. Sementara di luar ruang debat para pengamat, tindakan anarkhis tetap bermunculan, teror di mana-mana. Suatu kali kuberanikan diri ikut masuk dalam dialog interaktif yang digelar salah satu stasiun radio. ”Selamat pagi. Om Swastiastu, saya Jontol ingin ikut interaktif,” kataku melalui pesawat telepon. Berselang beberapa detik gagang telepon di seberang sana kudengar ditutup. Barangkali nama Jontol tidak bonafid untuk ikut nimbrung dalam arena terhormat membicarkaan nasib kota yang carut marut. Sejak itu aku takut berkeinginan ikut interaktif di radio. Selanjutnya mendengar siaran radio pun aku takut.

Atas saran banyak rekan, juga psikiater yang pernah kukunjungi — tentu saja yang tidak menakutkan — aku diharapkan banyak istirahat. Aku ingin mencobanya. Beristirahat? Bukankah itu perbuatan seorang pengecut yang mencoba lari dari kenyataan. Aku manusia kerja yang produktif, kreatif, bukan manusia istirahat, pemalas, dan tidak produktif. Dengan beristirahat jangan-jangan rasa takut itu melakukan konsolidasi dengan rasa takut yang lain di setiap lorong kota sehingga terbentuk forum atau aliansi, atau komunitas rasa takut tingkat kabupaten yang siap menggempurkan begitu aku terjaga dari istirahatku. Rasa takut yang semula kekuatannya hanya biasa-biasa saja bisa jadi sangat luar biasa.

***

Tidak! Tidak!
Aku harus mengadakan perlawanan. Aku harus menghabisi rasa takut yang ada sebelum ia sempat bergabung, berserikat dengan rasa takut yang lain. Aku harus menghabisi rasa takut yang baru memiliki kekuatan biasa-biasa saja itu dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Kalau terlambat sedikit saja, rasa takut itu akan memiliki kekuatan luar biasa. Aku harus mengadakan perlawanan.

Perlawanan episode pertama kulakukan. Aku mengambil sepeda motor, kuservis di bengkel, aku preteli sehingga penampilannya cocok untuk sepeda motor yang biasa digunakan anak muda trek-trekan di jalan. Tanpa mengenakan baju, tanpa helm aku mengendarai sepeda motor perlawananku dengan kecepatan maksimal. Bunyi knalpot yang menderu seakan mengaum menenggelamkan kebisingan kota. Aku tak takut lagi.

Aku maki setiap pengendara yang kusalip atau kupapas, aku tantang mereka adu kecepatan. Dengan gaya zigzag kubedah setiap sudut kota, tanpa baju tanpa helm. Giliran orang-orang sepertinya ketakutan melihat perlawananku, termasuk polisi lalu lintas.

”Jontol ternyata seorang pemberani!” teriakku sambil tertawa terkekeh-kekeh di antara pandangan kosong orang-orang yang memandangku. Suara knalpot tetap menderu-deru, mengaum-aum, dan kecepatan lari sepeda motorku yang maksimal membuat aku menjadi jagoan jalanan.

Episode berikutnya, perlawanan aku lakukan di kampus. Aku tantang mahasiswa, dosen, termasuk rektor untuk berdebat, berdiskusi dalam dalam forum ilmiah apapun. Aku telah mempersiapkan makalah sebagai bahan presentasi, aku sudah persiapkan proposal penelitian untuk dibahas civitas akademika, tapi ternyata mereka takut meladeniku. Mereka seakan keder berhadapan dengan jagoan baru yang dengan kecemerlangan pikiran siap menantang siapa saja.

Berikutnya aku berkeliaran di kota memasuki setiap kantung-kantung dimana preman kota biasa mangkal. Berbekal sebilah keris kecil luk tiga aku tantang mereka untuk duel. Warik, preman papan atas di kota itu aku datangi, aku tantang untuk duel, juga Dewa Gerodog, Blawa, Tole juga Mang Lente. Mereka seakan keder didatangi seorang jagoan baru yang dengan keberanian prima siap duel. Agar lebih efektif, aku sebarkan ratusan selebaran berisi tantangan bahwa aku Jontol beralamat di jalan anu nomor anu lengkap dengan nomor telepon sekian sekian sekian, siap berkelahi dengan siapa saja.

Berhari-hari perlawanan itu kulakukan. Aku berkeliaran mengendarai sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi tanpa baju, tanpa helm membedah kota, tak lupa mengumbar makian, juga tantangan untuk berkelahi. Berhari-hari pula dengan berbekal keris kecil ber-luk tiga aku menyatroni kantong-kantong dimana preman sering mangkal. Tak ada reaksi dari mereka. Tak ada yang memberi respons atas tantanganku.

Suatu siang, ketika agenda rutin perlawanan yang kulakukan memasuki hitungan satu bulan tujuh hari, ketika aku mengendarai sepeda motor tanpa baju, tanpa helm dengan suara knalpot meraung-raung, keris kecil ber-luk tiga di pinggang sambil mengumbar tantangan untuk berdebat, berkelahi pada siapa saja, kulihat orang-orang bergerombol. Di antara orang-orang yang bergerombol itu kulihat ada beberapa orang dari kalangan kampus dari kampus — rektor salah satunya, kulihat ada pengamat sosial, kulihat beberapa preman seperti Warik, Dewa Gerodog, Blawa, Tole, Mang Lente dan preman lainnya.

”Kebetulan kalian berkumpul, ayo giliran kalian meladeni kemauanku!” kutantang mereka dengan spirit bertempur yang prima. Orang-orang bergerombol itu hanya diam.

”Yang mengaku kaum intelektual kuladeni kalian untuk berdebat tentang apa saja. Atau yang merasa preman di kota ini kuladeni kalian untuk berkelahi. Aku tidak takut lagi pada kalian.”

Mereka hanya diam, bengong, melongo saling pandang. Aku merasa bahwa lebel jagoan baru untuk Jontol tak tergoyahkan. Mereka tetap diam dan bengong, sementara suaraku makin serak dan parau kalau lama mengumbar tantangan. Di sela-sela keterdiaman dan kebengongan mereka kudengar ada di antara mereka berbisik-bisik, tetapi bisikannya sampai juga ke telingaku.

”Kasihan nasib mantan aktivis kampus itu.” Salah seorang dari mereka yang berbisik itu meletakkan jari telunjuknya di depan dahinya dengan posisi miring.

Hah, Dewa Ratu! Mendengar itu kepalaku keakan kena benturan benturan berton-ton rasa takut yang kemudian mengalir deras ke sekujur tubuhku. Aku kembali didera rasa takut, takut, lebih hebat dari sediakala.

Maret 2003