APA untuk Ditulis, Bukan Sekedar Apa

Wawan Eko Yulianto

Jadi ingat saya, bagaimana ketika itu saya ingin sekali menjadi penulis. Sebagai konsekuensi, saya pun membaca Seno Gumira Ajidarma dengan serius. Beberapa saat kemudian, tanpa sadar saya membuat cerpen yang ke-Seno-senoan (menurut saya sih). Selanjutnya saya membaca serius Jorge Luis Borges, setelah lama sebelumnya saya membaca penulis Argentina ini sambil lalu, dan kemudian membuat cerpen yang, menurut teman saya sih, ke-Borges-borges-an (andai teman saya sekarang bilang begitu lagi, pasti saya langsung syukuran!). Semacam itulah. Hari-hari itu saya semangat sekali menulis. Ditambah lagi kemudian saya rutin menempuh perjalanan dari kota M ke kota K, dua kali seminggu! Maka saya pun menulis banyak cerpen.

Tapi, ketika kemudian saya melihat istri saya mati-matian menggemari Para Priyayi, Ronggeng Dukung Paruk, Canting, Burung-burung Manyar, dan sama sekali tidak pernah menyentuh Borges, Seno, dan penulis lain yang saya agung-agungkan, saya jadi mikir. Saya jadi curiga ada sesuatu di belakang novel-novel ini yang begitu mempesona. Bayangkan, istri saya bisa membaca Para Priyayi sampai enam kali dalam seminggu (ketika suatu kesempatan membawanya terpencil ke sebuah desa di kedalaman Blitar). Apa sih di baliknya? Begitu juga kasusnya dengan Burung-burung Manyar dan Ronggeng Dukuh Paruk. Saya pernah melihat dia membawa buku itu secara bergantian dia bawa ke tempat kerja selama beberapa bulan. Katanya sih kalau istirahat akan dia baca. Hmm… saya saja yang membelinya tidak pernah membaca buku-buku itu lebih dari sekali.

Akhirnya, saya pun melihat tulisan-tulisan saya lagi. Beberapa cerpen menurut saya sangat bagus (Hehehe…) dan beberapa lainnya punya tema yang mantap dan ending yang sukar ditebak (alah!). Tapi, saya tiba-tiba sadar bahwa setelah selesai membaca cerita itu, kemungkinan besar pembaca tidak akan membacanya lagi. Ya. Ya. Setelah masa kelimpungan yang panjang, saya pun menyimpulkan: tidak ada isi yang benar-benar kuat di dalam cerita-cerita itu, tidak ada pandangan yang baru, yang orisinil yang berarti, yang menggetarkan hati, yang layak dibaca lagi, dan lagi, dan lagi…

Akhirnya, saya introspeksi diri (hmm…) dan sedikit demi sedikit mulai melayangkan tuduhan kepada diri saya sendiri: kamu sih, MEMPELAJARI SENO GUMIRA AJIDARMA YANG MEGAH ITU HANYA SEBATAS MEMPELAJARI GAYANYA! kamu juga MEMPELAJARI SI JENIUS BORGES YANG ABADI ITU HANYA UNTUK MENGETAHUI BAGAIMANA DIA MEMBELOKKAN LOGIKA DAN FILSAFAT! dan kesalahan mega besarmu lainnya adalah MEMPELAJARI JAMES JOYCE UNTUK MENIRU BAGAIMANA DIA MEMBUAT BENTUK PROSA YANG ‘TUNE IN’ SAMA ISINYA! dengan mempelajari barang-barang ini DOANG, pasti lah kamu hanya akan bisa menulis cerita-cerita yang bermain-main dengan bentuk!!!!

Saya pun berdoa, “Tuhan, lantas apa yang musti saya lakukan!” Tuhan pun memberikan petunjuk tanpa melawan hukum alam: terbetik keinginan (ciyye…) untuk melongo APA sih yang mereka, para penulis agung itu, tuliskan. Menemukan buku Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara karya sang legenda gondrong Seno Gumira Ajidarma (sepenuh hormat!) adalah salah satu penemuan kitab terbesar dalam rentang karir kepemimpian saya. Membaca di Horison bagaimana Ahmad Tohari menulis Ronggeng Dukuh Paruk karena digerakkan oleh protes dan kemarahannya atas bagaimana pemerintah tidak begitu mengurusi rakyat kecil adalah momen bersejarah lainnya. Ya, ada sesuatu yang menyertai karya itu sebelumnya. Sesuatu itu bisa bernama kepedulian, bisa bernama kemarahan. Tulisan dituliskan bukan sekedar karena ingin jadi penulis.

Mungkin pada awalnya Seno Gumira Ajidarma atau Ahmad Tohari ingin menjadi penulis. Hanya Tuhan yang tahu, tak juga kau, tak juga aku. Tapi, untuk karya-karya agung mereka, mereka menuliskannya karena memang harus, bukan karena ingin sahaja. KARENA HARUS. Seno Gumira Ajidarma merasa HARUS MENULISKAN TRAGEDI TIMOR-TIMUR, karena dengan begitu semakin banyak orang yang mengerti tentang tragedi itu. Ronggeng Dukuh Paruk harus dituliskan sebab tanpa itu tidak banyak orang yang tahu bagaimana rakyat kecil nan tak berdosa juga terkena dampak penumpasan PKI.

Dan dengan segala sesal menganga dan malu yang menetes-netes anyir, saya pun harus mengakui bahwa saya harus tahu banyak, selain sastra, untuk bisa membuat tulisan yang berguna, yang dibaca, yang mencerahkan. Ya, kalau terus-terusan membaca cerpen orang untuk mempelajari gayanya, sama saja konyol. Apa saya ini cuma ingin menulis buku kumpulan gaya cerpen? Wah. Alkonsekuensi, saya pun jadi harus tahu banyak hal, harus sadar akan banyak hal, dan kalau memang memungkinkan, mengungkapkan pandangan-pandangan personal saya yang mungkin bisa menyumbang pemikiran. Ya, sementara menurut saya seperti itu. Kalau mau menulis, PENTING JUGA MEMIKIRKAN APA YANG DITULISKAN, BUKAN SEKEDAR BAGAIMANA MENULISKANNYA. Apa ini bukan sekedar apa, tapi benar-benar APA!!!
have a nice reading… and please consider ethics even in this opensource era…

Sumber: http://berbagi-mimpi.info/2007/06/13/apa-untuk-ditulis-bukan-sekedar-apa/