A Y A H

DG. Kumarsana
http://www.balipost.co.id/

NYOMAN memandang es kelapa muda di hadapannya dengan mulut membisu. Minuman itu tidak lagi menawarkan kesejukan di kerongkongan, seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi, hambar! Pikirannya kacau. Ada perasaan gelisah dalam benaknya, Lagi kangen? Kangen dengan siapa, Neni? Busyet, sudah terlalu sering bertemu, bahkan saking seringnya sampai membosankan, pikirnya.

Mimpi tadi malam membuatnya trenyuh. Konon kalau lagi bermimpi naik sepeda, naik bis beramai-ramai atau mengendarai kendaraan atau mimpi bertarung, apa lagi bermimpi naik pesawat terbang. Itu artinya sudah memulai babak baru dalam hidup dengan tantangan ilmu halus. Atau sebuah pertarungan yang tidak kelihatan, istilahnya orang ?nyabuk?, sejenis ikat pinggang berisi ilmu kekebalan tubuh, sehingga pada saat pertarungan berlangsung dengan musuh hanya sabuknya saja yang terbang, begitu kata orang pintar. Tapi itu dalam mimpi yang menurut pendapat orang tua Nyoman, terutama ayahnya pernah mengatakan kita akan siap menjadi ayam aduan.

“Ayam aduan?” tanya Nyoman tidak mengerti. Bagaimana kita yang sudah terlahir lebih sempurna dari hewan kok justru harus menjadi ayam kembali. Dan ayam aduan lagi. Nyoman semakin tidak mengerti dibuatnya.

Nyoman kemudian ingat akan cerita ayahnya dalam pengalaman bertarung seperti apa yang menjadi tradisi dalam keluarga leluhurnya yang telah digariskan secara turun temurun. Lalu ia diberikan gegemet, semacam kesaktian oleh kakeknya menjelang usianya yang menginjak dewasa.

“Bawalah ini cucuku,” ujar kakek itu dengan suara parau berat.

“Buat apa Kek, sekarang bukan jaman perang lagi?” Nyoman mengelak walau tidak berusaha untuk menolak. Jaman sekarang justru yang gentayangan adalah demontrasi,dimana-mana, di jalanan, di depan gedung DPR.Denyut nadi jalanan dipenuhi teriakan ketidak adilan yang berujung pada demontrasi, perang ekonomi sesama negara bahkan di dalam negara itu sendiri, perang ekonomi dalam bathin sesama tetangga, itu yang lebih hebat. Lha buat apa benda yang disebut gegemet ? Nyoman melongo. Tidak mengerti.

“Sekarang ini jaman memerangi diri dari kebodohan dan sasarannya adalah generasi muda dalam wujud pendidikan, memerangi narkoba, racun dunia para generasi muda, sekarang ini jaman memerangi korupsi, kek,” Nyoman menjelaskan.

“Anak bodoh! Sok pintar kamu!” kakeknya mendamprat, suaranya terdengar keras. Matanya mendelik seperti mata barong, jidatnya mengkerut seperti buntelan kain kusut. Ditarik jenggotnya dengan tangannya yang kisut masih menyisakan otot-otot kekar, kejantanan yang membayang jelas ketika muda dulu.

Nyoman terkejut, baru kali ini merasakan hawa panas kemarahan orang tua yang disebutnya kakek.

Kakek memang keras, ia pernah dengar cerita ayahnya. Kalau kakek bisa terbang, menjadi api di ketinggian pohon kelapa, mampu menghentikan hujan yang demikian lebat disertai gemuruh sangat hebat, bahkan mampu mendatangkan hujan. Bisa berubah-ubah jadi apa saja bahkan bisa menghilang. Karenanya orang-orang kampung mengetahui kalau kakeknya sakti mandraguna.

Nyoman mempunyai empat orang nenek yang di usia tuanya masih mengguratkan kecantikan masa remaja dulu, itu berarti kakeknya sewaktu muda memang ganteng. Saking gantengnya empat wanita bertekuk lutut di hadapannya. Barangkali ada hubungannya dengan ilmu yang dimiliki kakek. Yang jelas Nyoman pun merasakan kalau dirinya mirip kakek, sekalipun ibunya Nyoman hanya satu sepertinya ayah tidak mengikuti jejak kakek. Tapi ntar dulu, wah, jangan-jangan nanti malah dirinya yang akan beristri banyak setelah mewarisi ilmu itu. Namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam Nyoman tidak suka itu, lihat saja nenek-neneknya. Semua rada-rada: cerewet minta ampun!! hampir sekampung gempita oleh suara nenek-nenek bawel. Bagaimana nanti kalau Nyoman menambah isi rumahnya dengan banyak Neni-Neni lain? Ah, akan bisa seperti pasar kampung ini dibuatnya. Nyoman galau dan hanya geleng-geleng kepala.

“Justru karena tidak ada perang kamu harus lebih siaga!!”

Nyoman tersentak kaku, kakeknya masih marah.

“Lho?!” celetuknya kaget.

“Hei, Nyoman goblok! Di jaman perang dulu yang kita hadapi adalah musuh-musuh, yang kita pertahankan adalah negara dan harga diri sebagai seorang manusia. Musuh itu jelas terlihat dan kita hadang dengan gagah berani. Sekarang ini justru perang dalam bentuk lain. Semuanya menjadi musuh dalam wajah yang terlihat berperingai penuh dengan persahabatan. Ini justru lebih parah daripada perang yang sesungguhnya. Karena senjatanya bersentuhan lewat angin.Tanpa kita rasakan apa-apa besok muntah darah, lalu matanya mendelik dan perutnya kejang, kemudian menjerit dan mati!”

Nyoman menjadi tidak mengerti dengan ucapan kakeknya, tapi bergidik juga dibuat.

“Terimalah dan bawa amanat keluarga ini,” suara kakek serius.

Nyoman menerima bungkusan kain putih kekuning-kuningan agak kusam dan sangat kumal saking lamanya tidak tercuci. Barangkali memang tidak boleh kena air dan sabun. Ketika bungkusan itu dibuka dadanya berdebar-debar, isinya macam-macam. Ada kepingan uang logam dirajah.

Tiba-tiba Nyoman ingat ketika dulu pernah mengantar temannya ke dukun untuk mencari pelet, karena temannya Ketut Lungsur tertarik pada bidadari teman sekelasnya .Lalu si dukun pelet itu memberikan kepingan uang logam persis seperti yang diberikan kakeknya ini. Alhasih, Ketut Lungsur ibarat pangeran bertemu permaisuri dalam pelukan asmara sampai melahirkan beberapa orang anak Jelas kepingan uang logam itu mampu menunjukkan khasiatnya.

Nyoman senyum-senyum ingat kisah temannya. Ia jadi geli sendiri. Dilihat sekali lagi isi bungkusan itu,ada sebilah keris kecil, ada batu-batu dan entah apa lagi isinya. Barangkali ini yang mampu membuat kakeknya terbang.

“Apakah keris ini mampu membikin saya menjadi seorang sarjana yang mampu merakit pesawat terbang,” pikir Nyoman sambil menimang-nimang benda langka itu.

“Kenapa tidak?” suara kakeknya terdengar menggelegar di telinga Nyoman, seperti tahu jalan pikiran Nyoman.

Tiba-tiba keringat dingin mengucur deras di tubuhnya. Jiwanya bergetar dan perasaan takut menghantui bathinnya. Apa benar yang didengar dari cerita-cerita orang kampung, bahkan cerita ayahnya, kalau kakek benar-benar sakti. Rasanya teknologi canggih jaman sekarang ini pun belum mampu mendeteksi apa yang ada dalam pikiran seseorang.

Akhirnya Nyoman bermuara pada satu kesimpulan utuh, bulat serta tidak bisa di tawar-tawar lagi, bahwa kakeknya memang sakti dan itu telah ia buktikan sendiri kebenarannya.

“Justru di saat kamu telah menjadi sarjana dan lebih-lebih lagi telah memperoleh kedudukan yang bagus, nantinya kamu akan bertemu dengan sebuah peperangan yang menarik. Pertempuran yang tidak adil bahkan sering tidak seimbang. Senjata-senjata aneh merasuk ke badan, berseliweran bagai pecahan-pecahan meteor. Mau jadi sasaran senjata? Atau badanmu kena peluru nyasar tanpa kamu ketahui sumbernya dari mana?” tanya kakek sambil melirik Nyoman.

Nyoman meringis setengah bergidik.

“Itu berarti kalau saya membawa alat ini, akan menjadi sakti ya,kek?”

Kakek manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya.

Nyoman sekali lagi memandang es kelapa muda di hadapannya. Sekali lagi kegelisahannya yang timbul bukan karena Neni. Yang pasti Neni ada dalam keadaan baik-baik. Mimpinya telah menjadi kenyataan, ia ibarat ayam aduan yang tengah mengincar leher musuhnya hingga kepala musuhnya terengah-engah kesulitan napas. Hanya dengan satu tusukan taji yang ia gambarkan dalam wujud sebilah keris, musuhnya mengerang kesakitan dan darah mengucur deras membasahi tanah kampung. Nyoman beringas dan seperti ayam ia berkokok lantang, musuhku mati!” teriaknya penuh semangat kemenangan.

Menjelang matahari terbit di ufuk timur kampung, dilihatnya seisi keluarga pada menangis histeris. Tubuh ayahnya terbujur kaku di bale gede ditangisi ibunya, adik-adiknya, kakaknya, saudara-saudara yang lain, saudara-saudara ayahnya dan entah siapa lagi. Nyoman merasa menyesal dan sangat terpukul! Apakah taji yang tergambar dalam wujud keris yang ia lepas bertubi-tubi telah menghantam tubuh ayahnya? Apakah ia salah sasaran sebagaimana yang digambarkan kakeknya seperti sebuah peluru nyasar yang menyisir setiap lawan? Malam terlalu gelap. Tidak menyembunyikan kepekatan. Kegelapan yang tak mampu membedakan mana kawan. Mana lawan.

07 Agustus 2011 | BP