EMAK

Hat Pujiati
http://www.balipost.co.id/

Emak menghempaskan pantatnya di balai-balai bambu di ruang tamu yang tak berkursi itu. Lantai tanah dan dinding bambu yang jauh dari sederhana itu membuatnya nyaman. Kakinya berselonjor terbalut kain batik selutut yang sudah lusuh dan kumal. Ada lumpur kering yang lolos dari awasnya saat ia membasuh betis hitamnya di kanal-kanal sawah sepulang dari kerja siang itu. Kuku-kuku kakinya hitam menempel pada jari-jari kaki yang pecah-pecah.

Musim tanam begini adalah musim duit untuknya. Di pagi buta ia akan menyusuri jalan-jalan setapak menuju lokasi tanam yang tak terjangkau jarak pandang dari rumah. Bersama perempuan-perempuan seusianya, bahkan ada beberapa yang lebih tua darinya. Ia mencumbu lumpur dengan menghunjamkan batang-batang padi ke dalamnya.

Seperti siang itu, sepulang dari sawah, emak membeber lembar-lembar rupiahnya yang ia keluarkan dari lipatan kain panjang di dekat perutnya.

“Ini uang belanja buat besok,” katanya sambil menyodorkan tiga lembar ribuan pada putrinya yang sejak tadi memperhatikannya.

“Berasnya masih, kan?” Lanjutnya lagi pada perempuan itu. Ia hanya mengangguk pelan tanpa ekspresi yang jelas.

“Ya, sisanya kamu tabung. Belilah lipstik dan bedak agar wajahmu tak kuyu begitu.” Emak terdiam sejenak sambil mengamati wajah Tuminah yang tercenung di hadapannya.

“Kamu sudah cuci baju yang Mak belikan dari Holipah kemarin?”

“Sudah, Mak. Tapi Tum tak suka pakaian seperti itu.” Tuminah melipat uang tiga ribunya dan menyelipkannya ke dalam bra hitam dengan jahitan benang putih pada talinya.

“Kenapa? mau beli yang baru saja? kan sayang uangnya. Lebih baik dibelikan yang lain saja. Lagi pula itu produk luar negeri, lo.” Emak masuk ke ruang tengah. Sesaat kemudian dia kembali dengan blazer kuning di tangannya. Sementara Tuminah menatapnya dengan wajah cemberut.

“Tum tidak suka modelnya. Itu kan baju kantoran, Mak. Untuk kemana Tum dengan model baju begitu,” gerutunya sambil melepaskan pandangannya ke halaman rumah yang rimbun dengan tanaman singkong dan perdu.

“Ya kamu pakai kalau diajak jalan-jalan sama Sukarman. Nanti sore ia akan ke mari. Tadi pagi Emak bertemu dengannya di perempatan jalan waktu dia akan berangkat kerja.”

Wajah Tuminah kian masam. Tanpa sepatah kata pun ia tinggalkan Emak, lalu menghambur ke ranjang tuanya yang berselambu putih lusuh. Matanya berkaca-kaca. Sukarman! Sukarman! Sukarman! Setiap nama itu keluar dari mulut Emak, dadanya berdegup kencang seperti gemuruh kereta lewat.

Setahun lalu, Emak bilang bahwa Kang Kardi adalah orang yang tepat untuknya. Dia duda beranak tiga yang baru ditinggal mati istrinya. Usianya dua kali lipat usia Tuminah tapi dia diwarisi beberapa petak sawah oleh istrinya. Di samping itu, berpengalaman sebagai kuli bangunan di Bali, Jakarta, dan dua tahun di Malaysia. Kata Emak nantinya Tuminah tak kan perlu khawatir soal bagaimana menghidupi dirinya.

“Tapi Tum tidak mencintainya, Mak.” Isaknya saat ia menolak ijab.

“Nanti kau akan belajar untuk itu.” Jawab Emak datar sambil menatapnya tajam.

“Tum tidak mau melayaninya.” Derai air matanya membuat bedak tebal yang menempel di mukanya leleh.

“Mau menunggu Joko yang masih kuliah? Kupingmu ra krungu ta? Bu Lurah mencak-mencak nggak bakal membiarkan putranya menikahi babu, anak buruh tani seperti kamu, Nduk! Jangan bermimpi jadi si Bawang Putih atau si Upik Abu. Jatah rezeki kita memang hanya segenggam. Tak usah mengharap semangkuk. Kita memang miskin, jangan bermimpi terlalu tinggi, kalau jatuh akan sakit, Nak.” Emak tampak gusar.

“Kita memang miskin, tapi kan sah saja kita punya mimpi. Gusti Allah juga tidak melarang bermimpi, Mak. Setidaknya ada usaha untuk memperbaiki keadaan, membuat mimpi kita jadi nyata,” jawab Tuminah di sela isak tangisnya.

“Boleh bermimpi tapi tidak dalam hal ini, Nduk. Kasihani emakmu ini..Emak tak lagi mampu menjagamu karena kau beranjak dewasa, kebutuhanmu semakin banyak. Kardi pasti mampu menjagamu dengan baik.”

17 Juli 2011 | BP