Hardi: Banyak Budayawan Jadi “Durno”

Ami Herman
http://www.suarakarya-online.com/

Indonesia memang punya sosok budayawan cukup banyak. Tidak sedikit diantara budayawan itu kini menebar pesona, berjuang menjadi politisi. Bahkan ada yang sudah berhasil menjadi wakil rakyat, dan sangat menikmati kursi empuk yang didudukinya di gedung parlemen.

Sekarang, masyarakat sering mempertanyakan mereka. Apa saja yang dikerjakan para budayawan yang sudah duduk di DPR itu? Sudahkah mereka memberi perhatian terhadap potensi seni budaya kita yang kini banyak terbengkalai? Mengapa mereka baru berlomba-lomba jadi pahlawan setelah menyadari tidak sedikit potensi seni budaya kita dicaplok negara asing?

Kenapa pula wakil-wakil rakyat – dari kalangan budayawan di DPR – itu cenderung diam dan tidak punya kepedulian membantu pemerintah dan sekelompok warga yang berjuang di badan dunia agar angklung, wayang, keris dan lain-lain menjadi warisan budaya dunia?

Hardi, salah seorang budayawan yang dimiliki Indonesia hanya tertawa ketika disinggung hal itu. Diwawancarai Suara Karya di Jakarta, Kamis lalu, maestro lukis kelahiran Blitar 26 Mei 1951 – bernama asli R Suhardi Adimaryono – ini mengaku sedih melihat banyak potensi seni budaya kita tidak terurus. Untuk menangani potensi seni budaya kita yang terbengkalai, memang ada instansi teknis yang ditugasi mengurus hal itu. Tetapi fungsi sebagai budayawan juga harus punya tanggungjawab moral bagaimana mendorong pemerintah agar potensi tersebut bisa dibangkitkan, ditangani secara benar dan kemudian menjadi kebanggaan masyarakat dunia.

“Tetapi saya lebih sedih lagi karena belakangan ini bermunculan sosok budayawan jadi durno. Mereka muncul di televisi, dan dengan gagahnya mendiskreditkan sesama manusia, bahkan pimpinannya sendiri. Budayawan macam apa itu? Kok budayawan tidak berbudaya? Lha orang macam itu yang namanya durno, dan sekarang bermunculan di televisi, menjual pesona durno…” ujar Hardi sambil geleng-geleng kepala.

Durno dalam cerita pewayangan adalah sosok pendeta yang dihormati karena kharismanya sebagai seseorang yang punya pengaruh dan kemampuan menjadi pimpinan. Tetapi durno juga punya kekurangan, yakni berhati busuk, suka menzolimi sesamanya.

Hardi kemudian meminta wartawan serta para budayawan lainnya mencermati penampilan Slamet Rahardjo dan Butet Kertaradjasa di Metro TV, kemudian Arswendo Atmowiloto serta Sujiwo Tedjo di TV One.

Menurut penilaian Hardi, penampilan empat budayawan itu di televisi sangat memprihatinkan. Melalui acara yang mereka pandu, Slamet dan Butet kerap menelanjangi habis-habisan pimpinan negeri ini tanpa memberikan solusi bagaimana sebaiknya menjadi pimpinan yang disukai masyarakat.

Sekarang ini, kata Hardi, siapa pun yang jadi Presiden Indonesia akan serba salah kok. Sebagai budayawan yang lahir dari dunia perfilman dan pentas teater, mestinya Slamet dan Butet dalam mengeritik pimpinan atau siapapun juga selalu menawarkan sejumlah solusi. “Jangan jadi durno dong. Kalau hanya melihat sesuatu dari sudut jeleknya saja itu gampang. Tapi kalau mereka bisa menawarkan solusi, kemudian ketika diterapkan solusi itu tepat, mereka kan akan jadi hebat. Nah kenyataannya itu tidak mereka tampilkan. Cuma mengeritik saja bisanya. Itu sosok budayawan yang tidak berbudaya. Malu maluin saja,” ujar Hardi.

Begitu juga dengan Arswendo Atmowiloto dan Sujiwo Tedjo. Tiap tampil di TV One selalu menjelek-jelekkan pejabat negara, bahkan Ibu negara. “Memangnya Arswendo dan Sujiwo Tedjo itu siapa? Karya mereka sudah sehebat apa? Saya mengusulkan sudahilah bersikap ala durno dan kembali bertobat. Arswendo kembali bikin naskah film yang bagus, karya-karya sastra yang bisa mendunia. Sujiwo Tedjo juga kembali mendalang. Jadilah dalang yang benar yang karyanya menginspirasi masyarakat ke jalan benar. Jangan biasakan diri menjelek-jelekkan orang, karena itu bukan jatidiri seorang budayawan. Budayawan haruslah orang yang tahu budaya. Tetapi sikap Arswendo dan Sujiwo Tedjo, juga Butet dan Slamet Rahardjo hanya malu-maluin sosok budayawan. Tulis begitu agar mereka sadar,” jelas Hardi lagi.

Hardi mengungkapkan, keprihatinannya melihat sekarang bermunculan budayawan jadi durno, kemudian berdiskusi dengan wartawan, semata-mata karena ingin mengajak teman-temannya (Slamet Rahardjo, Butet Kartarajasa, Arswendo Atmowiloto dan Sujiwo Tedjo) itu kembali ke jalan yang benar. “Soalnya, jangan-jangan mereka mencaci maki pejabat negara di televisi hanya karena honor Rp 500 ribu. Duh, kasian banget kalau begitu…” kata pelukis yang pernah dipenjara gara-gara bikin lukisan dirinya menjadi Presiden 2001.

Hardi kemudian memberikan contoh Taufik Rahzen dan beberapa nama budayawan lain seperti Emha Ainun Nadjib dan Kiai Haji Mustofa Bisri. Mereka itu,menurut pelukis yang bulan lalu memamerkan karya-karya retrospeksi di Taman Ismail Marzuki ini, terus produktif berkarya tanpa membiarkan mulutnya nyinyir mencaci oranglain.

“Kita harus malu kepada Mochtar Lubis dan Pramoedya Ananta Toer. Mereka terus menciptakan karya-karya besar yang akhirnya dibanggakan masyarakat dunia. Padahal mereka juga mengalami tekanan hebat di dalam negeri,” lanjut Hardi.

Kepada Slamet Rahardjo, Butet Kartaradjasa, Arswendo Atmowiloto, Sujiwo Tedjo dan sejumlah budayawan lainnya yang lebih suka “diam” di gedung DPR, Hardi mengingatkan, bahwa salah satu ketertinggalan Indonesia saat ini adalah lemahnya dalam semangat menjaga dan memajukan potensi seni budaya Indonesia. Dalam soal film, teater dan pedalangan misalnya, Hardi sangat yakin, Arswendo, Slamet, Butet dan Sujiwo Tedjo punya kemampuan untuk mengangkat potensi seni budaya Indonesia di forum dunia. Dan menurut Hardi, menjual potensi seni budaya Indonesia ke forum dunia jauh lebih bermartabat dan membanggakan sosok budayawan ketimbang teriak-teriak memamerkan mulut nyinyir di televisi.

“Sekali lagi saya ngomong begini hanya untuk mengajak teman-teman saya itu kembali ke jalan yang benar. Mereka paham kok jadi Durno itu tidak sepantasnya mereka lakukan… ” tutur Hardi sembari mengakhiri perbincangan ini.

27 Agustus 2011