Mudik Lebaran

Asep Yayat
http://www.suarakarya-online.com/

Setiap lebaran aku selalu pulang kampung. Mudik. Tak terkecuali lebaran kali ini. Segala persiapan sudah beres. Jadi, tinggal berangkat saja. Beberapa hari lalu mobil sudah kubawa ke bengkel: ganti oli plus servis mesin dan penyejuk udara alias AC. Dengan demikian, meski terbilang sudah uzur, mobilku tetap nyaman dan bisa diharapkan tidak mogok di perjalanan.

Sementara itu, oleh-oleh buat ibu di kampung sudah dibungkus rapi dalam rupa kado dengan hiasan pita sehingga berkesan istimewa. Beberapa kardus juga sudah dilakban. Isinya: bingkisan untuk kerabat, terutama Nung yang sehari-hari menemani dan merawat ibu.

Nanti pagi menjelang adzan shubuh, ketika orang-orang sedang santap sahur, aku bersama istri dan anakku semata wayang mulai meluncur meninggalkan Jakarta. Mudah-mudahan arus kendaraan di jalur pantura sudah tidak macet lagi seperti heboh diberitakan di televisi tadi sore. Tapi kalaupun perjalanan mudik lebaran ke arah timur Jakarta masih dihadang macet, aku sudah siap mental. Paling tidak, pengalaman bermacet-macet saat mudik lebaran di tahun-tahun yang lalu telah membuat mentalku tahan banting. Jadi, hadangan kemacetan lalu lintas di perjalanan tak bakal membuatku senewen.

Boleh jadi, sikap mentalku membaja juga karena aku demikian bersemangat menyongsong mudik lebaran ini. Ya, karena bagiku mudik lebaran sudah menjadi semacam ritual tahunan. Mudik lebaran kuanggap sebagai momen istimewa yang tak boleh dilewatkan begitu saja. Dengan mudik lebaran, aku bisa bersilaturahmi dengan keluarga di kampung. Terutama dengan ibu yang sudah sepuh.

Lebih dari itu, mudik lebaran juga menjadi istimewa karena membuatku merasa bisa berbakti kepada ibu: menunjukkan perhatian sekaligus memohon ampun dan doa.

Karena itu, setiap selesai sungkem kepada ibu di pagi pertama idul fitri, aku selalu merasa bahagia. Batinku terasa mendadak jadi lapang. Jiwa dan pikiranku jadi kembali jernih dan segar. Tak lagi sumpek akibat sehari-hari terus didera berbagai masalah.

Boleh jadi, momen idul fitri membuatku merasa tercerahkan secara spiritual karena dalam keseharian aku senantiasa dibebani pikiran tentang ibu. Hati kecilku tak bisa menerima kenyataan bahwa ibu yang sudah sepuh hidup jauh dari kami, anak-anaknya. Terus-terang aku merasa berdosa. Mestinya kami yang sehari-hari menjaga dan merawat ibu di hari tuanya sekarang.

Aku malu kepada Nung. Sepupuku itulah yang selama ini berbaik hati menggantikan kami mendampingi ibu. Nung bukan saja sehari-hari menemani ibu, melainkan juga merawatnya dengan telaten. Pokoknya, berkat Nung, kami tak beralasan mencemaskan soal ibu di kampung.

Tapi sampai kapan? Kalau suatu hari nanti Nung mendapat jodoh, apa mungkin dia tetap bisa mengurus ibu seperti selama ini? Rasanya tidak! Aku yakin, suami Nung nanti – siapa pun dia – hampir pasti berkeberatan kalau Nung tetap mengurus ibu. Terlebih lagi kalau Nung nanti dibawa suaminya keluar dari kampung kami.

Andai pun setelah berkeluarga nanti ternyata tetap tinggal di kampung kami, Nung boleh jadi tak bakal mendapat izin suaminya untuk tetap mengurus ibu! Atau kalaupun suami Nung memberi izin sekalipun, dan Nung sendiri masih bersedia merawat ibu, situasinya tentu lain. Paling tidak, perhatian Nung jelas tak bisa diharapkan lagi sepenuhnya untuk ibu. Sebagai istri dan mungkin ibu anak-anaknya, perhatian Nung kepada ibu niscaya tak mungkin lagi bisa seperti selama ini.

Sebenarnya, kami – tiga bersaudara anak ibu – sudah berulang kali membujuk ibu agar tinggal bersama salah satu di antara kami di rantau. Entah dengan aku di Jakarta. Atau dengan Mbak Rum di Palembang. Atau juga dengan Mas Tono di Banjarmasin. Tapi ibu beralasan, tak kerasan hidup di luar kampung halaman kami.

Boleh jadi, batin atau psikologi ibu memang amat kuat terikat dengan lingkungan kampung kami. Namun alasan yang lebih mungkin, menurutku, ibu enggan hidup bersama kami karena dia sungkan merepotkan anak-cucunya. Mungkin juga ibu khawatir kalau-kalau suatu saat berkonflik dengan mantunya seperti cerita-cerita pengalaman tetangga ibu di kampung.

Tapi apa pun yang menjadi alasan ibu, aku tak pernah bisa nyaman dan tenang oleh kenyataan bahwa ibu menjalani sisa hidup di kampung tanpa diurus anak-anaknya sendiri. Bagiku, meski didampingi Nung, ibu tetap saja seolah-olah hidup telantar.

Karena itu, ibu senantiasa menjadi beban pikiranku. Terlebih karena di luar momen lebaran aku nyaris tak pernah bisa sempat menengok ibu. Kesibukan di kantor benar-benar membelengguku. Libur akhir pekan selama dua hari sepenuhnya kumanfaatkan untuk beristirahat: agar pada pekan berikutnya aku mampu menjalani kesibukan tanpa loyo. Sementara kalaupun tergelar hari besar nasional, sehingga kantor libur, kesempatan untuk pulang kampung tetap tak serta-merta bisa kumanfaatkan. Selalu saja ada halangan yang membuatku tak bisa menyempatkan pulang kampung untuk menengok ibu. Halangan itu terutama ajakan atasanku di kantor untuk menemaninya memancing di laut!

Memang, bisa saja aku menolak ajakan bosku itu – meskipun dengan perasaan rikuh dan sungkan. Tapi, jujur saja, aku sendiri menikmati keasyikan memancing ini. Terlebih lagi bosku biasa memberiku tips sebagai penghargaan atas kesediaanku menemaninya memancing. Lumayan buat menambah-nambah uang dapur!

Karena itu, ajakan bos menemaninya memancing di laut hampir tak pernah kuasa kutampik. Akibatnya, itu tadi, setiap kesempatan untuk menengok ibu di kampung saat hari libur nasional pun menguap begitu saja.

Memang, libur dalam rangka cuti tahunan bisa menjadi kesempatan lain untuk itu. Tapi, soalnya, aku justru selalu mengambil cuti bersamaan dengan momen lebaran. Alasanku sederhana saja: selain agar bisa berlibur lebih panjang, juga karena ketika lebaran aku mengantungi uang tunjangan hari raya. Nah, itu menjadi bekal bagi kami untuk bersenang-senang menikmati libur, termasuk untuk ongkos pulang kampung.

Sementara itu, dua kakakku pun sami mawon. Sama-sama jarang menengok ibu di kampung. Bahkan Mas Tono sudah tiga kali lebaran secara berturutan tidak mudik. Tahun ini, dia juga tak bisa berlebaran di kampung karena pergi beribadah umrah sekeluarga.

Satu lagi kakakku, Mbak Rum, juga tak lebih baik dalam memberikan perhatian kepada ibu. Kesempatan dia mudik lebaran sangat tergantung kesadaran suaminya. Sayangnya, kesadaran itu sungguh tipis! Seingatku, selama hampir dua puluh tahun ikut suami di Palembang, Mbak Rum baru empat atau lima kali berlebaran di kampung. Di luar itu, dia praktis tak pernah mudik. Dia seolah tak peduli terhadap ibu. Oh.

* * *

Adzan shubuh masih berkumandang ketika bungsuku, Joyo, tiba di rumah. Sama seperti istri dan anaknya yang semata wayang, Joyo kelihatan lelah sekali. Bisa kumengerti, karena – seperti pengakuan dia kemudian – mereka menempuh perjalanan Jakarta-Purwodadi praktis selama 24 jam penuh. Kemacetan parah hampir di sepanjang jalur yang dilalui membuat perjalanan tidak normal – dan karena itu sangat melelahkan. Terlebih lagi buat Joyo sendiri, karena dia harus menyetir mobil tanpa tergantikan. Maklum, istrinya tak bisa mengemudi. Anaknya juga masih terbilang kecil untuk diserahi tugas sekadar menyelingi Joyo menyetir.

Bagiku, kehadiran Joyo untuk merayakan lebaran sungguh mengharukan. Pertanda kepedulian dan kecintaannya terhadapku, ibunya, begitu dalam. Dia tak hirau dan tak gentar oleh perjuangan berat menempuh perjalanan mudik ke kampung halamannya. Dia juga tak pernah kapok mengulang perjalanan melelahkan sekaligus menjengkelkan itu, sehingga tiap lebaran dia selalu pulang kampung – semata agar bisa berlebaran bersamaku.

Joyo memang penuh perhatian. Meski pulang kampung setahun sekali – saban lebaran – dia acap menelepon. Mengecek keadaanku, entah langsung berbicara denganku ataupun melalui Nung yang sehari-hari menjagaku. Joyo tampaknya selalu khawatir kalau-kalau aku jatuh sakit atau mengalami kesulitan dalam menempuh sisa hidupku. Dia juga rutin mengirim uang untuk segala keperluanku.

Joyo beda dengan dua kakaknya, Tono dan Rum. Dua kakaknya itu sesekali saja menelepon – menanyakan keadaanku. Mereka juga jarang mudik, termasuk saat lebaran. Bahkan lebaran kali ini mereka tak bisa mudik. Sejak beberapa hari kemarin, mereka sudah berkirim kabar tentang itu – tentu dengan alasan masing-masing yang sepenuhnya bisa kuterima dan kumaklumi.

Jadi, lagi-lagi hanya Joyo menemaniku berlebaran. Sementara Tono dan Rum, seperti yang sudah-sudah, pasti nanti siang menyampaikan salam idul fitri via telepon.

Joyo sendiri, usai menumpahkan kangen setiba di rumah, pamit ke kamar tidur menyusul anaknya yang sudah duluan melanjutkan mimpi. Tak lama kemudian, dengkuran Joyo terdengar nyaring seolah ingin mengalahkan gema takbir di masjid yang dipancarkan melalui pengeras suara. Mantuku yang imut, istri Joyo, beranjak ke dapur menemani Nung menyiapkan hidangan lebaran.

Joyo bangun kembali – tepatnya dibangunkan istrinya – ketika orang-orang bubar dari masjid usai melaksanakan shalat idul fitri. Joyo segera membersihkan badan dan bersalin busana dengan baju koko plus sarung. Kepalanya dibiarkan tanpa pici yang lazim dikenakan banyak orang.

Sebelum tetangga datang bersilaturahmi idul fitri, Joyo diikuti istri dan anaknya sungkem di pangkuanku. Dengan suara bergetar, Joyo memohon ampunanku. Dia menyatakan penyesalan tak bisa mengurus aku, ibunya, sebagaimana seharusnya dilakukan anak yang berbakti.

* * *

Usai acara sungkeman, ibu bergegas beranjak ke kamarnya. Wajahnya mendung. Seperti memendam sesal. Bagiku, itu aneh. Tak pernah ibu terlihat seperti itu. Apalagi di hari idul fitri. Memang, acara sungkeman selalu menggugah rasa haru sehingga air mata kami pun tak terbendung lagi menetes. Tapi biasanya itu hanya sesaat. Cuma ketika sungkeman berlangsung. Setelah itu biasanya suasana segera berubah cerah ceria.

Karena itu, aku menangkap kesan aneh ketika usai sungkeman kali ini wajah ibu terlihat mendung seperti tersaput kekecewaan. Terdorong rasa heran, aku pun menyusul masuk ke kamar ibu. Istri dan anakku tidak ikut. Mereka memilih beringsut ke ruang depan. Bergabung bercengkrama dengan sanak saudaraku.

Di kamar, kudapati ibu duduk di bibir ranjang tua sambil terisak pelan. Aku terpana. Tak mengerti apa yang terjadi. Tapi tak urung aku duduk di samping ibu.

“Ibu kenapa? Ingat bapak, ya?” kataku menebak-nebak. “Ibu tak usah bersedih. Nanti siang kita berziarah ke makam bapak.”

Ibu menoleh. Lalu menatapku dalam-dalam. Ibu terlihat ingin berkata-kata. Tapi seperti ragu, sehingga tak sepatah kata pun keluar dari mulut ibu.
“Ada apa, Bu? Katakan …”

Ibu menghapus air matanya dengan ujung kerudung yang dia kenakan. Lalu, dengan sendu, dia berkata: “Jo, terima kasih. Kamu sangat perhatian kepada ibu …”
Aku mengangguk sambil tersenyum. Tangannya kugenggam penuh cinta.

“Jo, tiap lebaran selalu kamu sempatkan pulang. Aku senang. Senaaaang sekali.
Tapi …”
“Tapi kenapa, Bu?”

Ibu menghela napas. Nyata sekali beban berat memenuhi rongga dadanya. “Tapi aku juga kecewa, karena apa yang kuharap-harapkan setiap lebaran tiba tidak juga menjadi kenyataan.”
“Ibu berharap apa?”
Ibu membuang pandangan ke langit-langit kamar sambil menggeleng lemah.
“Katakanlah, Bu …” aku mendesak.

Ibu menatapku lagi. Pandangannya menusuk. Membuat batinku bergetar. Lalu katanya: “Jo … Aku ingin kamu bersyahadat lagi. Setiap kali lebaran tiba, aku selalu berharap itu kau lakukan. Tapi dari lebaran satu ke lebaran lain, selalu saja aku harus menelan kekecewaan …”

Aku terdiam. Kepala tertunduk. “Terus-terang, Jo. Aku tak pernah bisa ikhlas menerima kenyataan bahwa kamu berganti keyakinan. Aku kecewa sekali. Aku bukan tak merestui pernikahanmu. Tapi aku sungguh tak ikhlas bahwa pernikahan membuatmu berganti keyakinan.”

Aku makin tertunduk. Tak sanggup berkata-kata. Hatiku serasa disayat-sayat.***

Jakarta, 26 Juni 2011