Bukan Penyair (Romantis) Biasa

Dwi Fitria
Jurnal Nasional, 21 Sep 2008

SEGAR dan sederhana dalam bahasa, tapi tak pernah kehilangan kedalaman makna.
Membicarakan karya sastra Acep Zamzam Noor, adalah membicarakan puisi-puisi sederhana yang mudah diikuti, bersih, dan tak terlalu sulit untuk dipahami. Acep mengemuka di jagad sastra Indonesia di awal tahun 80-an. Ketika itu dalam dunia sastra bermunculan puisi-puisi gelap dengan gaya bertutur yang rumit yang kerapkali hanya bisa dipahami oleh penyairnya sendiri. Di tengah marak gaya bertutur yang rumit itulah Acep muncul dengan puisi-puisi dengan diksi sederhana. Kerap memakai idiom-idiom alam dan sedikit bernafaskan Islam.

“Saat itu Acep muncul dengan puisi-puisi yang tak mengikuti mainstream. Dengan puisi-puisinya yang tak rumit, ia mencoba mengungkapkan latar belakang kehidupan di sekitarnya, terutama kehidupan pesantren tempat ia tumbuh dewasa,” ujar kritikus sastra Maman Mahayana.

Karena latar belakang pesantren itu, menurut Maman, nilai-nilai Islami, terutama kebersahajaan amat terasa dalam puisi-puisi Asep. Puisi-puisinya sedikit banyak merupakan wujud representasi kehidupan pesantren.

Sementara menurut Ibnu Wahyudi, yang juga mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, romantisisme dalam puisi-puisi Acep Zamzam Noor amatlah kuat. “ia adalah seorang penyair romantis yang sangat memuja dan memuji alam. Alam sekaligus menjadi sumber inspirasi yang amat kuat baginya. Ini bisa dilihat dari kata-kata senja, kabut, sungai yang berulang kali muncul dalam sajak-sajaknya.”

Acep juga pernah menempuh pendidikan di Universitas Per Stanieri di Perrugia Italia. Ia menempuh pendidikan selama kurang lebih dua tahun pada 1991-1993 di Universitas yang dikhususkan untuk mahasiswa asing itu.

“Pengalaman itu tentu saja berpengaruh dalam karya-karyanya. Tapi mestilah diingat, bahwa Acep berangkat dari kehidupan pesantren yang kuat. Jadi meskipun berhadapan dengan atmosfir kehidupan kosmopolis, pengalaman ini tetap akan dihadapkan dengan pengalaman-pengalamannya di pesantren,” ujar Maman. Kesederhanaan tetap jadi bagian puisi-puisinya.

Ibnu Wahyudi tak melihat banyak perubahan karya Acep sebelum dan setelah ia menempa pengalaman hidup di luar negeri. Tak banyak perubahan estetika yang terjadi dalam puisi Acep setelah kembali dari Italia.

Perubahan dalam estetika dan diksi-diksi yang digunakan Acep menurutnya lebih terasa di masa 80-an. “Perjalanan ke luar negeri mungkin memengaruhi karya-karyanya. Tapi menurut hemat saya, jika pernah terjadi perubahan dalam gaya bertutur Acep, itu justru terjadi karena pergaulan dengan sesama seniman di tahun 80-an, masa bermunculannya puisi-puisi yang disebut sebagai puisi gelap,” ujar Ibnu.

Gaya tutur Acep saat itu sempat sedikit berubah. Pengucapan-pengucapannya menjadi sedikit rumit. Sedikit mirip Afrizal Malna. Saat itu ada beberapa sajaknya yang mencoba bertutur panjang-panjang, berkebalikan dengan gayanya yang biasanya sederhana.

Ibnu Wahyudi membagi perjalanan estetika Acep Zamzam Noor ke dalam tiga bagian. Di awal pemunculannya di awal tahun 80-an, Acep menggubah puisi-puisi yang manis. Semisal Prelude yang dibuatnya pada 1978. Setelah itu masa di mana heboh puisi gelap sedikit memengaruhinya. Ini tak berlangsung lama, sebab Acep kemudian kembali ke selera asal. Ia kembali menggubah puisi-puisi yang sederhana. “ Saya kira puisi-puisi Acep yang berhasil justru puisi-puisinya yang sederhana,” ujar Ibnu.

Sederhana tapi istimewa

Ketika membaca puisi-puisi Acep Zamzam Noor, Ibnu Wahyudi kerap teringat puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad. Ketiganya sama-sama penyair romantis yang punya pengaruh kuat dalam sastra Indonesia.

Sajak-sajak Sapardi banyak terinsinpirasi perenungan yang bersifat keberadaan dan eksistensi diri, sementara sajak-sajak Goenawan kerap menyiratkan romantisisme yang distimulasi oleh kondisi sosial, metafor wayang menjadi salah satu contohnya.

Sementara Acep kerap melakukan hal yang tak banyak dilakukan oleh penyair lain. “Dia kerap membuat kejutan lewat sajak-sajaknya.” Salah satu contohnya adalah dengan mendedikasikan sajaknya untuk sosok-sosok perempuan. Tak sekali dua Acep Zamzam Noor menjadikan nama perempuan sebagai judul puisinya.

“Nama Marga saja misalnya, muncul setidaknya dua kali dalam sajak-sajak gubahan Acep,” ujar Ibnu. Sementara beberapa puisi dalam Menjadi Penyair Lagi, menggunakan nama-nama Ria Soemarta, Kania, dan Ifni sebagai judul. Penyair lain juga tak jarang mendedikasikan puisi mereka untuk orang-orang tertentu. Tapi biasanya orang-orang itu adalah tokoh yang sudah banyak dikenal umum. Semisal Chairil Anwar atau Pablo Neruda.

Kejutan lain yang kerap dilakukan Acep adalah membelokkan sesuatu yang mungkin sudah diantisipasi saat awal seorang pembaca menikmati puisinya. Dalam Lembah Anai, Acep menulis:

Sungai adalah suara
Yang menenggelamkanku
Lembah yang tercipta
Dari kedalaman kata-kata

“Awalnya mungkin kita menduga bahwa dia akan berbicara tentang sungai, tapi kemudian pikiran ini ia belokkan ke arah sesuatu yang kerap tidak terduga sebelumnya,” kata Ibnu.

Acep juga berani memadankan hal-hal yang amat kontras dalam puisi-puisinya. Dalam Sajak Nakal:

Doa-doaku
Menyelinap ke dalam
Kutangmu. Seperti tangan
Tanganku
Nakal
Seperti doa
Meremas payudaramu
Di sorga

“ Awal dan akhir puisi ini mempertemukan dua hal yang sangat bertolak belakang, antara payudara dan surga. Yang satu mengungkapkan hal-hal yang sangat fisikal, tapi yang satu lagi membicarakan tentang alam yang menjadi cita-cita kita semua, surga. Keberanian ini adalah sesuatu yang amat menarik dari diri Acep Zamzam Noor,” kata Ibnu.

Sementara Maman Mahayana menyatakan bahwa justru kelebihan Acep terletak pada kesederhanaannya. “Di dalam kesederhanaan ada kedalaman, di situlah letak keistimewaan Acep.”

Maman menyitir salah satu bait Sajak Perkawinan, sebuah puisi yang dibuat Acep pada 1982, namun baru dipublikasikan dalam buku terbarunya Menjadi Penyair Lagi pada 2007 lalu. Memahami makna ketunggalan. Dalam kebersamaan. Dua Nada yang berbeda bersatu dalam lagu. Dalam irama kehidupan dalam alun gelombang. Dalam pasang dan surut lautan.

“Puisi ini amat multitafsir. Perkawinan yang dimaksud bisa perkawinan antara siapa dan siapa, atau bangsa dengan bangsa, agama dengan agama atau manusia dengan manusia,” kata Maman.

Sumbangan untuk sastra Indonesia

Sajak-sajak Acep Zamzam Noor tak sekadar sederhana di tataran kata-kata, tema-temanya pun sederhana. Menurut Ibnu Wahyudi oleh karena inilah sajak-sajaknya amat cocok untuk orang muda. Meskipun demikian justru lewat kesederhanaan inilah Acep memerlihatkan keistimewaannya. “Acep selalu berusaha menampilkan kecintaannya pada dunia yang sangat dekat dengannya, lingkungan alam di Cipasung, Tasikmalaya sana,” kata Ibnu.

Pendapat senada dikemukakan oleh Maman Mahayana. “Secara revolusioner, puisi-puisi Acep memang tidak menawarkan bentuk estetika baru, tetapi, lewat kesederhanaan puisinya, Acep memerlihatkan bahwa ia tidak pernah berpretensi untuk menjadi epigon. Ia mantap dengan gayanya yang sederhana dan metafora-metaforanya yang segar. Ini yang membuatnya memiliki kekhasan tersendiri.”

Menurut Maman, apa yang dilakukan Acep patut dicontoh oleh para penyair lain. “Boleh saja dipengaruhi penyair sebelumnya, tapi jangan jadi pembebek. Seorang penyair harus bisa memerlihatkan otoritas dan ciri tersendiri. Inilah yang berhasil dilakukan seorang Acep Zamzam Noor,” kata Maman.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/09/oase-budaya-bukan-penyair-romantis.html