Cakrawala Sastra, Tanpa Jender

S Prasetyo Utomo*
Kompas, 29 April 2007

Agak berlebihan ketika Sapardi Djoko Damono mengatakan, masa depan novel (sastra) Indonesia terletak di tangan perempuan pengarang kita. Memang benar, Sapardi Djoko Damono cukup beralasan mengemukakan pendapat ini karena beberapa fenomena. Pertama, bermunculan perempuan pengarang Indonesia yang sangat serius melakukan eksplorasi gaya bercerita. Kedua, berkembang industrialisasi kapitalistik yang sangat bergairah memasarkan teks-teks sastra karya perempuan pengarang kita. Ketiga, terjadi kegairahan pada para pembaca untuk menikmati teks sastra. Keempat, terbuka liberalisme di kalangan masyarakat terhadap pergeseran nilai, yang memungkinkan eksplorasi seks (yang gencar ditulis beberapa perempuan pengarang kita) mendapat empati pembaca.

Dilihat dari sudut literer, kita memang menemukan keanekaragaman eksplorasi tematik teks sastra dan struktur narasi. Ketajaman faktualitas yang puitis (Ayu Utami), kosmopolitanisme yang melabrak tatanan nilai lama yang mengalami pembusukan (Djenar Maesa Ayu), pembongkaran adat, akar tradisi, dan sistem religi (Oka Rusmini), kekuatan religiusitas sebagai moralitas narasi (Helvy Tiana Rosa), dan eksplorasi iptek dalam fiksi (Dewi Lestari) menandai kegairahan yang luar biasa pada perempuan pengarang kita. Begitu banyak pilihan, kemungkinan baru, dan pembongkaran estetika lama telah mereka lakukan.

Kita mesti bersyukur karena kehadiran para perempuan pengarang Indonesia itu membuat perombakan struktur narasi dan stilistika. Dalam waktu yang relatif pendek telah terjadi pembongkaran-pembongkaran cara bertutur lama ke arah pembauran estetika yang penuh daya kejut. Semenjak kemunculan Ayu Utami, kita dikejutkan kemunculan novel dan cerpen yang penuh kegairahan merombak “patronisasi estetika” teks sastra. Bila semula kita mengagumi nama-nama seperti Umar Kayam, Kuntowijoyo, Budi Darma, dan Putu Wijaya sebagai pusat orbit penciptaan teks sastra, kini kita memiliki begitu banyak perempuan pengarang yang mencipta teks sastra dengan pembebasan estetika.

Memikat

Sudah barang tentu kita tak dapat meletakkan harapan perkembangan teks sastra Indonesia mutakhir semata-mata pada perempuan pengarang yang sedang cemerlang bintangnnya. Harapan ini hanya akan menumbuhkan persaingan daya cipta secara jender. Kemunculan para perempuan pengarang kita dan legitimasi kritikus sastra atasnya bermula dari kriteria literer, terbebas dari persaingan jender. Meski, tak menutup kemungkinan, banyak perempuan pengarang kita menampakkan kegigihan menyuarakan feminisme dalam teks-teks sastra mereka.

Kehadiran perempuan pengarang kita tak mungkin dimaknai semata-mata dengan gairah feminisme yang menyertai eksistensi teks sastra mereka. Sengaja mereka membongkar “pusat orbit” estetika teks sastra dengan cara “mencuri waktu” untuk bisa menulis di tengah-tengah kesibukan sebagai istri.

Pertama, kita menemukan kedalaman penggarapan tematik teks sastra mereka. Tak kepalang tanggung, penguasaan mereka terhadap tema-tema yang diangkat dalam teks sastra kebanyakan menukik kedalaman substansi yang rawan. Kekuatan fakta ini pada gilirannya memungkinkan mereka mengeksplorasi fiksi untuk mencapai makna baru teks sastra. Ada keseimbangan antara penggarapan fakta yang menukik kedalaman dan fiksi yang melambung menjadi narasi mutakhir yang memikat. Ada mereka referensi dan makna puitik teks sastra yang sama-sama dipertaruhkan dengan liat-kental. Semenjak teks sastra Saman (Ayu Utami) hingga Supernova (Dewi Lestari) menampakkan kekuatan tematik dan fantasi yang seimbang.

Kedua, kekuatan stilistika menjadi pertaruhan yang mengagumkan para perempuan pengarang kita. Ada pencairan idiom, frasa, dan klausa yang memperbarui cita rasa bahasa teks sastra. Pergulatan pencarian stilistika inilah yang menandai kesungguhan penciptaan teks sastra mereka karena tak mungkin dikerjakan secara buru-buru. Teks sastra dicipta dalam kontemplasi yang matang, orisinal, dan terus- menerus dalam pergulatan menemukan ekspresi bahasa yang segar.

Ketiga, kegigihan eksperimentasi yang dilakukan para perempuan pengarang kita dengan mempertimbangkan pemahaman pembaca telah mewarnai teks- teks sastra mereka. Eksperimentasi teks sastra yang dicipta para perempuan pengarang kita tak terlampau jauh meninggalkan pemahaman pembaca. Karena itu, teks sastra mereka tak ditinggalkan masyarakatnya. Teks sastra mereka dipuji-puji kritikus dan sekaligus diburu pembacanya. Pada kenyataannya, teks sastra mereka menjadi best seller, mengalami cetak ulang dalam kurun waktu yang sangat cepat. Ini pertanda, teks sastra mereka sengaja dikonstruksikan dalam struktur narasi yang baru, tetapi masih memungkinkan untuk dicerap pemahaman pembaca.

Keempat, teks-teks sastra perempuan pengarang kita lebih berani mengungkap hal-hal yang tabu, yang selama ini disembunyikan di balik norma masyarakat. Pembongkaran tata nilai masyarakat yang selama ini ditabukan, dalam bentuk karya fiksi, memang menimbulkan kontroversi. Sebagian perempuan pengarang sendiri menolak dan merasa muak dengan keterbukaan terhadap seksualitas yang selama ini mengalami “pembusukan” di bawah norma masyarakat. Akan tetapi, kritikus dan sastrawan berjenis kelamin lelaki justru memuji-muji teks sastra itu sebagai karya yang “matang” dan “sangat dewasa”. Tak mengherankan bila kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu, Jangan Main- main (dengan Kelaminmu), perlu diberi label peringatan: “khusus dewasa”.

Melapuk

Sungguh menakjubkan bila kita melihat kelarisan buku sastra yang ditulis perempuan pengarang kita. Kelarisan teks-teks sastra mereka ditandingi para penulis teks sastra religius, yang melejit tirasnya secara tak terduga. Dalam hal ini, pandangan yang memilah sastrawan secara dikotomis menurut jender sudah melapuk dan runtuh. Cakrawala teks sastra kita bisa saja mengeksplorasi hal-hal yang berkutat masalah “sekular-kosmopolitan” yang kuyup seks, bisa pula mengeksplorasi religiusitas.

Kita tak perlu mencemaskan, teks-teks sastra karya perempuan pengarang berkemungkinan menjadi “pusat orbit” baru, yang menjadi kiblat penciptaan dan sekaligus kecemburuan sastrawan lain. Tak ada patronisme estetika di tangan perempuan pengarang kita karena para sastrawan selalu ingin meruntuhkan dinding alienasi teks sastra di hadapan pembacanya. Bila kecemerlangan bintang para perempuan pengarang kita kembali bersinar pada Sayembara Menulis Novel 2003, pada gilirannya para novelis pria juga dapat mendominasi kecemerlangan Sayembara Menulis Novel pada kurun waktu berikutnya.

Diperlukan kearifan untuk memetakan perkembangan dunia sastra yang tak semata-mata bertumpu pada jender dan pada hasil sayembara mencipta teks sastra serta kelarisan buku sastra. Kelarisan buku sastra tak dengan sendirinya memancarkan mutu literer. Lagi pula, perkembangan sejarah sastra kita juga ditentukan pada laku spiritual para sastrawan, yang tiada habis-habisnya melakukan eksplorasi cara bertutur, pencarian stilistika, dan pertaruhan estetika. Di luar tradisi sayembara penulisan teks sastra, pemberian hadiah sastra, dan kelarisan buku, berkembang pula tradisi penciptaan teks sastra, yang tak gegap gempita, tetapi penuh dengan kesetiaan untuk menemukan gaya pengucapan yang baru.

* S Prasetyo Utomo, cerpenis dan pemerhati sastra, tinggal di Semarang
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/04/esai-cakrawala-sastra-tanpa-jender.html