Sajak-Sajak Rukmi Wisnu Wardani

Republika 24 Juni 2007
SATU WAKTU

satu waktu akan lahir puisi-puisiku
tanpa bahasa, tanpa kata maupun aksara

dan tangan-tangan ini
akan tuntas terbakar cahaya

saat itu usai sudah kupanggul salib waktu
dan aku tak lagi bergelayut di tepi malam
seperti matahari yang muncul bagai pencuri
dan mengendap di kejut hari

mungkin kisah musim yang tersisa
hanyalah sejumput kisah embun
yang mengkristal (abadi)
di pucuk pohon cemara

2007

JALAN CINTA

malam nyala
dingin musim tak lagi terasa
sebab aku akan pulang dalam cinta
dan menjelma bunga di kolam raja
tanpa tangkai maupun rupa
kecuali wangi makhota sukma

malam nyala
suara jangkrik tak lagi ada
sebab pedang telah menari
sesempurna kilau permata

— menuju kuil suci, pepohonan
tunduk menyapa salam —
— memasuki pintu gerbang, mata air
bening bertatapan —

pada ujung mata pedang
kurebahkan takdir kehidupan
pada ujung mata pedang
kupentaskan syair kematian
pada ujung mata pedang
kulengkapi keabadian

(sungguh, tak kupungkiri
betapa perih rindu menyiksa
karena aku telah menunggu
untuk sekian lama)

selebihnya, hanya langit yang tahu
mengapa angin melukis awan
serupa kaligrafi

selebihnya, hanya diam yang tahu
mengapa cinta ini harus kugenapi

2007

JELANG

leleh mata
yang kutampung di cawan waktu
dan kupersembahkan di pusat altar
telah sampaikah?

sejak belia, telinga ini
begitu setia menanti kabar
tapi lelucon aneh
slalu datang membawa berita

pun ketika kukitari puncak menara
memahat nama di dinding bulan
angin tak bergerming
kecuali sunyi mengelupas tulang

kali ini di tepi lain malam
di kelebat gaduh pusaran
kuteriakkan namaMu di langit lepas
hingga sakit memohon keabadian

sungguh, tiada kan kusangkal airmata
bila tiba rubuh sangkarku seketika

March 2007

Rukmi Wisnu Wardani (Dani), lahir di Jakarta 29 Juli 1973. Sarjana Arsitektur Lansekap Universitas Trisakti ini lebih dikenal sebagai penyair. Puisi-puisinya dimuat di berbagai media cetak seperti Republika, Kompas, dan Media Indonesia. Sajak-sajaknya juga terkumpul dalam beberapa buku antologi puisi, seperti Graffiti Gratitude (2000), Surat Putih (2000), Puisi Tak Pernah Pergi (2003), dan Bisikan Kata Teriakan Kota (2003). Manuskrip kumpulan sajakny, Banyak Orang Bilang Aku Sudah Gila menjadi runner-up KSI Award 2003. Kini bermukim di Jakarta.
Dijumput dari: http://www.infoanda.com/linksfollow.php?lh=UlFUCAcEBVxR