Cendekiawan Asing Kunjungi Rumah Pram

Rosidi
http://m.suaramerdeka.com/

Dua cendekiawan dari negara yang berbeda, berkunjung ke rumah keluarga besar Pramoedya Ananta Toer, Rabu (29/12). Mereka adalah Dr Etienne Naveau dari Institut National des Langues et Civilisations Oriantales (INALCO) Perancis) dan Prof Dr Koh Young Hun, Vice Chairman Korea Association of Malay-Indonesian Studies dari Seoul, Korea.

Keduanya memang tidak datang bersama. Etienne Naveau datang lebih dulu, yaitu pada Selasa (28/12) dan bahkan sempat bermalam di rumah salah satu begawan sastra milik Indonesia itu. Sedang Koh Young Hun baru datang keesokan harinya.

Namun, keduanya memiliki perhatian yang sama besar terhadap sosok Pramoedya dan karya-karyanya. Etienne adalah dosen sastra Indonesia di INALCO, yang sempat menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia (UI) mengajar Bahasa Perancis. Sementara Koh Young, saat ini masih sebagai visiting professor Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI.

“Saya ingin berkunjung ke rumah Pram sejak 15 tahun lalu, namun baru hari ini kesampaian,” ujar Etienne Naveau kepada Suara Merdeka, kemarin. Ia mengaku membaca karya Pram pertama kali “Cerita dari Blora”.

Dijelaskan oleh Etienne, di Perancis, buku-buku dari Indonesia yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa negeri Napoleon itu, masih sangat sedikit. “Buku-buku Indonesia yang diterjemahkan ke Bahasa Perancis masih sedikit, sekitar 30 buku. Paling banyak karya Pram,” katanya.

Selain Pram, beberapa tokoh Indonesia di Blora juga cukup dikenal di Perancis, seperti Tan Malaka, Soekarno, Soe Hok Gie, KH Abdurrahman Wahid, juga cukup populer. Sedang untuk kalangan sastrawan, beberapa nama lain juga cukup dikenal, seperti Sitor Situmorang, WS Rendra, dan Ayu Utami.

Kendati di Blora cuma beberapa saat, namun Etienne mengaku sangat terkesan. “Saya ke Blora dari Surabaya melewati Cepu. Saya sangat senang karena melewati hutan Jati yang sangat indah. Blora lebih indah dari Jakarta yang macet,” katanya yang saat ini sedang menerjemahkan salah satu karya Pram, yaitu Nyanyi Sunyi Seorang Bisu ke Bahasa Perancis.

Sementara itu, Prof Dr Koh Young Hun ke Blora setelah melakukan perjalanan dari Anyer ke Panarukan. Perjalanan itu dengan mendasarkan pada cerita dalam buku “Jalan Raya Pos, Jalan Daendels” karya Pram, yang menceritakan pahit getir rakyat Indonesia saat membangun jalan Anyer-Panarukan pada masa kolonial.

“Seminggu saya menyusuri jalan Anyer-Panarukan ini,” katanya yang dalam melakukan perjalanan ditemani oleh Andhika, alumnus Jurusan Sejarah Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Saat ini, ia juga tengah menanti penerbitan bukunya tentang Pram, yang rencananya akan diterbitkan Kompas. “Katanya masih mencari judul yang seksi. Saya cukup paham, karena mereka juga harus memikirkan pasar (market),” ujarnya.

30 Desember 2010