Menemukan Persamaan Lewat Cerpen

http://www.suarapembaruan.com/home/

Sekitar 20 tahun lalu Koh Young Hun ditantang Sutan Takdir Alisjahbana untuk menerjemahkan karya-karya sastra dari negeri asalnya, Korea Selatan. Tantangan itu kini berujud antologi cerpen berjudul Laut dan Kupu-Kupu. Hun yang berkolaborasi dengan Tommy Christomy mengaku menemukan persilangan dalam khazanah sastra Indonesia dan Korea Selatan.

Kumpulan cerpen Laut dan Kupu-Kupu memuat 12 naskah cerita pendek sastrawan asal Negeri Ginseng itu. Karya-karya yang dimuat merupakan perwakilan dari perkembangan masyarakat di Korea Selatan, sejak pecahnya perang saudara tahun ’50-an sampai sekarang.

“Cerpen-cerpen itu seperti oase dalam iklim industrialisasi di Korea Selatan. Kita dapat melihat masyarakatnya dengan berbagai settingan,” ujar Tommy Christomy yang membantu Hun dalam usaha penerjemahan itu.

Hun yang mengaku sempat ditantang oleh Sutan Takdir Alisjahbana untuk menerjemahkan karya sastra asal negaranya itu menyebutkan sebagian besar kaya yang diambil adalah karya sastrawan besar di sana seperti, Ha Geun Chan, Kim Seung Ok, Hwang Sok Yong, Lee Moon Goo, Bang Hyun Suk, Kim Yeong Hyeon, Kim Nam Il, Shin Kyong Syuk, dan Eun Hee Kyung.

Karya-karya itu menjadi pilihan untuk diterjemahkan dan diterbitkan di Indonesia setelah disunting oleh Hamsad Rangkuti, salah satu cerpenis ternama di sini. Menurut Tommy, Hamsad adalah orang yang tepat untuk menyunting naskah-naskah cerpen yang sedikit liar.

“Saya sebenarnya tidak banyak melakukan penyuntingan dalam antologi cerpen ini. Ada beberapa kata yang mungkin bukan selera saya, tetapi saya biarkan karena saya wajib menjaga ‘napas’ si penulisnya. Dalam hal ini, orang yang menerjemahkan,” ujar Hamsad yang hadir dalam peluncuran buku itu belum lama ini.

Hamsad menyebutkan sangat gembira dengan usaha menerjemahkan karya sastra dari negara lain karena dapat memperkaya khazanah kesusastraan dalam negeri. Karya-karya sastra dari negara lain dapat jadi perbandingan bagi para penulis-penulis di Indonesia, sebutnya.

“Sebenarnya dosen-dosen di Korea tidak melihat karya terjemahan sebagai sebuah karya ilmiah, makanya jarang sekali ada dari mereka yang ingin melakukan pekerjaan ini,” ujar Hun dosen Bahasa Indonesia di sebuah universitas di negaranya.

Setelah menterjemahkan sejumlah karya Korea ke Bahasa Indonesia, ternyata Hun menemukan tantangan yang menarik. Seperti misalnya, istilah-istilah yang tidak ada dalam kamus Indonesia.

“Kami memiliki upacara kematian yang kompleks. Untuk membagi prosesi kematian itu kami kesulitan dalam bahasa Indonesia, karena budaya Indonesia memiliki sistem yang berbeda,” ujar Hun.

Sementara itu, Tommy menceritakan tantangan lain seperti bagaimana menjembatani suatu ekspresi puisi versi Korea menjadi versi Indonesia.

“Gaya sedih, humor, dan marah, menjadi tantangan tersendiri bagi kami. Seperti misalnya kata ‘anjing’ dalam bahasa Indonesia mungkin bisa memiliki konotasi kasar, maka kita ubah menjadi ‘anak anjing’,” ujar Tommy.

Secara umum, Tommy menambahkan kumpulan cerpen dalam Laut dan Kupu-Kupu adalah kumpulan cerpen yang memiliki nilai estetika tersendiri. “Ada eksperimen, ada potret dan sebagainya dalam kumpulan cerpen itu. Maka bagi kami kumpulan cerpen itu jadi menarik,” ujarnya. [K-11]

Sumber: http://202.169.46.231/News/2008/01/22/Hiburan/hib07.htm