Cinta Kilat Seorang Cerpenis

Maruli Tobing
Kompas, 21 Okt 2007

DI mana kaki melangkah, di situ langit dijunjung. Di mana ada tempat menumpang tidur dan makan, di situ seniman akan tinggal. Itulah pola kehidupan seniman masa lalu. Adakalanya lupa ia menumpang hingga harus diusir agar angkat kaki.

Almarhum pelukis Amang Rahman, misalnya, suatu hari memberi tahu istrinya akan pergi sebentar membeli rokok di seberang jalan dekat rumahnya di Surabaya. Ketika melangkahkan kaki, Amang berpapasan dengan rekan lama. Pelukis kaligrafi ini diajak berboncengan sepeda motor ke rumah rekannya. Dua minggu kemudian Amang baru kembali ke rumahnya.

Orang mengatakan kehidupan liar. Seniman berdalih sebagai bentuk “pengembaraan” spiritual maupun fisik dalam menjawab kegelisahannya. Hamsad Rangkuti sendiri menumpang kurang lebih enam tahun (1966-1972) di Balai Budaya, Menteng, Jakarta Pusat. Tidur di lantai beralaskan koran atau apa saja.

Seperti lazimnya seniman, soal kesehatan dan hidup teratur bukanlah hal penting dibandingkan dengan urusan berkarya. Alhasil, penyakit lever mulai menggerogoti dirinya. Di tengah gemerlap ibu kota Jakarta, Hamsad terkapar seorang diri di lantai yang dingin.

Seorang gadis remaja, Nurwindasari, keponakan penjual nasi di Balai Budaya, berbaik hati membantu merawat Hamsad. Tidak berliku-liku seperti cerpennya, cintanya saat itu juga muncul bagaikan kilat di siang bolong.

Hamsad meminang gadis asal Purworejo, Jawa Tengah, tersebut. Pelukis Mustika, yang juga paman Nurwindasari, menggaransi bahwa Hamsad belum pernah nikah sebelumnya. Pada acara pernikahan (1972), almarhum pelukis Nashar bertindak sebagai wali pengantin pria.

Waktu itu Hamsad berusia 29 tahun dan Nurwindasari 17 tahun, tetapi keduanya ternyata merupakan pasangan serasi. Buktinya, mereka bisa menyisihkan uang mencicil rumah di Perumnas Depok pada tahun 1979.

Selain itu, di alam yang baru, Hamsad justru makin produktif berkarya. Kariernya juga meroket di majalah sastra, Horison. Dari sekadar pencatat naskah yang masuk, dia “dipromosikan” ke posisi korektor dan akhirnya pemimpin redaksi, periode 1986-2002.

Sejauh ini karya Hamsad telah diterbitkan ke dalam lima buku, empat buku di antaranya merupakan kumpulan cerpen, yaitu Cemara (1982), Lukisan Perkawinan (1982), Sampah Bulan Desember (2002), Bibir dalam Pispot (2003), dan sebuah novel, Ketika Lampu Berwarna Merah (2002).

Dari perkawinannya, pasangan ini dikaruniai empat anak, yaitu Bonang Kiswara, Kirindra, Bungaria (perempuan), dan Anggi Mauli. Tidak ingin terjadi seperti yang dia alami, Hamsad menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Tiga orang di antaranya lulus S-1, dan si bungsu, Anggi Mauli, sedang menyelesaikan kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta.

Pendidikan adalah hal abstrak saat kemiskinan membelenggu manusia. Maka, Hamsad gelisah hampir sepanjang hidupnya. “Jangan lama-lama di sana. Sebentar lagi ujian akhir,” itulah pesan gurunya di SD Kisaran ketika Hamsad mohon izin bepergian melayat ibunya yang meninggal di Medan. Pesan itu hingga sekarang terngiang-ngiang dalam kesadarannya.

Hamsad adalah pribadi bersahaja. Kakek dua cucu ini selalu menghindari hal yang melukai perasaan orang lain. Kejengkelan dan kemarahannya akan diekspresikan dalam cerpen fiksinya. Kini usianya senja.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/pola-hidup-cinta-kilat-seorang-cerpenis.html