“In Memoriam” Soedarpo Sastrosatomo

Rosihan Anwar*
Kompas, 23 Okt 2007

SELAMA dua jam, saya di sisi ranjangnya di RS Medistra, Jumat (19/10/2007). Empat tahun ini kesehatannya turun-naik, penyakit orang tua, keluar masuk rawat inap, malah berobat ke Singapura dan Kuala Lumpur.

Lebaran lalu kena demam berdarah. Lelap-lelap ayam dia mengenal saya saat tiba. “He Tjian,” katanya. Dia minta saya memijit-mijit ibu jari tangan kirinya, agar bisa tidur. Lalu bangun lagi dan berbicara tentang “rakyat yang kini susah hidupnya”.

Menurut Benny yang menungguinya, dia bicara begitu. Pemimpin itu dari rakyat, bukan? Saat menjadi pemimpin sikapnya tidak peduli. Rakyat tak disejahterakan, tetap miskin. “Hei, mainin tangan saya,” ujarnya. Ia minta saya memijit terus. Tiba-tiba dia sebut satu nama pemimpin “Belum mati dia?” Saat pamit saya bilang, “Kamu baik-baik saja, ya.” Dia mengangguk.

Itulah pertemuan terakhir saya dengan Soedarpo Sastrosatomo. Ia meninggal pukul 04.45, Senin (22 Oktober 2007) dalam usia 87 tahun. Saya tahu, apa yang dipikirkan di saat-saat terakhir sebelum meninggal, soal nasib rakyat yang terus sengsara, soal daulat rakyat yang perlu terus ditegakkan, soal pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Itulah pikiran terakhir seorang sosialis, sebelum meninggal dunia.

Diplomat dan pengusaha

Siapakah Soedarpo? Jawabannya tergantung dari sudut pandang dan watak yang dipakai. Dia bisa dibilang pengusaha sukses, bergerak di bidang pelayaran dan perkapalan, dalam Samoedera Indonesia, yang kendati mengalami berbagai ganjalan dan saingan, benderanya tetap berkibar. Kegiatannya juga di bidang komputer dan teknologi informasi.

Dia juga diplomat dari saat-saat pertama Revolusi, bersama LN Palar, Dr Soemitro Djojohadikusumo, dan Soedjatmoko mengoperasikan perwakilan Indonesia di New York tahun 1948-1950 melawan politik Belanda yang mau mengembalikan penjajahan di Indonesia.

Dia kurir yang membawa pesan PM Sjahrir kepada Presiden Soekarno yang saat itu di Malang agar datang bersama Wapres Hatta ke perundingan di Linggarjati November 1946 untuk menunjukkan kepada internasional bahwa politik Sjahrir menghadapi Belanda, yaitu diplomasi dan perjuangan bersenjata dijalankan berbarengan, adalah didukung Soekarno-Hatta. Sekaligus menghilangkan pengecapan Belanda kepada Soekarno sebagai “kolaborator Jepang dan penjahat perang”, menokohkan Soekarno sebagai pemimpin bangsa Indonesia. Misi Soedarpo berhasil.

Dia aktivis yang gesit, bersama Soebadio Sastrosatomo dan Soedjatmoko disebut the Sjahrir boys, pemuda-pemuda yang membantu PM Sjahrir yang memimpin pemerintah 14 November 1945. Mereka bergerak di bidang politik dan penerangan untuk menangani aneka masalah. Mereka mampu memenuhi get things done. Ditugaskan jemput Bung Karno di Sukabumi supaya serah terima kabinet bisa dilaksanakan, beres. Ditugaskan menemui Sultan Hamengku Buwono IX agar mulai 4 Januari 1946 kota Yogyakarta jadi tempat kediaman Presiden dan Wapres RI, beres.

Semasa mahasiswa

Aspek karakter Soedarpo ialah Bertumbuh Melawan Arus yang merupakan judul biografinya. Ketika jadi mahasiswa kedokteran di Ika Dai Gaku zaman Jepang, kepala para mahasiswa digundulkan secara paksa. Sekelompok mahasiswa menentang. Akibatnya, mereka disekap Kenpeitai Jepang, lalu dikeluarkan dari sekolah kedokteran. Soedarpo, Soedjatmoko ada di antara mereka.

Tentu banyak hal lain dapat saya paparkan tentang Soedarpo. Pergaulannya luas. Orangnya luwes. Saat jadi pelajar sekolah menengah AMS Yogyakarta dia dikenal sebagai atlet wahid, kampiun lari loncat gawang. Dia dermawan mendukung berbagai usaha amal di masyarakat. Dia haji, dan tertib melakukan ibadah. Tidak heran bila setelah kabar wafatnya tersiar di radio dan di SMS, berbagai lapisan masyarakat datang, bertakziah di rumahnya, Pegangsaan Barat No 16. Sepertinya toute Jakarta datang melayat di rumah, tempat pada 28 Maret 1947 dia menikah dengan Minarsih Wiranatakusuma. Mereka sempat merayakan HUT perkawinan intan (ke-60) bersama ketiga putri, menantu, cucu, dan cicit.

Betapa banyaknya orang datang menyampaikan dukacita, tidak sedikit di antaranya sudah lanjut usia 80 tahun ke atas berkereta roda, bertongkat, yang oleh seorang hadirin dinamai “Golongan AA, alias Antre Ajal”. Begitulah kenyataannya, kita semua akan kembali ke Ilahi.

Saya dengar setelah jenazah Soedarpo dimandikan, dikafankan, disemayamkan di ruang belakang, seorang ustadz yang memimpin upacara berkata dan bertanya kepada hadirin, kita saksikan jenazah H Soedarpo Sastrosatomo bin Sadeli Sastrosatomo adalah orang saleh dan baik, yang disambut hadirin serentak, “Baik, baik,” dalam bahasa Arab Khair, khair. Berangkatlah sahabatku fi amanillah.

* Rosihan Anwar, Wartawan Senior
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/in-memoriam-soedarpo-sastrosatomo.html