Diterjemahkan Bukan untuk Disembah

Wawan Eko Yulianto

Hasan Aspahani, penyair generasi mutakhir yang diramalkan banyak kalangan bakal (atau mungkin sudah!) berjajar dengan nama-nama serupa Sitok Srengene, Afrizal Malna, Sutardji Calzoum Bahri, berkata bahwa seorang penyair berhutang kepada bangsanya sebuah sajak terjemahan. Gampangnya, setiap penyair harus menerjemahkan sekurang-kurangnya satu sajak dari penyair berbahasa asing yang paling dia sukai.

Betulkah kalimat itu? Relevankah dengan konteks kehidupan bermasyarakat kita saat ini? (wathathatha… kok jadi sok guru PPKN begini si Pemimpi? hehehe…)

Kalau dipikir-pikir, ada benarnya juga ini. Maksud saya, setiap bangsa wajib terbuka atas apa yang ada di tempat lain. Ya, para penulis di suatu negara harus terbuka dengan apa-apa yang ditulis oleh penulis-penulis di negara lain.

Tapi saya tidak bermaksud (sangat2007x tidak bermaksud ) mengatakan bahwa kita harus meniru dari para penulis di negara lain. Bukan!

Maksud saya begini, tingkat kerajinan seseorang atau suatu kaum (ciyyeee…) itu berbeda-beda. Sangat berbeda. Nah, kalau saja para penulis di negara kita sedang turun tingkat kerajinannya, sementara penulis-penulis di negara lain sedang sangat rajin-rajinnya berinovasi, maka yang terjadi adalah dunia tulis-menulis di negara kita berjalan lambat sementara di negara lain berjalan sangat cepat. Nah, akhirnya kita ketinggalan kan? Dan kalau ketinggalan atau dunia kepenulisan tidak berkembang, pembaca juga akan bosan kan karena mendapat tulisan yang begitu-begitu saja? Di titik inilah melihat dari negeri asing mendapatkan arti pentingnya.

Lha terus, mustahil juga kan semua penulis membaca belajar sendiri dari sastra di negara lain? Kan tidak semua orang bisa bahasa Jerman, Inggris, Prancis, Italia, dsb. dst. dsl. jpg .txt…

Maka tibalah giliran si penyair, yang tahu mana puisi bagus dan mana puisi jelek dari luar negeri, untuk menerjemahkan sajak-sajak yang dia rasa penting untuk dibahas dan disajikan kepada khalayak pembaca di negaranya. PENTING: paling bagus jika yang menerjemahkan (atau sekurang-kurangnya yang memilihkan) adalah si penyair sendiri. Sebab jika “hanya” penerjemah profesional saja yang mencari dan menerjemahkan, maka akibatnya adalah mereka tidak akan mendapatkan puisi yang benar bagus. Dan kalau (amit-amit!) dapat yang jelek, bisa-bisa tambah turun kualitas sastra kita. hehehehe….

Oh ya, ini tidak cuma terkait dengan puisi saja. Para cerpenis harus begitu. Para novelis harus gitu. Para teaterwan juga begitu. Bahkan, para penulis buku motivasi pun harus begitu juga.

Di sinilah saya kepingin memodifikasi sedikit kalimat yang dikutip penyair Hasan Aspahani tadi. Bukan memodifikasi sih, meyuniversalkan tepatnya? Kalau tadi dalam kutipan hanya disebutkan tentang penyair, itu sah-sah saja, karena yang dikutip Hasan Aspahani memang penyair. Hehehe… Jadi, kalimat yang insya allah layak Anda kutip dari saya adalah: ……..
…….
…….
Setiap penulis berhutang sebuah tulisan terjemahan, dari jenis yang sama dengan tulisan yang dibuatnya, yang kualitasnya lebih bagus, yang bisa memperkaya dunia tulis-menulis di negaranya, dari bahasa asing.

Wathaw… kok kalimat layak kutipnya jadi membosankan begini. Hahaha… ya deh. Yang penting intinya: ayolah terjemahkan, atau perkenalkan, karya-karya asing yang bagus buat negara kita.

PERINGATAN lagi: dari bangsa asing kita bukan meniru, tapi menelaah, dan mengembangkannya agar sesuai dengan kepribadian sastra bangsa kita. Alagh!!!!!
have a nice reading… and please consider ethics even in this opensource era…

October 5th, 2007
Dijumput dari: http://berbagi-mimpi.info/2007/10/05/diterjemahkan-bukan-untuk-disembah/