Esai: Menulis Karangan

Jacob Sumardjo*
Pikiran Rakyat, 27 Okt 2007

INI pengalamanku waktu menjadi redaktur cerita pendek tidak resmi di sebuah harian terkenal di daerahku. Tidak resmi, kukatakan, karena saya tidak mendapat bayaran sesen pun atas pekerjaan itu.

Saya mendapat mandat dari redaktur budaya surat kabar tersebut untuk memilih cerita pendek yang dimuat tiap minggu. Hampir setiap bulan harus memeriksa setumpuk naskah cerita pendek, kira-kira lima puluh naskah, dan saya menetapkan empat atau lima cerita pendek yang akan dimuat.

Tidak mudah menyeleksi naskah-naskah cerita pendek yang rata-rata ditulis oleh para pemula. Hanya sedikit pengarang yang sudah punya nama mengirimkan naskahnya. Kalau ada nama-nama penulis yang sudah dikenal sebagai cerpenis, karangan merekalah yang lebih dahulu saya baca. Kadang cukup bagus, tetapi kadang juga kurang puas untuk dimuat.

Yang paling menjengkelkan adalah penulis-penulis pemula, yang namanya kadang aneh-aneh untuk nama Indonesia. Kebanyakan mereka menulis tentang pengalaman cinta mereka. Judulnya juga masih pantas dimuat di zaman tahun 1930-an, karena memakai judul semacam “purnama”, “bayu”, “rindu dendam”, dan sebagainya.

Ada seorang penulis yang amat rajin mengirim karangannya. Namun, belum pernah saya muat. Dia selalu melampirkan sepucuk surat yang menerangkan riwayat kepengarangannya, cerpen, serta puisi yang pernah dimuat. Bahkan di sebuah suratnya, ia menyertakan foto setengah badan. Menilik gambarnya, ia cukup berusia, setengah baya, mungkin sekitar 40-an. Sampai pada suatu ketika, saya menerima karangannya dan saya putuskan untuk memuatnya meskipun sebenarnya saya juga belum puas menilainya sebagai sebuah cerpen yang baik.

Saya menjadi redaktur cerpen kira-kira sepuluh tahun. Dan karena tak dapat bayaran, saya mulai menulis komentar pendek pada setiap cerpen yang saya muat. Itu tahun kedua. Komentar pendek itu merupakan penilaian dan pertanggungan jawab saya sebagai redaktur. Dan komentar-komentar pendek itulah yang kemudian dibayar oleh surat kabar. Sejak itu, setiap cerpen yang saya muat selalu saya beri komentar nilainya sebagai cerpen.

Pada suatu siang, ketika saya akan mengambil naskah cerpen, sekretaris keuangan memberi tahu saya bahwa ada orang yang menunggu sejak dua jam yang lalu di ruang lobi. Saya bergegas menuju lobi. Di sana ada tiga orang yang duduk menunggu, mungkin mau ambil honor tulisan. Seorang pun tak ada yang saya kenal. Ketika melihat yang duduk di kursi pojok, saya ingat sebuah foto yang pernah saya kenal. Itulah Emhaes Purbowangi yang menyertakan foto di karangannya.

“Anda mencari saya?” kataku menyapa.

“Bapak Asmara?”

“Betul.”

“Saya Purbowangi. Emhaes Purbowangi. Dari Tegal.”

“Jauh amat. Khusus ke sini?”

“Ya. Mau minta pertanggungjawaban bapak.”

“Tanggung jawab apa?”

“Bapak sudah bertahun-tahun mengasuh ruang cerpen di sini. Dan saya telah banyak mengirim cerpen. Baru satu yang bapak muat. Padahal sudah ada sekitar lima belas cerpen saya dimuat di surat kabar Jakarta.”

“Mari kita duduk di dalam.”

Saya mengajak dia masuk ke ruang redaksi yang kebetulan masih kosong. “Apakah Bapak betul-betul membaca cerpen-cerpen saya? Redaktur tak punya tanggung jawab. Ini. Ini bagaimana. Cerpen semacam ini dimuat, apa? Taik. Cerpen naik bus kota kok dimuat. Cerpen-cerpen saya lebih berbobot. Tragedi cinta anak manusia. Apa naskah saya ‘Mendung di Langit Tegal Arum’ telah benar-benar dibaca? Naskah itu di mana sekarang? Naskah itu pengalaman cinta saya yang sesungguhnya. Saya menulisnya dua minggu penuh. Sedang cerpen ini cengeng bener, naik bus kota berdesakan saja sudah dianggap penderitaan. Ditolak cintanya, itulah tragedi universal….”

“Lho Anda mau menuntut saya? Pada siapa?”

“Saya hanya minta pertanggungjawaban moral redaktur di sini. Cerpen recehan dimuat. Cerpen berbobot dibaca pun tidak.” Beberapa orang di ruangan itu mulai menengok ke arah kami.

“Setiap redaktur mempunyai penilaian sendiri mana yang dapat dimuat dan mana yang tidak. Kalau cerpen-cerpen Anda ditolak di sini, dan dimuat di penerbitan lain, itu wajar saja. Setiap redaktur memiliki penilaian sendiri. Saya sendiri mengalami….”

“Tidak usah bela diri. Tiga cerpen saya pernah dimuat di sini sebelum redakturnya diganti. Dasar redaktur goblok!”

“Hei, ada apa ribut-ribut di sini?” tiba-tiba suara Mas Marwan, redaktur budaya, muncul di belakang saya.

“Ini Mas….”

“Lu siapa ngotot mendelik? Cerpen tidak dimuat saja ribut seperti nagih utang. Kalau tidak, keluar dari ruangan ini …,” Mas Marwan mulai membuka ranselnya dan mengeluarkan pistol. Mas Marwan memang bekas militer di zaman revolusi dulu. Dan dia suka membawa-bawa pistolnya ke mana saja pergi. Kabarnya juga dalam rapat redaktur. Purbowangi tiba-tiba pucat. Ia ketakutan memandang wajah Mas Marwan.

“Minggat dari sini tidak?”

“Saya hanya minta penjelasan….”

“Keluar!”

Saya kasihan juga melihat orang itu tiba-tiba melunak. Ia mulai memasukkan berkas-berkas guntingan koran yang sejak tadi dipegangnya. Purbowangi kemudian keluar ruangan. Saya masih di dalam dengan Mas Marwan.

“Mengapa melayani orang gila semacam itu? Lain kali ditolak. Sudah ngambil honor belum? Honornya sudah naik belum?”

“Masih lima belas ribu!”

“Sudah berapa lama?”

“Ada kalau delapan tahun ini.”

“Nanti saya minta naikkan.”

“Mas….”

“Ah nggak usah basa-basi. Kamu kan butuh duit. Menulis memang untuk dapat duit.”

Sesudah ngobrol sebentar di ruang redaksi kebudayaan, saya pamit. Ketika melewati pintu gerbang dengan mengendarai Suzuki minibus saya yang tua, saya lihat Purbowangi berdiri di pinggir jalan mau mencegat angkot.

“Hei Purbo! Purbo! Mau ke mana?”

Ia menoleh ke arah saya. Ia menunjuk ke arah terminal bus Leuwipanjang.

“Ayo ikut saya. Saya lewat terminal.”

“Terima kasih.”

Ia naik setelah saya bukakan pintu depan.

“Mau terus ke Tegal?”

“Ya. Naiknya di Cicaheum.”

“Wah, kebetulan dekat rumah saya. Saya antar sampai pertigaan Cicaheum.”

Kami masih tegang. Namun, saya usahakan untuk melupakannya. Untuk beberapa lama kami terdiam.

“Di surat kabar mana saja cerpen-cerpennya pernah dimuat?”

“Di Pos Betawi ada lima. Lainnya di Mayapada, di Semarang, dan Purwokerto. Maaf tadi….”

“Ah, lupakan. Saya memahami kegeraman Anda. Tadi itu Pak Marwan, bekas tentara. Meskipun tampaknya kasar, hatinya baik.” Purbowangi diam lagi. Melewati Terminal Leuwipanjang, suasana sudah mulai cair. Saya benar-benar berusaha memendam peristiwa yang baru terjadi. Untuk saya, merupakan perjuangan tersendiri. Beberapa kali saya dilecehkan terang-terangan di depan umum yang memerahkan telinga dan hati. Namun saya pendam dengan kesabaran. Kadang malam harinya saya berniat membalas dendam, tetapi saya berusaha memaafkan mereka yang sengaja melampiaskan sakit hatinya pada saya.

“Mengapa sulit dimuat, Pak?”

Tiba-tiba Purbowangi berkata dalam nada orang yang baru saja dikalahkan dalam sebuah pertandingan. “Saya punya penilaian sendiri yang tidak tiap redaktur menyetujuinya.”

“Semua karangan saya berdasarkan pengalaman nyata. Sebagian besar pengalaman saya sendiri dan teman-teman dekat saya. Terutama pengalaman waktu SMA.”

“Namanya juga karangan. Jadi fiksi. Bikinan saja. Tak usah harus pengalaman nyata. Mengarang itu bukan pengetahuan yang sudah ada, tetapi yang tidak ada.”

“Bagaimana bisa begitu, Pak?”

“Itulah mengarang namanya. Dalam menulis Anda akan menulis apa yang sudah Anda ketahui, tetapi kalau dalam proses penulisnya Anda tidak menemukan sesuatu di luar yang Anda ketahui, itu karangan biasa saja. Sebenarnya Anda tidak tahu apa yang akan Anda tulis sampai tulisan itu jadi. Dalam proses itulah pengetahuan yang tidak ada Anda peroleh.”

Purbowangi lama terdiam. Mencoba mencerna apa yang saya katakan. “Kita hanya kadang-kadang saja bisa menulis secara demikian. Tetapi pada suatu ketika bisa berjubel hal-hal yang ingin ditulis. Namun, Anda tetap tidak tahu bagaimana jadinya tulisan itu. Pengetahuan dan pengalaman penting, tetapi lebih penting apa yang Anda tidak ketahui dan apa yang Anda tidak alami.”

Di pertigaan Cicaheum Purbowangi saya turunkan.

“Terima kasih Pak Asmara!”

“Selamat jalan!”***

* Jacob Sumardjo, budayawan.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/10/esai-menulis-karangan.html