SASTRA YANG HENDAK MENJAUH DARI TUHANNYA

Hudan Hidayat
Jawa Pos, 6 Mei 2007.

Nakal” dan” santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua.”

PIDATO Kebudayaan Taufik Ismail di depan Akademi Jakarta pada 2006, bukan hanya menyerang sendi sastra dan seni, tapi telah memporandakkan hidup itu sendiri. Dengan pidato itu Taufik telah meringkus kompleksitas dunia pada satu ruang. Yakni, ruang agama formal. Kalau diumpamakan sungai, maka sungai kehidupan yang memantulkan warna-warni nasib manusia dan takdir dunia, akan mengering diisap cara kerja Taufik yang ingin memasung kreativitas, membelenggu kebebasan berpikir, serta menciutkan imajinasi. Akibatnya, kehidupan akan kehilangan terang dan gelapnya sendiri. Kehendaknya, alih-alih membawa suara moral dalam sastra, tapi justru akan membawa sastra menjauh dari Tuhan-nya.Bagaimana menyikapi penyair yang kondang di luar publik sastra Indonesia ini? Adalah dengan mengikuti cara berpikir Taufik sendiri. Yakni, suara moral agama. Dan apakah kata agama pada bidang yang diteriakkan Taufik Ismail?Sesungguhnya serangan Taufik Ismail masuk dalam kawasan tafsir. Pertanyaan yang muncul: siapakah yang berhak menafsir? Dan tafsir siapakah yang paling hebat?Mungkin tak seorang pun yang tahu. Mungkin hanya Tuhan yang tahu. Sebab, kebenaran seolah roh dalam badan. Makin kau genggam makin ia menyuruk ke dalam badan. Atau kebenaran mirip menggenggam air dalam tangan. Makin kau genggam makin merucut dari balik tangan.Saya ingin menafsirkan kehidupan dari aras penciptaan. Kalau Taufik Ismail menafsirkan Serat Chentini sebagai teks yang porno, menganjurkannya agar dilarang dibacakan di depan publik, saya tidak menganggap teks itu sebagai pornografi. Karena tidak ada “bau burung” dan” dengus nafsu” di situ. Hanya penggambaran biasa, di mana seorang pembantu rumah tangga menunggu sepasang pengantin di kamarnya. Mengira-ngira apakah sudah terjadi “permainan burung”.Suasananya mirip dengan seseorang bertamu di rumah teman. Sang tamu menunggu di ruang tamu. Tuan rumah masih di dalam kamar. Apa yang terjadi di dalam kamar tuan rumah?

Bisa apa saja. Seseorang yang “nakal” akan membayangkan tuan rumah dengan istrinya sedang “bermain burung”. Tapi seseorang yang “santun” mungkin’ punya bayangan lain: tuan rumah sedang becermin. Maka muncul pertanyaan: siapakah yang “nakal” di sini? Siapakah yang berpikir dalam term pornografi?

Tuhan lebih “nakal” dari Taufik Ismail. Dalam sebuah ayat dari surat-Nya (QS 7 ayat 22), Tuhan Yang Maha Imajinatif menggambarkan Adam dan Hawa telanjang, setelah melanggar “aturan main”. Tidak ada kamar seperti di Serat Chentini. Pembaca bebas berimajinasi, perihal aurat yang ditutupi daun surga itu. Akankah kita mengatakan kitab suci sebagai teks yang porno? Tidak. Sebab, ketelanjangan Adam dan Hawa ditempatkan sang Kreator dalam bingkai sesuatu yang mengatasinya: sebagai sampiran untuk menerobos kenyataan yang lebih tinggi. Ketelanjangan, dalam upaya meraih makna lebih luas, dibuat Tuhan melalui peristiwa dan kata-Nya.

“Nakal” dan”‘santun”, “pornografi” atau “suara moral”,”gelombang syahwat” seperti kata Taufik Ismail, ternyata bersandar pada-Nya jua dalam scenario nasib manusia dan takdir dunia. Budaya “kekerasan” itu telah ditandaskan Tuhan sebagai nasib manusia dan takdir dunia. Turunlah kamu semuanya. Sebagian dari kamu akan berbunuhan satu sama lain…(QS 2 ayat 30). “Berbunuhan”, bagi saya adalah nasib manusia dan takdir dunia. “Berbunuhan” bisa dirujuk pada semua yang diteriakkan Taufik Ismail.

Kata-kata saling “membunuh” ini, dalam sastra, menemukan bentuknya pada pelbagai cerita yang seolah “menjauh” dari Tuhannya. Sastrawan akan membuat kisah, dengan “pornografi” sebagai sampiran, bukan inti cerita. Pornografi diletakkan sebagai pintu ke dalam makna yang lebih luas, di mana keluasaannya akan mengatasi scene pornografi. Cerita bergaya Nick Carter, kata Taufik Ismail, telah meruyak ke dalam sastra Indonesia? Tapi, saya belum pernah menemukannya. Lagi pula, apa yang salah? Bukankah “pembaca” dewasa akan menerobos “ketelanjangan” Adam dan Hawa di surga, dalam dua versinya.

Versi pertama, itulah metafora Tuhan yang menggambarkan telah terjadi persetubuhan. Versi kedua, itulah metafora Tuhan yang menceritakan ketelanjangan sebagai hal yang memalukan. Karena memalukan, nenek moyang kita menutupi tubuhnya dengan daun-daun surga. Ketelanjangan ditempatkan sebagai sesuatu yang salah. Tapi ia diperlukan sebagai penggambaran suara moral bahwa “ketelanjangan”‘tidak boleh terjadi. Karena itu, penceritaan, sebagai motif penciptaan, menjadi sah adanya.

Tidaklah fair untuk mengatakan seorang pengarang yang menceritakan “ketelanjangan” sebagai” pencari tepuk tangan”, seperti dituduhkan Taufik Ismail. Sebab, pengarang menceritakan ketelanjangan sebagai fungsi pencerahan. Setidaknya pencerahan sejauh yang bisa ia capai.

Berhadapan dengan teks yang “telanjang”, kita harus mengejar maknanya. Apakah ia inheren demi makna yang lebih luas atau semata demi ketelanjangan itu sendiri? Kalau ia berada dalam makna yang lebih luas, maka “pornografi” adalah bagian dari budaya “kekerasan” sebagai takdir dunia yang telah diintrodusir’sang Pencipta. Kehadirannya menjadi sah.

Menjadi jelas, “permusuhan”dan”berbunuhan” yang dikabarkan Tuhan itu adalah penyimpangan laku, dengan segala variannya. Varian yang terpenting adalah seks dan kekerasan, kesakitan dan kegilaan, yang memuncak pada satu titik: mati. Karena itu, dunia adalah latar bagi pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Dijejalkan-Nya sifat-sifat baik dan buruk pada manusia. Dia menunggu dengan takdir di tangan-Nya.

Saya ingin masuk pada aspek lain dari “budaya kekerasan”, sebuah varian yang menjadi fenomena dari abad-abad yang berlangsung. Yang telah pula dijadikan bahan oleh Taufik Ismail. Yakni, kekerasan yang dilancarkan oleh seseorang atau negara terhadap orang lain. Kekerasan yang masuk dalam frame “berbunuhan”, seperti “pornografi” masuk dalam’kotak yang sama. Aspek negatif dari kekerasan bisa menjelma sebagai perilaku seks bebas atau narkotika, di mana seseorang tidak mencelakai orang lain secara langsung, tapi mencelakai diri sendiri. “Berbunuhan” terhadap diri sendiri.

Di sini pula kita melihat dengan jelas makna yang dikehendaki Tuhan: janganlah “berbunuhan”, meski permintaan ini pada akhirnya dapat kita tafsirkan sebagai “permainan” Tuhan yang lain. Permintaan yang tidak mungkin. Sebab. bukankah “berbunuhan”‘sudah menjadi takdir dunia? Di dalam takdir mustahil manusia bisa masuk ke dalam arus yang sama atau sebaliknya. Tetapi untuk sampai kepada jangan “berbunuhan”, sekali lagi, adalah melalui’ penceritaan. Persis seperti penceritaan Kabil dan Habil-dua saudara kandung yang saling membunuh itu.

Jadi, apa yang salah? Tidak ada. Manusia memainkan perannya dan semua manusia akan menuju Tuhannya. Permainan yang membuat dunia hidup. Seolah taman dunia, segenap kekayaan makna ada di dalamnya. Tetapi, permainan dengan nafsu hendak meringkus kompleksitas dunia, sama dengan kehendak menelan Tuhan ke dalam diri. Bukan Tuhan di dalam diri, tetapi kita berada di dalam diri Tuhan, yaitu dunia.

Tuan Taufik Ismail, sajakmu “tiga anak kecil yang datang ke Salemba dengan malu-malu”, bukankah termasuk juga’ke dalam nilai-nilai yang Tuan keluhkan itu? Di mana saya sebagai pembaca bisa menerobosnya: di balik puisi itu terbentang sebuah kisah “pornografi”: kekerasan negara terhadap warganya. Kebusukan manusia terhadap sesama. Sesuatu yang hendak Tuan salahkan pada orang lain.

Karena itu, tidakkah yang “tertusuk padaku, berdarah juga padamu”, Tuan Ismail.

Dijumput dari: https://komunitassastra.wordpress.com/2007/09/06/sastra-yang-hendak-menjauh-dari-tuhannya/