Potret Sastrawan Perempuan

Anjrah Lelono Broto *

Menyoal penulis karya sastra (baca, sastrawan) berjender perempuan, besar kemungkinan angan kita akan melambung pada Ayu Utami, Hanna Fransisca, maupun Djenar Mahesa Ayu di Jakarta, dan atau (alm) Ratna Indraswari Ibrahim, Sirikit Syah, maupun Lan Fang di Jawa Timur. Apa yang menarik dan dibawa oleh sastrawan perempuan? Hal itu tentu saja dapat kita telanjangi dari karya-karyanya maupun latar belakang pribadinya. Akan tetapi, bagaimana posisinya dalam blantika realitas kehidupan? Continue reading “Potret Sastrawan Perempuan”

Tulisan, Persona, Identitas

Alfathri Adlin*
Pikiran Rakyat, 16 Feb 2008

BAYANGKAN, Anda membaca sebuah karya sastra yang indah lagi menyentuh tentang segala hal yang baik lagi puitis ihwal perempuan. Namun, sang penulis ternyata penindas perempuan. Kemudian, Anda pun sering membaca tulisan yang memikat berisi ketakziman dan keyakinan terhadap nilai-nilai kemanusiaan secara filosofis. Namun, dalam kesehariannya sang penulis ternyata sangat tidak peduli terhadap manusia. Selain itu, Anda pun gemar membaca buku agama karya seorang teolog. Namun, dalam realitasnya, ternyata sang teolog sama sekali tidak mengamalkan hal yang ia tuangkan dalam bukunya. Menghadapi fakta-fakta tersebut, kira-kira bagaimana reaksi Anda? Masih berhargakah karya mereka? Continue reading “Tulisan, Persona, Identitas”

Musikalisasi Puisi, Loyalitas Fredie Arsi

Teguh Prasetyo
Lampung Post, 17 Feb 2008

Udara bergetar dalam darahku. Ketika tasbih berputar dalam zikir. Wirid bertamburan memenuhi ruang. Dan kau tersenyum di penanggalan…

Penggalan puisi karya Ahmadun Yosi Herfanda berjudul Refleksi Jarak dan Waktu di atas tiba-tiba berubah menjadi satu syair lagu nan indah dengan komposisi dan harmonisasi musik yang begitu hangat dan bernuansa religius kental. Puisi tersebut menjadi pembuka penampilan Deavies Sanggar Matahari Jakarta, dalam pagelaran musikalisasi puisi yang digelar di Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Rabu (13-2) malam yang lalu. Continue reading “Musikalisasi Puisi, Loyalitas Fredie Arsi”

Tradisi Sastra Lisan yang Terlupakan

Muhammad Ali Fakih A.R. *
Lampung Post, 17 Feb 2008

DALAM khazanah kesusastraan Melayu kuno, tradisi sastra lisan, baik yang berbentuk syair maupun prosa, merupakan corak kekhasan tersendiri yang terbangun melalui relasi lajur sejarah yang panjang. Satu tradisi dari bangsa Yunan (China) yang diyakini sebagai nenek moyang bangsa Indonesia, dan satu tradisi dari ranah India ketika ajaran Hindu-Buddha menjadi sistem kepercayaan utama masyarakat, ditambah oleh sumbangan tradisi Arab-Islam yang disebarkan oleh para musafir Timur Tengah, tak pelak menjadi unsur sejarah teramunya corak kekhasan tradisi sastra lisan bangsa Indonesia yang asli. Continue reading “Tradisi Sastra Lisan yang Terlupakan”

Bahasa »