Kenangan dalam Bus

Raudal Tanjung Banua
lampungpost.com

AKU merantau, seolah semuanya telah menjadi lampau. Tapi tidak. Semuanya baru dimulai ketika ingatanku terasa bangkit kembali di sepanjang jalan yang kulalui. Telah aku seberangi selat dan kulewati kota-kota, dalam sebuah bus tua yang berderak sepanjang jalan, sepanjang siang dan malam. Meskipun dioper bus tiga kali, tetap bus tua juga yang akhirnya membawa diriku dari kota ke kota. Continue reading “Kenangan dalam Bus”

Sanca Colmar

Tova Zen
http://www.lampungpost.com/

KENANGANKU membayang saat aku duduk di bangku dipan yang reot dan beradu denting dengan keroncongan perutku ini. Lapar terus saja memilin lambung untuk segera diasupi makanan. Nasi basi yang kemarin ibu hidangkan telah kering menjadi rengginang, ampiyang, dan cengkaruk. Kurobek ingatanku saat menginjak air mata ibu di subuh hari. Continue reading “Sanca Colmar”

Ziarah Botol

Tandi Skober
http://www.lampungpost.com/

“Namaku Gusur. Emak bilang, sebenarnya sih pas lahir namaku Adhikarya. Disebabkan rumah emak dalam satu tahun digusur Pemda DKI lebih dari 13 kali, maka agar tidak gusar setiap kali ada operasi penggusuran kemiskinan, namaku diganti menjadi Gusur,” ucap Gusur Adhikarya. “Itu ceritaku, bagaimana ceritamu, Stad?”

“Saya tidak punya cerita, Bos. Maklum sebagai office boy, cerita saya sudah banyak diceritain orang.” Continue reading “Ziarah Botol”

Kronik Keindonesiaan: Pesawat Emas yang “Menerbangkan” Keindonesiaan Nun…

Indira Permanasari
Kompas, 17 Okt 2007

Kisah pengumpulan emas dari masyarakat untuk mendukung tetap berdirinya Republik Indonesia tercinta ternyata tak hanya terjadi di Nanggroe Aceh Darussalam. Masyarakat Sumatera Barat (Sumbar) punya kisah serupa dan kini jadi bagian dari kronik—catatan sejarah—keindonesiaan kita.

Pada tahun 1948, masyarakat Aceh berhasil mengumpulkan emas setara 20 kilogram. Emas itu kemudian dibelikan Pesawat Dakota yang diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. Seulawah sendiri berarti “Gunung Emas”. Continue reading “Kronik Keindonesiaan: Pesawat Emas yang “Menerbangkan” Keindonesiaan Nun…”

“In Memoriam” Prof Dr Teuku Jacob: Kepergian Pelacak Jejak Manusia Purba

Julius Pour*
Kompas, 19 Okt 2007

Teuku Jacob mempunyai dua pilihan saat akan masuk universitas di Pulau Jawa pada pekan kedua Januari 1950, Jakarta atau Yogyakarta?

“Di Jakarta universitasnya terkenal, tetapi saat itu dosennya masih banyak sarjana Belanda. Sementara di Yogyakarta, di bekas Ibu Kota Revolusi, sudah pasti semuanya Republiken. Maka saya sengaja memilih kuliah di Universitas Gadjah Mada.” Continue reading ““In Memoriam” Prof Dr Teuku Jacob: Kepergian Pelacak Jejak Manusia Purba”

Bahasa »