Perjamuan Magrib: Metafor Rambut yang Ranum

Adhy Rical

Membaca sajak penyair Syaifuddin Gani (SG) maka kita akan terbawa pada sebuah tempat. Rumah. Itu saja? Iya. Sederhana sekali. Sajak ini tak banyak bermain dalam wilayah makna seperti penyair lain. Prosais sekali jika sepintas membaca “Perjamuan Magrib” yang ditulis dua tahun lalu itu. Saya menyukai sajak ini karena sederhana.

1
istriku, azan magrib mengulum matamu
alismu rebah terbangun
rambutmu yang magrib lelap di leherku
kunikmati ranumnya seperti menyuntuki batubatu tasbih

merah di luar kamar bercengkrama di keningmu
matamu terbuka seumpama fajar terluka
bilal mengundang ke perjamuan magrib
menyantap sumsum alfatiha dan anggur arrahman

suamiku, bangunlah dari bebetan istirah
syair bilal mengelana di dadamu
penyetia yang tak lekang mengirim hubbu
matamu berkabut surau menyambut

temaram isya segera datang, satusatu bintang bertandang
di luar, jamaah melenggang ke taman sembahyang
sebelum iqamah datang
sebelum kiamat datang

2
sepasang suami istri membuka pagar
kakikakinya lariklarik puisi
hikmat dan nikmat ke terowongan magrib

jamaah bersorban berkerudung langit
mengerubung kiblat, lalu imam berkidung
oi, alangkah mawar allahu akbar
penawar jiwajiwa memar
rubuh dan rukuk dalam geluruh sembahyang

kendari, 12 agustus 2008

1/
Larik sajak ini sangat menarik perhatian. Ada beberapa diksi yang sering berulang diucapkan tapi pemaknaannya tak sama. Magrib. Saya memulainya dari kata “magrib” ini dulu sebagaimana penyair memulai dengan judul sajaknya. Mungkin dari situ kita temukan pemaknaan yang lebih jurus dan likat.

“istriku, azan magrib mengulum matamu
alismu rebah terbangun
rambutmu yang magrib lelap di leherku”

Pada bait di atas akan kita temukan dua kata “magrib”. Magrib pertama akan mudah ditebak karena pengertian denotatif sajak itu pun jelas. Azan Magrib adalah pintu awal memasuki sajak ini. Latar waktu pada magrib saat azan tiba. Lalu menyusul dua bulu (saya menggunakan kata biologik saja) biar lebih mudah pendefinisiannya. Personifikasi magrib pada larik berikutnya memukau. “rambutmu yang magrib lelap di leherku”. Magrib bisa dikatakan hitam. Rambut hitammu itu (sudah) lelap di leherku sejak lama. Ini diperkuat dengan larik pertama, si “aku” memanggil seseorang itu dengan “istriku”.

Setelah basmalah maka ada tiga ayat yang kita ucapkan dalam batubatu tasbih. Rambut telah menjadi buah yang ranum. Mungkin seperti rambutan Kendari yang sangat ranum. Rambut perempuan (istrinya) itu diandaikan buah yang ranum. Ia tiduri kekasihnya itu seperti tetap berzikir kepada Allah. Subhanallah. Lebih jauh sajak ini membuka cakrawala berpikir yang sangat menawan. Gaulilah istrimu sebagai ladang yang subur. Bukan main. Sajak ini memberikan mukaddimah langit dalam hubungan suami istri. Maka bahasa tuhan telah turun padanya sebelum sajak ini hadir secara lengkap.

“Merah di luar kamar itu bercengkrama dengan keningmu”. Bukankah ini gambaran senja? Magrib dianggap sebagai waktu yang paling romantis mengalahkan waktu-waktu yang lain. Bisa jadi penyair memilih magrib karena ia menyukai senja, menyukai warna-warna cakrawala yang menguatkan daya pukau cintanya pada istri. Atau magrib menandakan waktu ia kembali bersama istri setelah bekerja di luar rumah. Bisa jadi. Bisa juga magrib adalah waktu singkat sebagaimana waktu subuh. Ia yang takwa tak ingin lepas begitu saja. Seperti sesorang yang menunggu film kegemarannya di bioskop. Magrib menembus dimensi makna dan rupa bahasa. Anda boleh mencari lebih jauh pemaknaan itu. Masih terbuka kemungkinan ada pemaknaan lain dari magrib. Sampai di situ penyair belum berhenti memuji istrinya itu.

Lalu “matamu terbuka seumpama fajar terluka”. Ada kontradiksi di sini tetapi justru menjadi lebih indah. Kontradiksi yang tepat. “Luka” pada umumnya sesuatu yang sakit tapi “fajar terluka” di sini adalah terbuka. Sebuah metafor yang indah membawa kita pada ruang makna yang dalam. Magrib pun bisa terluka ketika matamu terbuka duhai istriku. Ya Allah, ini yang paling sulit dilakukan suami-istri: salat berjamaah. Penyair menggambarkan berjamaah itu sangat cantik di larik ini.

Kegairahan itu ternyata tak berhenti dengan pukau sang suami (aku) karena istri pun memiliki cara ucap yang berbeda tetapi rasa cinta yang sama.

“suamiku, bangunlah dari bebetan istirah
syair bilal mengelana di dadamu
penyetia yang tak lekang mengirim hubbu
matamu berkabut surau menyambut”

Istri yang baik adalah istri yang membangunkan suaminya salat jika waktunya telah tiba. Sajak ini bukan hanya bermakna sederhana seperti itu. Tapi ia lebih jauh menjangkau pemaknaan yang lain. Bangun tak sekadar lepas dari lelap/tidur tetapi dari riang yang mungkin saja dilipakan si “aku” itu.

SG sangat piawai mengajak romantisasi terjadi di rumah sendiri bahkan dalam jelang salat pun ia cerdas mengolahnya menjadi bahasa yang indah.

Saya hanya tak menemukan pengertian lain dari kata “bilal” dalam sajak ini. Ia tetap bilal tak seperti magrib yang benar-benar magrib dan sesuatu yang lain, mungkin bermakna rambut yang hitam seperti di awal esai ini kutuliskan. Selebihnya, kita patut bersyukur masih diingatkan dengan manis cara menemui kekasih ranjang dan kekasih sajadah secara bersamaan dengan cara yang paling romantis. Di luar itu, kita patut mengikuti jejaknya, bermain bahasa sang penyair ini tak pernah redup. Sepertinya ia selalu hadir di tempat yang tidak terduga. SG adalah penyair paling produktif di Sulawesi Tenggara. Pun kita tetap berharap akan hadir sajak-sajak lain yang lebih jauh pemaknaannya melebihi yang pernah ia tulis sebelumnya.

Salut penyairku. Aku ingin hadir di perjamuanmu! Mengajariku bercinta dengan tuhan sambil bercinta dengan kekasih yang lain setelah magrib selesai. Bukankah kita bisa bermain lebih lama di waktu Isya?
***

Kendari, 2010
Dijumput dari: http://kendarisyaifuddingani.blogspot.com/2010/07/perjamuan-magrib-metafor-rambut-yang.html