Sastra, Djenar Maesa Ayu, “Dugaan” Feminisme Pula

Widdy Apriandi
http://penulismuda.com/

Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara ibu. Saya mengisap penis ayah. Dan saya tidak menyedot air susu ibu. Saya menyedot air mani ayah…. (Djenar Maesa Ayu, Menyusu Ayah)

Prolog…

Menulis sastra, kemudian menulis essay tentang sastra, jelas merupakan dua hal yang sama sekali berbeda. Bicara pengalaman (experience), “rasa”, sensasi…keduanya (relatif) memiliki dimensi penekanan yang tidak ekuivalen. Di satu sisi, menulis sastra katakanlah, “dia” tak jarang mengatasi (beyond) batas-batas formal “dunia” yang satu lagi (yaitu menulis essay tentang sastra). Menulis sastra, dimungkinkan ada ruang “ke-liar-an” yang sengaja dihidupkan di sana—dan itu dimafhumkan. Gagasan-gagasan bisa berkembang tanpa perlu “kredo” ini-itu (layaknya displin ilmu ; Pen) yang macam-macam. Kata-kata, seperti Wiji Thukul bilang, “melesat bagai peluru”.

Menulis essay tentang sastra, nyatanya (sekali lagi) berbeda. Disiplin ilmu, ideologi dan pelbagai ornamen “sebangsa”-nya tumpah-ruah di situ. Bisa jadi kaku dan tidak mustahil juga “sempit”, dalam artian bahwa daya jelajah pembacaan tak seluas ketika proses kreatif diarahkan untuk semata ber-sastra. Selanjutnya, mengutip buah nalar Freire dalam Pendidikan Masyarakat Kota, menulis essay sastra adalah manifestasi “kerja” yang rentan distorsi politisitas gagasan—di mana setiap kata yang dituangkan tidak lepas dari pretensi kepentingan (apa, memihak siapa ?). Kata tak lagi sebebas peluru, “dia” terpenjara dalam ruang konsensus sosial dan historis.

Dalam konteks ini, saya ingin mengatakan bahwa tantangan yang disodorkan oleh web-nya para penulis muda ini tidak sesederhana sebagaimana yang diperkirakan. Sebaliknya malah, akan lebih “persis” dikatakan “berat” sebetulnya. Namun begitu, bukan berarti begitu jauh untuk direngkuh. Tidak ! selalu ada ruang (space) yang sangat lebar untuk “mereka” yang mendeklarasikan eksistensinya sebagai “pemberani”. Berani mencoba, berani “bertarung”, berani berekspresi dan—akhirnya—berani malu…seperti itu kurang lebih maksud saya. Kenapa tidak ? Trial and error toh adalah suatu keniscayaan yang “hidup” dalam semesta kreatifitas yang sempat ada (exist) di dunia ini. Lantas, kenapa mesti ragu, sementara segala sesuatu itu pasti akan bermula dari nol (bukan satu, dua dan seterusnya)? Artinya, nyaris tidak ada ruang toleransi (zero tolerance) bagi siapapun untuk tidak mencoba tawaran “uji adrenaline” yang digagas pengelola web ini. Termasuk saya, termasuk orang lain.

Tulisan saya ini—terus terang—penuh dengan “spekulasi”. Menulis berbaris-baris kalimat yang dipadukan dengan pisau analisis tertentu di media massa untuk sekadar “test case” analisis sosial, bisa jadi “biasa” buat saya. Tetapi, menulis essay sastra, beda lagi urusannya. “Spekulasi”, saya artikan sebagai pengalaman pertama yang serba “polos” dan—tidak menutup kemungkinan—“hantam kromo”. Untuk hal yang demikian, saya rasa tidak berlebihan (dan tidak pula retoris) bila saya ingin mengucapkan “maaf”, juga “mohon saran dan kritik”.

Nayla dan “Dugaan” Feminisme a la Djenar Maesa Ayu

Cerita pendek (cerpen) berjudul “menyusu ayah” yang digubah dengan begitu “dingin” dan lepas di tangan Djenar Maesa Ayu buat sebagian orang (atau bahkan mayoritas barangkali ; Pen) boleh jadi sarat sayatan preseden “kontroversial” dan—bahkan—“cabul”. Katakanlah, secara stereotipikal, di dataran yang sifatnya artifisial plus simbolis. “Penis”, “air mani” dan beragam simbol seksualitas yang diumbar tanpa beban…siapa tidak tercengang ? Betapa tirai ke-tabu-an yang selama ini dijaga dengan segala kepatuhan dan lakon sakral bertajuk “etika ke-timur-an” seperti tengah ditantang secara terang-terangan oleh sang penulis.

Kemudian, ditambah represi Undang-Undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi yang memasung batas-batas eksplorasi seni apalagi, ruang afirmasi “pentahbisan” predikat etik tersebut menjadi semakin menguat. Negara (state) dalam perwujudan regulasi tersebut menginfiltrasi domain publik yang paling mendasar, yaitu nilai (value). Minus rancang tanding konsepsi yang paling tidak setara, misi infiltrasi tersebut “mutlak” sudah terpenuhi. Negara (state) menang telak di atas konstelasi kesadaran (consciousness) publik yang carut-marut. Konsekuensinya, tersemat begitu nyata di ruang publik (public sphere), “sesuatu” yang disebut sebagai “nilai resmi”. Sementara, supra-struktur lain yang meng-ada (being) di luar koridor tersebut bertransformasi ke “bentuk” yang inferior, rapuh, tertindas. Potensi “kriminalisasi gagasan” di wilayah opini publik hingga ke pembredelan sekalipun terbuka lebar.

Maka, dalam konteks tersebut, mengungkit cerita pendek Djenar Maesa Ayu berarti “tantangan” (challenge) di waktu yang bersamaan. Lebih dari itu, memotret fenomena yang “mewujud” (becoming) dalam narasi yang diproklamasikan dengan begitu lantang oleh Djenar Maesa Ayu juga membuka konsepsi lain yang selama ini ditekan, ditindas, dijarah sejadi-jadinya. Mengikuti tuturan Enin dalam “Menolak Untuk Menunduk ; Menentang Budaya Represif”, konsepsi lain itu dimaknai sebagai rancang tanding budaya (counter-culture).

Dalam peta konfliktualnya, rancang tanding budaya (counter culture) mengisyaratkan “wajah” perlawanan (resistensi) terhadap relasi kebudayaan yang asimetris, berat sebelah. Perjalanan kebudayaan (dan lebih luas dari itu adalah peradaban ; Pen) memang tak melulu lurus (linier) dan “elegan” sebagaimana sering diperkirakan. Seringkali ada darah yang tertumpah, seringkali ada tragedi yang turut terlibat. Rancang tanding budaya (counter culture) merupakan eksponen yang tak terpisahkan dari semua itu. “Dia” hadir manakala relasi kebudayaan tak lagi memainkan formulasi “keterbukaan” dan saling mengisi. “Dia” mengemuka tatkala dialog kebudayaan yang tampil di permukaan (surface) mengambil format “dominasi-subordinasi” ; yang satu berdiri dengan arogansi yang berlebihan, sementara yang satu lagi meringkuk seperti nyaris tak pernah ada. “Karakter”-nya, katakanlah bila memang pantas disebut demikian, bervariasi dari mulai konservatif hingga radikal sekalipun.

Tokoh Nayla yang dipaparkan dalam cerita pendek (cerpen) Djenar Maesa Ayu dalam hal ini bisa dinilai cukup representatif untuk ditempatkan sebagai icon rancang tanding budaya (counter culture). Meski abstrak, meski banyak dimensi eksistensialnya yang terkesan silang-sengkarut. “Kita” tak (akan) pernah tahu siapa Nayla dalam artian wujud yang utuh. Secara artikulatif ; Seperti apa latar belakang sosial, historis hingga politisnya secara detail?, imajiner-kah?, perwakilan identitas wanita Indonesia atau bukan-kah?…dan banyak lagi. “Kita” tak pernah tahu. Namun begitu, satu hal yang bisa dihakimi sebagai “pasti” adalah bahwa Nayla tidak lain merupakan perempuan itu sendiri, remaja—dengan motif cara pandang dunianya yang “orisinil”.

Sang perempuan, Nayla, bukan perempuan biasa. Ekspresi eksistensial tersebut ditegaskan cukup intens pada cerita pendek (cerpen) Djenar Maesa Ayu sebagaimana dimaksud. Tuturan cerita yang disampaikan Nayla, seperti halnya telah saya kutip di awal tulisan, menggambarkan bagaimana ekspresi eksistensial “orisinil” yang dimiliki oleh Nayla. Sekadar mengulangi ; dia, Nayla, bukan perempuan biasa. Dia justru anti-thesis sekaligus identitas alternatif yang diposisikan frontal dengan setiap “kebiasaan” yang pernah atau sempat dimiliki (manusia) perempuan di garis main-stream.

Identitas alternatif (manusia) perempuan. Sementara Nayla—si tokoh utama dalam cerpen ini—dalam interpretasi “fitrah”-nya adalah seorang perempuan, atmosfer yang melingkupi dan membentuk dirinya justru penuh dengan aroma maskulinitas. “Penis”, “air mani” (bukan “puting” dan “air susu ibu”) adalah simbol-simbol maskulinitas yang sengaja dikedepankan dan—bahkan—dipulas sedemikian rupa, sehingga tak urung menjadi begitu dominan. Secara ekstrem, “kita” seperti tengah disuguhkan suatu gelaran tragedi pergulatan personal perempuan yang penuh dengan paradoks gender. Nayla, seorang perempuan yang tidak biasa, karena dia hidup di belantara simbol-simbol maskulinitas—yang kemudian mengantarkan dirinya meraup cara pandang dunianya yang “orisinil” (mengatasi batas-batas interpretasi umum dan wajar manusia perempuan lainnya).

Sampai di sini, persoalan terbesar yang sama-sama “kita” hadapi—apalagi mengaitkannya itu dalam tema rancang tanding budaya (counter culture)—adalah penterjemahan “dunia” Nayla ke dunia aktual yang “kita” pijak. Dalam ruang lingkup pengertian yang “dingin”, justifikasi semodel apa yang dapat ditandaskan untuk fenomena sebagaimana dimaksud dalam bahasa nyata (real) yang “kita” miliki hari ini ? Bila harus diputuskan secara final, saya pikir terlampau tergesa-gesa (dan jangan-jangan berakhir hiperbol ; Pen). Untuk itu, akan lebih baik bagi saya untuk “hanya” mengikat pemaknaannya sebagai “dugaan”.

Kemungkinannya—dalam hemat pemikiran saya—ada dua, yaitu feminisme di satu sisi dan anarkisme libertarian di waktu yang (luar biasanya) relatif bersamaan. Dalam domain isme populis yang mulai mendapatkan angin di negeri ini, yaitu feminisme, sosok Nayla mewakili ide-ide feminisme yang melampaui demarkasi “normal” yang berlaku di dataran sosial dan historis Indonesia. Dibanding mempersoalkan perlakuan dunia kerja dan proporsi keterwakilan secara politik, Nayla dalam citra feminisnya menggugat lebih dari itu. “Dia” menggugat “fungsionalisasi” organ tubuh, sehingga sedikit bersentuhan dengan ide-ide seksis. Akan saya kutip sedikit potongan cerpen Djenar Maesa Ayu yang berkenaan dengan hal itu :

“…pada suatu hari ketika sedang asyik menyusu salah satu teman Ayah, ia meraba payudaya saya yang rata. Saya merasa tidak nyaman. Ucapan Ayah bahwa payudara bukan untuk menyusui namun hanya untuk dinikmati lelaki terngiang-ngiang di telinga saya. Saya tidak ingin dinikmati. Saya hanya ingin menikmati…”

Betapa kentalnya sentimen seksis yang beredar di pusat kesadaran seorang Nayla. Definisi dirinya tentang fungsi organ tubuh perempuan mewakili sentimen seksis yang dimilikinya. Tepat di hadapannya, Nayla bersentuhan langsung dengan carut-marut definisi organ tubuh, yaitu bahwa organ tubuh perempuan (baca : payudara) semata sekadar instrumen pemuas laki-laki. Sang Ayah menjadi “manusia nilai” (man of value) yang mengantarkan Nayla ke ranah tersebut. “Dia”, Sang Ayah, seolah-olah mewakili klimaks tafsiran Nayla tentang arti (meaning) laki-laki. Entah apakah “layak” untuk dikatakan “hebat” atau justru “ironis”, Nayla menegaskan posisinya di tengah “kekacauan” definisi tersebut, yaitu “ingin menikmati” (bukan dinikmati). Penegasan posisi tersebut menjadi puncak seksisme Nayla.

Nayla, di waktu yang bersamaan, ternyata juga seorang anarkis libertarian. Mengikuti arah nalar Camus dalam Sang Pemberontak, Nayla adalah pemberontak metafisik yang gencar melakukan pemberontakan demi pemberontakan terhadap nilai (value). Terhadap dirinya, terhadap konstruksi keperempuanannya, Nayla memberontak. Perjalanan pemberontakannya mengalir deras kepada cita pembebasan. Singkat kata, bahwa dirinya bisa menjadi “yang tunggal”, “otonom”. Klise tersebut tampak pada potongan cerpen di bawah :

“…Kini, saya adalah calon ibu dari janin yang kelak akan berubah menjadi seorang anak yang kuat, dengan atau tanpa figur ayah…”

Epilog

Terlepas dari segala kontroversi yang lekat dengan cerita pendek (cerpen) Djenar Maesa Ayu, satu hal yang sekiranya “mesti” dijadikan renungan “kita” bersama adalah bahwa cerita pendek (cerpen) berjudul “menyusu ayah” ini mengajak “kita” untuk menafsirkan kembali format relasi gender. Bahwa persoalan keseteraan gender ternyata lebih luas dari sekadar “keadilan” di dunia kerja dan keterwakilan politik. Namun lebih dari itu, “keadilan” di panggung seksualitas adalah hal lain yang paling tidak harus diperhatikan.

Djenar Maesa Ayu “menelanjangi” perspektif kolektif menyoal “sesuatu” yang dinilai Michael Foucault sebagai “politik tubuh”. Perempuan beserta segala ornamen keperempuanannya, mesti bebas dari represi, intimidasi—sedikit banyak Djenar Maesa Ayu ingin menandaskan itu. Fatima Mernissi beserta pegiat feminis lainnya, membungkusnya dalam satu konsepsi “memanusiakan penis lelaki”. Di ujung perjuangannya, penis lelakai bukan “senjata” untuk men-degradasi-kan perempuan, melainkan “instrumen” keadilan. Wallahu’alam Bisshowab…

Sumber: http://penulismuda.com/artikel-mainmenu-42/2428-nayla-dan-sepotong-sastra-djenar-maesa-ayu-dugaan-feminisme-pula-naskah-lomba-essai-sastra