Sendiri Memutari Tanah Air Mata

: Selamat Ulang Tahun, Presiden Penyair
Chavchay Syaifullah
Media Indonesia, 24 Juni 2007

PADA 1974, beberapa hari sebelun berangkat ke Iowa City, Amerika Serikat, penyair Sutardji Calzoum Bachri tampil membacakan puisi-puisinya di Gedung Teater Arena, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Di situlah, ketika botol-botol bir bersatu dengan aksi deklamasi puisi, saat Sutardji berguling-gulingan tanpa baju, ia berteriak pertama kalinya:

“Akulah Presiden Penyair….akulah Presiden Penyair….” Publik sastra saat itu tercengang dan kawula wartawan tidak lengah mencatat deklarasi diri itu. Sejak saat itu pula, Sutardji Calzoum Bachri dikenal dengan julukan Presiden Penyair hingga hari ini. Segenap pujian terus mengalir sebagai penyair yang mampu merumuskan proses kreatifnya secara jenius, termasuk sebagai penyair yang mampu bertahan hidup ‘susah’ menjaga kemandirian dalam bersastra. Segenap penghargaan pun telah ia raih dari dalam dan luar negeri, termasuk penghargaan sastra bergengsi South East Asia Write Award (SEA Award) pada 1979. Namun demikian, tidak ketinggalan, sebagai manusia biasa, ia juga dikenal sebagai makhluk yang ‘keras kepala’, senang konfrontasi, dan lari dari tugas-tugas rutin kelompok atau organisasi. Pada titik itulah, ia juga dikenal sebagai penyair yang selalu sendiri memutari ‘tanah air mata’-nya.

Di hari ini, Minggu 24 Juni 2007, sang Presiden Penyair genap berusia 66 tahun. Sejumlah agenda acara telah disiapkan menyongsong ulang tahunnya. Sejak awal bulan ini saja, kita bisa melihat bagaimana Jakarta dan daerah sekitarnya penuh poster dan banner pengumuman, ‘Lomba Baca Puisi Piala Sutardji Calzoum Bachri HUT ke-66: Memperebutkan hadiah Total Rp15 Juta, Piala, Piagam, dan Ziarah Budaya ke Pulau Penyengat, Tanjung Pinang (Situs Sejarah Sastrawan Raja Ali Haji)’. Pada puncaknya, dalam acara Pekan Presiden Penyair (14-19 Juli) di TIM, Jakarta, sebuah seminar bertaraf Internasional akan digelar dengan tajuk Seminar Internasional Sutardji Calzoum Bachri, dengan pembicara V Braginsky/Irena Katkova (Rusia), Dr Muhammad Zafar Iqbal (Iran), Henri Chambert-Loir (Prancis), Maria Emelia Irmler (Portugal), Prof Dr Koh Young-Hun (Korea), Dr Haji Hashim bin Haji Abd Hamid (Brunai Darussalam), Suratman Markasan (Singapura), Asmiaty Amat (Sabah), Dato Kemala (Malaysia), Dr Abdul Hadi WM/Taufik Ikram Jamil/Prof Dr Suminto A Sayuti (Indonesia).

Untuk seminar yang dikelola Yayasan Panggung Melayu itu, setiap peserta harus membayar uang pendaftaran sebesar Rp200.000. Dari informasi panitia, para pendaftar sudah mulai membludak. Itukah bukti kecintaan para pecinta sastra Indonesia kepada si ‘keras kepala’ itu?

Dari penyair ke masyarakat

Dalam proses kreatifnya, Sutardji sering menyampaikan kepada publik bahwa ia adalah orang yang lambat merumuskan pikirannya. Pengakuan itu tidak pernah ragu dan malu-malu ia ungkapkan. Kepada Media Indonesia beberapa hari lalu, di sela kesibukannya menyiapkan naskah pidato ulang tahun yang akan dibacakannya di Pekan Baru, Riau, pada 22 Juni, ia terus terang berkata, “Maaf baru bangun. Semalaman begadang menulis acara di Pekanbaru. Dan mulai sekarang sampai malam nanti akan melanjutkan tulisan lagi.” Tidak hanya itu, saat-saat kemarin, ia juga disibukkan pula dengan menulis pengantar buku kumpulan artikelnya dan naskah pidato untuk acara ulang tahunnya di Jakarta yang akan disampaikannya pada tanggal 19 Juli 2007.

“Sebenarnya untuk buku saya itu, tidak perlu lagi pengantar dari saya. Tapi Dorothea (Dorothea Rosa Herliani, seorang penyair di Magelang dan pengusaha buku) terus memaksa saya untuk menuliskan pengantar,” ungkapnya seraya menjelaskan bahwa meskipun mengaku lamban bekerja, ia merasa tertantang bila diberi tenggat.

Namun, harus diakui bahwa kerjanya yang lamban sebetulnya cermin dari kehati-hatian Sutardji dalam merumuskan pemikirannya. Sehingga, hasilnya seperti kita ketahui bersama adalah karya-karya yang orisinal, cemerlang, dan tahan waktu. Dengan kata lain, dialah penyair yang bekerja layaknya seorang filsuf.

Pada Kredo Puisi yang ia tulis 30 Maret 1973, sebuah pledoi yang ia tulis untuk membela puisi-puisi mantranya, terlihat bagaimana ia cukup dalam menelusuri pandangannya tentang kata, mantra, dan puisi. Ia menulis, ‘Dalam penciptaan puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari di atas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tidak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.’

Tidak hanya sampai di situ, tetapi ia pun merumuskan bagaimana kerjanya sebagai penyair ketika kata-kata telah ia posisikan sebagai makhluk hidup yang bebas berkreasi. Ditambah ketika ia meyakini bahwa menulis puisi sama halnya mengembalikan kata kepada mantra.

“Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya–agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapat aksentuasi yang maksimal. Menulis puisi, bagi saya, adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan kata pertama adalah mantra. Menulis puisi, bagi saya, adalah mengembalikan kata kepada mantra.”

Dalam periode kepenyairan itu, tepatnya periode 1966-1979, Sutardji mengakui bahwa saat itu ia benar-benar tertantang bagaimana ia mengambil sikap ketika dunia perpuisian Indonesia belum melirik kepadanya.

“Saat itu saya memang belum dikenal, tapi saya sudah merasa bahwa saya harus mengatakan kepada kawan-kawan penyair bahwa begitulah cara kerja penyair dalam menuliskan puisi. Jadi, pada masa itu, puisi-puisi yang saya tulis memang saya khususkan untuk mengajarkan penyair,” ujarnya sambil tertawa.

Baginya, menuliskan puisi sama dengan membuat patung. Atau secara ilustratif sebagaimana ia tuangkan dalam sajak Sculpture yang berbunyi, ‘Kau membiarkan perempuan dan lelaki meletakkan lekuk tubuh mereka, meletakkan gerak menggeliat bagai perut ikan dalam air dari gairah tawa sepi mereka dan bungkalan tempat kehadiran menggerakkan hadir dan hidup dan lobang yang menangkap dan lepas rahasia kehidupan kau tegak menegakkan lekuk bungkalan lobang dalam gerak yang tegak diam dan kau menyentak aku ke dalam lekukbungkalanlobangmu mencari kau.’

Namun demikian, sejak periode akhir 1990-an dan 2000-an, yakni pada periode penulisan puisi ‘Tanah Air Mata’ hingga puisi ‘Munafik Ismail’, Sutardji mengakui bahwa ia sudah mengubah target yang ia arahkan dari karyanya, yakni masyarakat umum.

Pergeseran dari target penyair ke masyarakat umum memang bagi beberapa kalangan sangat disayangkan. Sebab warna mantra tidak lagi bergolak dari puisi-puisinya, tetapi hanyalah larik-larik yang umum ditulis penyair kebanyakan. Begitu pun dengan tenaga puisinya yang tidak lagi eksplosif.

“Ini sudah perjalanan dalam hidup saya. Kalau dulu saya lebih banyak mengarahkan puisi-puisi saya untuk penyair dan sekarang kepada masyarakat luas, saya rasa tidak masalah. Yang penting bagaimana sang penyair bisa menjadi balok es yang bisa meneteskan airnya ke gelas-gelas kosong. Artinya, ia tidak lagi berguna hanya bagi dirinya, tapi untuk masyarakat luas,” tukas penyair kelahiran Riau itu.

Selamat ulang tahun ke-66, wahai Presiden Penyair! Semoga kemandirian, kesederhanaan, kedalaman, dan ketenangan Anda menjadi oase bagi orang-orang Indonesia yang nasibnya masih tergerus di tanah air mata.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/06/sendiri-memutari-tanah-air-mata.html