Tentang Penyair

Alex R Nainggolan*
Seputar Indonesia, 29 Juli 2007

Seorang penyair merupakan orang yang tak mau diganggu. Namun sebenarnya ia suka juga,mungkin secara sembunyi-sembunyi, sekadar nguping pendapat pembaca, demikian penuturan Sapardi Djoko Damono dalam pengantar kumpulan puisinya, Hujan Bulan Juni.

Sebab, lanjutnya, seorang penyair belajar dari banyak pihak maupun hal-ihwal kehidupan: keluarga, penyair lain, kritikus,pembaca, teman-teman, masyarakat luas, media massa,dsb. Hal itu pulalah yang menyebabkan bahwa dirinya tak hidup sendirian bersama puisinya.Tak cuma penyair dan puisi, tetapi juga pada tatanan hidup masyarakat.

Bisa saja, puisi merupakan petikan dari dunia yang lebih luas,dan mungkin juga ia tersembunyi bersama lembaran kertas-kertas berjilid yang menumpuk. Namun, getar kata nampaknya selalu ada dan berpijar. Ia seperti kekal,mengabadikan potret hidup manusia yang mungkin gemar dengan kekacauan ini.

Pembelajaran yang ditempuh oleh penyair bermacam-macam, ada yang mengangkat hal-hal sederhana dari kehidupan yang acap kali luput dari pikiran “orang kebanyakan”. Dalam hal itu, dengan bahasa sederhananya merujuk Sutardji Calzoum Bachri, penyair ialah seseorang yang menemukan bahasa, terus-terusan mencari, dan merupakan kerja yang serius.

Maka, “sesuatu yang kelak retak akan dibuat abadi”. Tengoklah bagaimana puisi bermainmain di tengah jerat makna, semacam halnya Joko Pinurbo, “Kepada Puisi”: Engkau mata/Aku air mata.Atau dalam “Pelajaran Menulis Puisi”. Penyair, sebagai penemu bahasa itu sendiri,senantiasa mengucapkan sesuatu dengan “terbata” menemukan pelbagai sketsa, tanda, ruang waktu.

Mencampur aduk realita dan imajinasi,memainkan bunyi, repetisi, dan sebuah jeda sunyi. Hal-hal yang membuat dada tersirep saat membaca sebuah puisi yang bagus, yang menenggelamkan dalam pusara tanpa ujung, di mana sebuah makna kehidupan dapat dipetik dengan luas lagi. Meskipun kita mengeluhkan beberapa kegagalan dalam membaca,semacam riuhnya teks yang berpola sehingga tak masuk ke kepala.

Keanehan pemakaian diksi yang acap kali menemui pintu kemubaziran. Tapi penyair terus berupaya menjebak kata, memain-mainkannya dalam sebuah perangkap, memerasnya, kemudian menuliskan. Sesekali menemukan kegagalan dalam menulis puisi, inspirasi yang buntu,ide yang cenderung dipaksakan, tanda titik yang bertindak “gila-gilaan”,dan melulu ingin berhenti.

Atau koma yang selalu berlanjut, senantiasa berbuntut terhadap sejarah katakanlah. Kerja kepenyairan memang menguras waktu banyak. Sebagai pengamat dari kehidupan yang luas ini,sesungguhnya penyair sadar bila ia menulis hanya untuk hal-hal yang kecil.Hanya pilahanpilahan peristiwa, fragmen yang setengah, cuplikan realita yang tak akan pernah digarap dengan sempurna. Dunia penyair selalu dipenuhi dengan perenungan-perenungan.

Semacam filsuf yang berkutat dengan medan kata-kata. Seluruh rasa, jiwa, karsa berkutat di sana. Pekerjaannya serius karena habis-habisan mencurahkan energi sekaligus kemampuan. Meski akhirnya Sutardji mengakui secara logis: Walau penyair besar/ Alifbataku tak sebatas Allah.(Puisi “Walau”).Selalu ada denyut kerinduan untuk pulang kembali ke hadapan sosok pencipta. Sebab, ilmu Allah demikian luas sehingga tak bisa ditandingi dengan ilmu manusia.

Lewat puisi, seorang penyair berkabar dengan karyanya.Terutama mengingat dirinya tak hidup sendirian.Meskipun dalam puisinya terkesan: Mampus kau ditikam sepi! (Chairil Anwar). Sebuah puisi adalah kelindan antara jarak yang membentangkan realita itu sendiri, di mana selisik sepi sesungguhnya bermain di sana. Setiap getaran yang riuh dalam kata-kata,sesungguhnya kembali juga pada asal mula kata: sunyi itu bermula. Sunyi yang melontar kau ke pusara waktu, (Iswadi Pratama).

Lalu adakah harapan yang tebersit dari kerja semacam ini? Apakah semuanya, Memang layak dicatat, dan mendapatkan tempat?(Chairil Anwar) Sementara, kehidupan terus berputar. Kita dihadapi dengan pelbagai kisah tragedi kemanusiaan, kekejaman, kebahagiaan, kaya, miskin, penindasan, penghilangan nyawa seseorang, seks yang tak lagi tabu dibicarakan di luar kamar tidur, dsb.

Dan para penyair pun terjerngah, berupaya membangun bahasa ibunya sendiri (Joko Pinurbo), menemukan bahasa selain yang ditemukan dalam berbagai surat kabar, catatan-catatan kerja,karya ilmiah,dll. Penyair bergelut dalam ruangnya yang dipenuhi dengan kesakitan yang menyergap.

Di mana kata-kata menjadi slogan dan omong kosong. Ia merasa kata-kata telah lama dikhianati, dan penyair berusaha untuk mengobati,menidurkan, dan menyembuhkannya. Bukan sebagai dokter, tetapi ia memakai kata-kata dengan tenaga yang lain. Barangkali, yang tak pernah tersirat dalam pikiran orang lain. Sebagai perlawanan untuk membendung realitas yang lebih kejam dari dunia.

Di jagat dunia kita temui berbagai puisi perlawanan yang ditulis Pablo Nerudda, Pushkin, atau ingatan kita melayang saat tahun-tahun kacau di Tanah Air di bawah tekanan rezim pemerintahan yang paranoid terhadap sastra, kita punya: W. S.Rendra,Wiji Thukul,Taufiq Ismail,Agus R Sarjono,dan Emha Ainun Nadjib.Pemberontakan yang dilakukan angkatan 70’-an; Sutardji dengan “Ngiau”-nya yang berusaha membebaskan beban makna terhadap kata.

Ah, betapa puisi merupakan pusat dari segala air mata. Menempuh kelokannya sendiri, penyair yang tak habishabis berusaha menemukan “tenaga baru”dari sebuah kata dan makna.Puisi yang berkelebat antara bayangan maut kata-kata yang menyergap. Nampaknya berupaya untuk menata, atau merakit kembali sakit yang lama hinggap dalam kata.

Puisi berusaha menyibak segala kegetiran yang tak kunjung sembuh dalam kehidupan manusia.Barangkali,dengan memberikan sejumlah jalan lain, mungkin terkesan agak sinting, urakan, dan sakit-sakitan. Maka Sapardi pun berkeluh: Demikianlah maka burung-burung tak betah lagi tinggal dalam sarang di sela-sela kalimat-kalimatku sebab sudah begitu rapat sehingga tak ada lagi tersisa ruang. Tinggal beberapa orang pemburu yang terpisah dari anjing mereka menyusur jejak darah, membalikkan dan menggeser setiap huruf kata-kataku, mencari binatang korban yang terluka pembuluh darahnya itu. (“Sajak,2-Hujan Bulan Juni”). Begitu banyak pemburu kata, yang menggunakan kata sesuka hatinya.

Demi kampanye, propaganda, iklan, sehingga tak begitu banyak ruang yang tersisa bagi penyair.Tinggal sebatas lelah yang mencabik, sebuah kerja yang membutuhkan ketelitian dan ketekunan dirinya untuk masuk penuh dalam puisi. Puisi yang membangkitkan seluruh aura kata-katanya yang membius. Meskipun Iswadi melanjutkan: aku teringat Nietzche di tengah swalayan tapi yang kubutuhkan cuma seikat sayuran bukan Zarathustra dongeng tentang para pengembara atau hamparan puisi para penyair…

Ya, pada akhirnya puisi terbentur menghadapi realitas itu sendiri.Yang memang sungguh kejam.Ketika di swalayan seseorang hanya membutuhkan seikat sayuran bukan buku-buku yang menenggelamkan dalam pusaran,kemudian mengajaknya tamasya ke negeri ilusi para penyair.

Atau Joko yang bermain dengan diksi-diksinya: Matakata menyala melihat tetes darah di matapena (“Matakata”-Kekasihku) Pun dalam paragraf terakhir puisi “Malam Pertama”: Apakah kata-kata mempunyai ibu? Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa kata ibu. Aku sering lupa dulu ibu suka berkata apa. Aku gemetar.Tubuhmu makin cerdas dan berbahaya. Ibukata,temanilah aku. (2003)

* Alex R Nainggolan, Penikmat Sastra, Tinggal di Jakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2007/07/esai-tentang-penyair.html