Geliat Sastra Kaltim

Korrie Layun Rampan
http://www.kaltimpost.co.id/

DIALOG Borneo-Kalimantan telah berlalu pada 15 Juli 2011 lalu. Untuk tidak membuat publik sastra di Kaltim terlena di luar dunia kreativitas, maka penggiat sastra di daerah ini berusaha mengingatkan kembali akan pentingnya menjaga kesinambungan. Untuk itu telah dibentuk panitia seminar sastra yang digelar Oktober 2011, sehubungan dengan event Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda.

Seminar ini merupakan salah satu kegiatan sastra untuk meninggalkan tahun 2011 dan memasuki tahun 2012. Isinya, ada Pertemuan Sastrawan Indonesia, lomba penulisan novel tentang daerah perbatasan Indonesia dan penerbitan Majalah Sastra Indonesia.

Untuk mengisi acara seminar sastra telah dicari pakar-pakar sastra yang mumpuni dalam bidang penulisan kreatif. Diharapkan seminar sehari itu akan membuka wawasan baru di dunia kreativitas dalam upaya menyuburkan dunia penciptaan para sastrawan di daerah ini. Di samping itu, sebagai fondasi seminar, telah disiapkan dua buku penting dalam perjalanan sastra di Kalimantan Timur, yaitu penerbitan buku Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia dan Kalimantan Timur dalam Fragmen Novel Indonesia.

Antologi cerpen Kalimantan Timur dalam Cerpen Indonesia, di samping menampilkan cerpenis-cerpenis kondang di Kalimantan Timur seperti Syafruddin Pernyata, Habolhasan Asyari, Nanang Rijono, Kony Fahran, Abdul Rahim Hasibuan, Shantined, Novieta Christina, Maya Wulan, Sunaryo Broto, Herman A Salam, Waliyunu Heriman, Sukardhi Wahyudi, Sari Azis, Flora Inglin Harry Moerdani, Tri Wahyuni Rahmat, Muthi’ Masfu’ah, Herry Trunajaya BS, dan lain-lain. Juga diisi para cerpenis muda berbakat, di antaranya Gita Lidya, Antung Firmandana, Ambar Sulistyowati, Elisaputra Lawa, Thresia Hosanna Sumual, Erni Mogran, Inni Indrapuri, Novi Yuniarti, Rama Dira, Noviyanti Mawardiyani, dan lain-lain yang jumlahnya mencapai 40 cerpenis.

Antologi ini jika dilihat dari tema-tema yang disampaikan oleh para cerpenis meliputi berbagai tematik yang menarik. Pertama, tema cinta yang ditulis tidak hanya oleh cerpenis muda, tetapi juga oleh cerpenis ternama seperti Abdul Rahim Hasibuan yang menulis cerpen dengan judul Magister Cinta. Ia diikuti oleh cerpenis pendatang baru Elisaputra Lawa dengan cerpen yang sangat romantis, berikut beberapa cerpenis lainnya yang menulis kisah cinta dengan sangat bagus seperti Misri AN dan lain-lain.

Kedua, tema sosial-kemasyarakatan. Tema ini ditulis oleh Herman A Salam, dengan cerpen Andang, dan Habolhasan Asyari dengan cerpen Pelaminan Tanpa Pengantin, dan diikuti oleh Tri Wahyuni Rahmat dan lain-lain cerpenis muda yang menulis dengan tekanan keindahan yang terjaga. Mereka bercerita dengan cara yang indah, bahkan kadang melankolis, dan nelangsa. Cerpen Nanang Rijono, Naga Pamungkas, Mukhransyah, Halimah Taslima, dan Inni Indrapuri memperlihatkan persoalan sosial-kemasyarakatan ini ditulis dengan serius sehingga memberi rasa sugesti yang perih!

Ketiga, tema absurditas ditulis oleh Agni Kasmaranwati, Rama Dira, dan Sukardhi Wahyudi dengan serius. Cerpen-cerpen jenis ini memberi permaknaan tersendiri, di tengah cerpen-cerpen realis. Pesan yang dibawakan cerpen-cerpen jenis ini membawa renungan panjang tentang manusia dan eksistensi mereka di muka bumi ini.

Keempat, tema otobiografis. Cerpen jenis ini cukup banyak muncul dalam antologi ini, di antaranya ditulis Sari Azis, Thresia Hosanna Sumual, Novi Yuniarti, dan lain-lain. Oleh karena sifat subjektif dari paparan kisah, cerpen-cerpen jenis ini memberi kesan mendalam yang kadang menguras air mata. Apalagi kebanyakan kisah ditulis dalam bahasa yang puitis dan romantis, dengan kisah yang berliku-liku, sehingga memberi rasa sedih dan derita yang melaratkan angan.

Kelima, tema legenda dan historiografi. Tema ini ditulis dengan stilis oleh Erni Morgan (Erni Suparti) dan Herry Trunajaya BS dalam materi dan cara ungkap yang berbeda. Namun cerpen-cerpen mereka ini sangat mengesankan, karena mereka mampu mengangkat sesuatu dari masa silam dengan cara yang indah dan mengejutkan.

Antologi cerpen ini sangat kaya dengan kisah-kisah unik dan pikiran-pikiran baru. Namun tulisan ini bukanlah dimaksudkan sebagai kritik sastra atau apresiasi sastra, sehingga tidak akan mengulas cerpen-cerpen itu secara mendalam. Rasanya lebih baik pembaca membacanya langsung. Kedua buku tersebut akan diluncurkan pada acara seminar bulan Oktober 2011.

Sementara antologi Kalimantan Timur dalam Fragmen Novel Indonesia berisi karya para novelis di daerah ini. Semua novelis Kalimantan Timur disertakan fragmen novel mereka dalam buku tersebut. Di antara novelis itu ialah Djumri Obeng, Johansyah Balham, Abdul Rahim Hasibuan, Herman A Salam, Syafril Teha Noer, Inni Indrapuri, Sari Azis, Erna Wati Aziz, Dt. Iskandar Zulkarnaen, Zulhamdani AS, Siti Jumariyah, yang memang dikenal luas di daerah ini.

Dengan dua buku antologi sebagai fondasi seminar sastra itu, diharapkan seminar yang digelar Oktober tersebut akan lebih hangat dengan pemikiran-pemikiran kreatif yang inovatif guna menunjang kepengarangan dan apresian sastra di daerah ini lebih kondusif, produktif, serta berkualitas. Selanjutnya telah dirancang dalam waktu-waktu berikutnya akan dilaksanakan satu diskusi dan seminar sastra dengan diluncurkannya dua antologi lagi yaitu, Labirin Mahakam dan Dua Cincin Deswita yang kini dua naskah buku itu sudah rampung disiapkan, tinggal naik cetak. (far)

01 Oktober 2011
http://www.kaltimpost.co.id/index.php?mib=berita.detail&id=113454