Khazanah Sastra 2010

Ahda Imran
Pikiran Rakyat, 26 Des 2010

SEPANJANG 2010, halaman sastra suplemen budaya Khazanah Pikiran Rakyat telah memuat 24 cerpen serta 70-an sajak karya para cerpenis dan penyair. Dengan hanya muncul dua kali dalam sebulan (dua mingguan), secara kuantitas, jumlah ini tentu hanya separuh dari jumlah cerpen dan puisi yang terdapat di halaman sastra di berbagai koran lain yang terbit setiap hari Minggu. Akan tetapi, lepas dari perbandingan semacam itu, jumlah itu bisalah menjadi semacam bayangan untuk menatap beberapa gejala yang terjadi dalam konteks kekaryaan. Mulai dari kuantitas naskah-naskah yang masuk, kecenderungan tematik, pencapaian estetis sejumlah penulis yang telah dikenal, hingga kemunculan para penulis muda (usia).

Pada yang terakhir ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir tujuh puluh persen penulis yang karyanya dimuat merupakan penulis muda (usia). Mereka umumnya kelahiran 1980-an yang sebagian karyanya baru muncul dalam khazanah sastra Indonesia, bahkan beberapa di antaranya merupakan pendatang baru. Sisanya adalah para penulis “senior” yang nama dan karyanya telah dikenal, mulai dari Afrizal Malna, Acep Zamzam Noor, Acep Iwan Saidi, Beni Setia, Soni Farid Maulana, Bambang Q-Anees, Dorothea Rosa Herlyani, Aslan Abidin, atau M. Aan Mansyur.

Meski perkembangan teknologi informasi hari ini telah meniadakan batasan-batasan geografis pembaca media, Khazanah tetap berupaya menjaga fokus prioritas pada komunitas atau publik sastra di Bandung atau di Jawa Barat. Seraya itu pula, perkembangan teknologi informasi juga tetap meniscayakan hal yang lain, yakni, keperluan untuk memperluas jaringan publik sastra di seluruh kota di Indonesia. Perluasan jaringan publik ini juga merupakan upaya untuk memosisikan Khazanah sebagai salah satu media dalam orbit perkembangan sastra Indonesia, meski hanya terbit dua kali seminggu.

Oleh karena itulah, di tengah mayoritas para penulis Bandung (Jabar), sesekali dijumpai juga cerpen dan puisi karya para penulis dari Aceh, Medan, Padang, Lampung, Jakarta, Bekasi, Bogor, Serang, Magelang, Yogyakarta, Madura, Bali, Kendari, atau Makassar. Jika melakukan penghitungan secara kasar, dalam sepekan redaksi Khazanah rata-rata menerima dua sampai lima surat elektronik berisi pengiriman karya puisi dan cerpen. Untuk puisi, umumnya dalam satu pengiriman terdapat sepuluh karya. Dengan jadwal terbit dua mingguan, antrean karya yang telah diseleksi tentu saja menjadi lebih panjang.

Sepanjang 2010, dari berbagai karya yang masuk, bisa dikatakan tak ada karya yang bisa dianggap “penting” jika diukur dari kehendak menemukan bentuk pengucapan, gaya, atau eksplorasi bahasa yang menawarkan hal-hal yang “mengejutkan”. Ini adalah tahun yang biasa-biasa saja, bahkan tak jarang begitu sulitnya menemukan cerpen atau puisi yang menggoda untuk secepatnya dimuat. Oleh karena itulah, kerap harus ditempuh strategi jemput bola dengan mengunjungi jejaring sosial Facebook. Mengintipi karya para penulis muda, dan mengundangnya untuk mengirimkan karyanya ke Khazanah. Silakan menyebutnya sebagai cara yang tak lazim, tetapi ini harus dilakukan demi juga melakukan pembacaan yang lebih luas atas kemungkinan potensi-potensi yang ada di luar media mainstream ketimbang hanya menunggu dan menggerutu.

**

MESKI disebut sebagai tahun yang biasa-biasa saja, 2010 menghadirkan perkembangan yang lumayan menarik dalam konteks kemunculan sejumlah nama yang bisa dikatakan sebagai generasi baru dalam perkembangan sastra di Jawa Barat. Sebutlah, Toni Lesmana (Ciamis), Bode Riswandi (Tasikmalaya), atau juga apa yang sebenarnya diam-diam dijanjikan oleh Abdulrahman Mohammad (Cirebon). Meski belum sepenuhnya bisa lepas dari jejak pendahulunya, karya-karya mereka memperlihatkan bentuk pergulatan yang menarik dalam mengeksplorasi bentuk dan tema, tanpa dibebani keinginan untuk menyebal dari konvensi bahasa liris. Paling tidak, karya-karya mereka terasa ditulis dari semacam kegelisahan mencari dan mengeksplorasi bahasa seraya menjaga gagasan tematiknya.

Dari generasi yang sama, kegairahan ini sebenarnya juga terjadi pada para penulis di Bandung. Sebutlah, Yopi Setia Umbara, Faisal Syahreza, atau Heri Maja Kelana. Hanya, pada beberapa nama, sepanjang 2010 tampaknya produktivitas menjadi beban yang membuat karya mereka terkesan tak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya. Dari sejumlah karya yang mereka kirimkan, terutama puisi, amat terasa bagaimana nada dasar pengucapan mereka nyaris sama. Meski sebagai penyair mereka telah selesai dengan urusan-urusan teknis, kerap bentuk pengucapan dan pendalaman tematik yang ditawarkan belum menjanjikan semacam totalitas kegelisahan. Di luar itu sebenarnya mereka menyimpan potensi yang menarik seandainya produktivitas itu dan keseragaman itu mau diwaspadai.

Di luar itu, terdapat juga semacam harapan yang dijanjikan oleh kemunculan sejumlah nama baru. Meski mereka masih berurusan dengan persoalan-persoalan teknis, karya mereka mereka menghadirkan semacam greget yang tak lazim. Paling tidak, karya-karya itu menawarkan semacam kesegaran dan antusiasme yang berbeda dalam mengeksplorasi bahasa dan tema. Imaji dan temuan metafora mereka bahkan sering kali tak terduga, luput dari sekadar melakukan reproduksi metafora. Sebutlah, karya-karya Pradewi Tri Chatami, Dyen Wijayatiningrum, Evi Seviani, Ellie R. Noer, Sinta Ridwan, Arry Syakir Gifari, atau Theoresia Rumte.

Tentu akan jadi berlebihan jika kemudian mereka disebut sebagai lapisan generasi terbaru dalam kepenyairan di Bandung, apalagi jika hanya merujuk pada beberapa karya mereka yang dimuat di Khazanah pada 2010. Akan tetapi, sepanjang mereka tetap memiliki intensitas dan kesetiaan pada proses, tampaknya tak berlebihan jika orang menaruh harapan pada karya-karya mereka pada tahun mendatang. Beberapa karya mereka cukup menjadi alasan untuk menaruh harapan semacam itu.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, umumnya naskah cerpen banyak datang dari para penulis di luar Jawa Barat. Terutama Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Ini seolah makin menegaskan asumsi bahwa perkembangan karya sastra di Jabar lebih didominasi oleh puisi ketimbang prosa. Paling tidak anggapan itu merujuk pada karya-karya yang muncul di media massa.Di antara yang sedikit itulah, Langgeng Anggradinata dan Faisal Syahreza bisa diharap melapis generasi Fina Sato yang sebuah cerpennya juga muncul di Khazanah tahun ini. Demikian pula dengan Agustina Kusuma Dewi yang kembali menulis cerpen setelah cukup lama karyanya tak terdengar.

Meski lebih memprioritaskan penulis (muda) Jabar, terutama pada puisi, dalam beberapa hal secara sengaja juga memberi tempat pada para penyair di luar Jabar dengan strategi pemuatan yang berbarengan. Penyandingan ini diniatkan semata-mata sebagai bahan perbandingan, demikian pula dengan pemuatan tunggal karya para penyair “senior”. Lebih dari sekadar itu, sekali lagi, itu mesti dilakukan demi memosisikan Khazanah sebagai media dalam orbit perkembangan sastra Indonesia. Di lain pihak, Khazanah juga memberi ruang pada karya-karya berbahasa daerah (Sunda), puisi, dan carpon (carita pondok). Ada keinginan agar ruang bagi karya berbahasa Sunda muncul secara tetap sebulan sekali, tetapi dengan durasi penerbitan dua minggu sekali, keinginan itu diupayakan menjadi dua bulan sekali. Begitu idealnya, tetapi ternyata ruang untuk karya berbahasa Sunda menjadi sangat bergantung pada ada tidaknya naskah yang berbahasa Sunda yang dikirimkan ke redaksi.

**

SEBAGAI tahun yang biasa-biasa saja, secara umum cerpen dan puisi yang diterima redaksi tak banyak beranjak dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam cerpen, misalnya, cerpen-cerpen suasana dengan terasa masih banyak mendominasi. Demikian pula yang mencoba mengangkat warna lokal, penokohan yang stereotip, atau yang mencoba masuk ke tema-tema sosial. Banyak cerpen yang dikirim dengan ide cerita yang menarik. Hanya, sering kali sejak paragraf awal eksplorasi bahasa gagal mengantarkan roh cerita. Demikian pula dalam puisi. Dari karya-karya yang diterima, sangat sulit untuk menyebutkan bahwa terdapat sejumlah gejala menarik dalam penjelajahan estetika para penyair. Pada banyak karya para penyair muda (usia), selain munculnya keseragaman pengucapan, juga begitu banyaknya puisi personal yang hanya menjadi dokumentasi pribadi ketimbang menawarkan pengalaman bersama.

Di luar karya-karya yang muncul di Khazanah sepanjang tahun ini, perkembangan sastra Indonesia di Jabar terus menghadirkan berbagai kegairahan. Komunitas-komunitas sastra terus dengan keras kepala mengadakan berbagai aktivitas, mulai dari launching buku, penerbitan antologi bersama, baca puisi dan cerpen, diskusi atau pengajian sastra (meminjam bahasa Majelis Sastra Bandung). Seluruhnya menjadi penting dan menarik sebagai ruang proses bersama, sepanjang itu tidak melulu menjadi keramaian seperti halnya event sastra “nasional” yang terjadi pada 2010 ini.

Kesibukan untuk terus berproses dengan begitu menjadi jauh lebih penting ketimbang kesibukan untuk diundang ke dalam berbagai event sastra dengan biaya sendiri sehingga lebih mirip mengundang jailangkung. Apalagi kemudian event sastra berkelas “nasional” itu ternyata tak pernah memunculkan isu dan diskursus apa pun seperti yang terakhir ini, selain hanya menjadi kehebohan yang tak jelas juntrungannya.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2010/12/khazanah-sastra-2010.html