Puisi-Puisi Mahmud Jauhari Ali

Bulan di Padang Lalang *

telah berdiri ribuan lalang pada tanah
oleh angin, tubuh mereka terhuyung-huyung
sebagiannya mati. mengering!
sedangkan di tengahnya, sebuah rumah berdiri kukuh
tiangnya beton,
atap bajanya antikarat, menahan hujan-panas,
lantainya yang wah, terlihat mengkilat
juga pagarnya, begitu mahal

lalu pada temaram, bulan datang
berdiri tepat di atas padang lalang yang gersang
wajahnya cerah, tanpa jerawat, tanpa segores luka apa pun
di tangannya ada segenggam air
tidak asam, tidak pula hambar
bening! seperti kaca sehabis dibersihkan hujan

dijatuhkannya pelan, lembut seperti gerimis halus
terus, terus membasahi debu-debu
menipiskan kabut di udara
juga menghijaukan lalang
yang masih berdiri setia di bawah atap cinta

bulan,
masih berwajah cerah
bertangan basah,
dengan sorot mata yang tajam ke padang lalang

Tanah Borneo, 2009
*) diambil dari buku Bulan di Padang Lalang

Sepasang Sayap

pada helai-helai putih panjang, sepasang sayap mengatup, enggan berkepak
sedangkan angin kering, menyemburkan kersik-kersik pada leher, sesak
daun-daun pun luruh, berserakan,
seperti bunga dari pohon-pohon perawan taman

berbait-bait seruling keluar dari kaki-kaki bukit
suaranya menjurus lurus, meluncur naik
semuanya hendak menyentuh sepasang sayap kekar itu
tapi semuanya berhamburan,
jatuh menindihi nanah kental,
juga hangat di antara bau asap, pekat kabut, yang menyekap, pengap

o…, senja bertengger
beribu batang usia masih tertatih,
dengan perut cekung bersama sorot mata nanar
sementara suara-suara suling masih melesat-lesat
menjurus ke puncak bukit
tapi sepasang sayap itu, masih mengatup, enggan berkepak
seperti kosong, pada angin yang mencengkram setiap musim

Tanah Borneo, 12 September 2011

Kehangatan di Sebuah Senja

aku tak pernah mendengar sepatah suaranya
dan menatap sepotong wajahnya di sebuah senja
sebab, kami tak pernah bercakap walau sedetak masa
apalagi bertemu di antara udara hangat sebelumnya
tapi, tiba-tiba sebuah jejak membekas
seperti sebuah gambar tangan di tebing-tebing bukit
yang melambai, memanggil dengan suara ritmis

“ada hal pentingkah?”
“ataukah dia sedang di tanah ini menuju gerbang suci?”
tanyaku pelan di antara udara berbau asap ladang
lalu kuamati kata-kata, warna jingga, juga gambar-gambar, oh!

kebekuan pun menjelma dentuman
kami terlibat dengan pesan-pesan
yang bagai potongan-potongan citrullus lanatus
sedang matahari terus beringsut menuju ufuk barat
dan, pada ambang senja,
kami duduk di depan piring beling, sendok perak, kecap, gelas kaca
juga soto banjar bersama nasi kuning dan ikan gabus bumbu merah

percakapan kami terus muncrat
hingga tawa membelah wacana
lalu kami berjabat erat menandai perpisahan
dan sebelum aku meninggalkannya, senyumnya rekah di bawah atap megah

Tanah Borneo, 25 Agustus 2011

Di Antara Angin Sendalu

di bawah lengkung pelangi
saat sisa hujan ritmis seperti bola kristal yang berkilau
aku mengejar sekawanan belalang cantik
mereka berloncatan dari daun ke daun
searah embusan angin sendalu dari timur
lalu kudengar suara ibu dari depan pintu seng yang karatan
“Tak usah kaukejar, Nak. Biarkanlah mereka hidup dengan cinta di sana.”
suara ibuku itu lirih. ya, lirih. tapi gemanya membenamkan kenakalanku
aku pun membisu beku
dan, tiba-tiba kenangan itu lesap
sebuah tabung gas meledak
kepulan asap hitam melayang ke udara
suara isak tangis, teriakan, berdentang-dentang
tersisalah rumah-rumah hangus, dan jasad-jasad tanpa roh lagi

kini tak ada pelangi atau pun suara ibuku
yang tampak ialah sekawanan singa di senja ungu
mereka berlari seperti gulungan ombak
menerjangi pepohonan, rumah-rumah, gunung-gunung
juga menghantam tubuh-tubuh kecil
lalu memakan daging-dagingnya hingga air mata berserakan
seperti keringat yang kian menderas
membasahi pertiwi yang ranggas

o, di antara angin sendalu pula, aku teringat kembali wajah ibuku
wajah yang tak pernah mengajarkan kekerasan sekali pun
dan, wajah itu pula yang mengajarkanku tentang kelembutan
walau ombak senja menggulung dan menghantam seluruh tubuh dunia

Tanah Borneo, 14 Mei 2011