Senandung Salawat di Tengah Banjir

Ahmad Zaini*

Cahaya matahari di senja itu mulai berubah menjadi merah jingga. Kian lama kian redup. Lantas tak tampak lagi cahaya bundar memerah di ujung cemara di sebelah barat rumah. Gumpalan mega yang sejak sore bergantung di atas langit meredup dan dalam sekejap berubah menjadi gelap. Di atas langit kini tampak gemerlap bintang yang sejak tiga hari lalu tak muncul menghias indah malam lantaran cuaca hujan.

Sayup terdengar suara bunyi kentongan dari langgar yang menandakan waktu menjalankan shalat maghrib telah tiba. Suaranya riuh rendah terombang-ambing tiupan angin ke segala penjuru arah. Satu per satu para tetanggaku berjalan melewati jalan yang sudah mulai kering. Ya, sejak tiga hari lalu saat adzan maghrib dikumandangkan tak terlihat para tetangga yang berjalan menuju ke tempat beribadah itu lantaran jalannya licin dan becek. Maklum saja karena saat ini adalah musim penghujan.

“Subhanallah, malam ini kan ada acara mauludan di langgar! Hampir saja aku lupa.” Aku mencari istriku yang sejak tadi masih di ruang belakang.

“Bu, mari kita berangkat ke langgar! Malam hari ini ada acara mauludan di langgar.”

“Iya, saya sudah tahu Mas! Ini saya sudah menyiapkan jajan untuk hindangan dalam acara nanti.” Istriku menunjukkan kepadaku bungkusan tas kresek berwarna hitam yang aku sendiri tak tahu apa isinya.

“Alhamdulillah, kalau kamu sudah siap!”

Kami berdua berangkat ke langgar bersama-sama dengan para tetangga. mereka berduyun-duyun datang ke langgar. Di tangan mereka hampir semuanya membawa tas kresek yang isinya penuh dengan makanan. Ada yang berupa pisang, ada pula yang membawa makanan ringan lainnya. Pak Mustain sebagai ketua panitia sudah berdiri di depan pintu gerbang langgar menyambut kedatangan kami. Beliau mempersilakan kami dan para jamaah untuk masuk ke dalam langgar dan menyampaikan barang bawaannya ke bagian konsumsi.

“Taruh di sini, Pak Ahmad!” suruhnya. Kemudian tas yang kubawa dari rumah kuletakkan di situ.

“Ayo, langsung masuk saja, Pak!” Pak Mustain berdiri mengatur posisi duduk para jamaah agar langgar yang kecil itu mampu menampung orang banyak.

Ada sekitar lima puluh orang yang datang di langgar itu. Mereka duduk berbaris menghadap ke kiblat. Dibarisan depan dipenuhi para jamaah yang usianya sudah tua. Sementara yang muda-muda lebih banyak menempati barisan belakang. Bahkan dari mereka ada yang duduk di teras langgar.

“Mas, ayo, masuk saja! Di dalam masih ada tempat kosong,” seru Pak Mustain.

“Wah, di sini saja pak. Sambil mencari angin biar tidak mengantuk.” Jawab dari salah satu pemuda yang duduk di teras. Memang ada saja alasan mereka tak mau masuk ke dalam langgar.

“Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan Saudara sekalian! Pada malam hari ini kita akan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.,” kata Pak Mustain. Perhatian kami diarahkan kepada Pak Mustain yang berdiri di bagian depan. Kami mengikuti dan mendengarkan acara itu dengan khidmat dan khusuk.

Satu jam telah berjalan. Acara mauludan belum sampai kepada acara inti yaitu pembacaan shalawat nabi. Anak-anak yang kami bawa sudah lunglai di pangkuan. Sebagian dari kami juga ada yang tak kuasa menahan rasa kantuk yang menghinggapi kami. Bahkan Salah satu dari kami ada yang menguak disertai suara keras hingga membangunkan anak-anak yang terlelap di pangkuan orang tuanya.

Perlahan Pak Mustain menghimbau kepada kami dengan suara berwibawa agar mengikuti pembacaan shalawat nabi yang dibacakannya. Sesaat kemudian lantunan shalawat bergema di dalam langgar yang kecil di tepi jalan itu diikuti oleh suara para jamaah yang menirukan pembacaan Pak Mustain. Kami bersemangat melantunkan pujian-pijian kepada Nabi Agung Muhammad SAW.
***

Di luar langgar terdengar gemuruh suara air dari tanggul desa. Deburan deras air semakin mendekati kampungku. Para penduduk yang sedang bersantai di dalam rumah, seketika panik menyelamatkan barang-barang berharga miliknya. Mereka kemudian membawa anggota keluarganya mencari tempat aman ke dataran yang lebih tinggi daripada rumahnya. Air bengawan solo yang menjebol tanggul desa mereka memporakporandakan semua yang dilewatinya. Air itu, kini benar-benar menenggelamkan desa tersebut yang kesekian kalinya. Rumah-rumah di sekitar langgar, tempat kami bershalawat memperingati hari kelahiran nabi, roboh terseret derasnya air bengawan solo. Tinggal bangunan kecil itu yang masih tampak kokoh berdiri di tengah terjangan air bengawan solo.

Para penduduk yang melihat kejadian aneh itu ternganga keheranan. Matanya terbelalak dan menganggap bahwa telah terjadi peristiwa luar biasa. Saat air bengawan solo menerjang dan menyeret rumah-rumah penduduk, langgar yang di dalamnya penuh sesak para jamaah yang sedang bershalawat tak tersentuh air walau hanya setitik.

“Subhanallah! Subhanallah! Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

Kami dan para jamaah masih khidmat bershalawat seakan di luar langgar tidak terjadi apa-apa. Kami bersemangat melantunkan pujian-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Dengan diiringi suara hadrah yang rancak. Bibir mereka mengucapkan shalawat hingga meneteskan air mata.
“Ya nabi salam alaika, ya rasul salam alaika. Ya habib salam alaika, shalawatullah alaika!”

Penglihatanku terhalang oleh lembab air mata. Diri tak mampu memandang kilau cahaya lampu yang tergantung di atap langgar. Cahanya terasa kalah oleh cahaya yang muncul dari lantunan shalawat. Diri terasa nista saat disebut-sebut keistimewaan Nabi Muhammad. Beliau manusia sempurna yang tiada tersentuh oleh dosa. Pengakuan beliau atas diri ini menjadi umatnya merupakan kebanggaan semua insan yang hidup di dunia. Diri yang hina tak mampu mengandalkan amal baik kita yang masih sedikit bila dibandingkan dengan amal kejelekan kita.

Petuah-petuah beliau melalui hadis-hadisnya selalu terabaikan. Diri sudah diperbudak kilau dunia yang menyesatkan manusia. Diri sudah diperbudaknya sehingga melupakan sunnah-sunnah yang beliau sampaikan.

“Allahumma shalli ala Muhammad!”

Lengkingan teriakan itu menyadarkankan diriku dari banjir tangis yang kualami sejak berdiri tadi. Mataku menyapu ke seluruh sudut langgar yang penuh sesah oleh tetes air mata. Harapan atas Syafaatnyalah yang kemudian menyeret keinginan agar besok di akhirat terselamatkan dari ancaman api neraka.

Suara pembacaan shalawat dari dalam langgar semakin merendah kemudian sepi tak terdengar apa-apa lagi dari dalam langgar. Mata kami dan para jamaah yang lembab air mata dengan serta-merta kamiusap dengan surban yang terlilit di leher. Kemudian Pak Mustain memimpin berdoa untuk mengakhiri acara.

Betapa kagetnya ketika kami keluar dari dalam langgar. Kami melihat rumah-rumah di sekeliling langgar hilang tak berbekas. Sekarang yang tampak hanyalah pemandangan bak lautan di perkampungan.
“Apa yang telah terjadi?”

Para jamaah saling memandang ingin bertanya kepada yang lainnya. Namun mereka tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Usai kami sadar bahwa telah terjadi bencana banjir besar kami kemudian bersujud di atas sajadah kebesaran dan kekuasaan Allah yang telah menyelamatkan kami dari amukan banjir.

“Allahu Akbar! Subhanallah!” ungkapan takjub atas kejadian yang baru kami alami. Dasyatnya air bengawan solo yang menerjang perkampungan dan merobohkan serta menghanyutkan bangunan rumah, langgar kecil ini terhindar dari bahaya banjir.

“Ya, Allah terima kasih atas kemurahanMu yang telah menyelamatkan kami dari ancaman banjir,” Pak Mustain mengangkat tangan bersyukur kepada Allah lalu kamiikuti juga diikuti para jamaah yang lainnya.

Kemudian kami dan para jamaah berputar mengelilingi desa kami yang terendam banjir dengan untaian shalawat nabi. Sedikit demi sedikit warga kampung mengikuti kami menyenandungkan shalawat nabi melintasi genangan air yang mencapai dada orang dewasa. Setapak demi setapak kami melangkah dengan memohon kepada Allah agar diampuni segala dosa yang telah kami perbuat dan dihindarkan kami dari malapetaka ini.

Kilat menyambar di angkasa dengan gelegar irama menakutkan kemudian mengundang mendung memayungi kampung perlahan berhenti. Air menyurut hingga selutut dan pada akhirnya permukaan jalan yang kami lewati tampak di bawah jernih air yang semakin menipis. Untaian shalawat nabi tiada berhenti terucap dari mulut-mulut yang lemah ini. Kini kampung kami benar-benar terbebas dari mara bahaya yang melumat semua milik kami. Kami beserta jamaah yang lain kemudian pulang dengan meneteng berkat dari acara mauludan di langgar.

Keesokan harinya matahari pagi muncul dengan sinarnya yang kemilau. Dia memantulkan untaian shalawat yang terucap semalam suntuk. Memancarkan nur Muhammad di segala penjuru kampung. Warga kampung kini mulai berbenah untuk merajut hidup yang tersisa di dunia dengan iringan shalawat sebagai bekal hidup di akhirat kelak. ***

*Penulis beralamat di Wanar Pucuk Lamongan