KEHANGATAN DIALOG DAN TAFSIR BERAGAM KARYA SASTRA

Catatan Perjalanan Utan Kayu-Salihara International Literary Biennale 2011
Esha Tegar Putra
http://harianhaluan.com/

Sepulang dari Pekan­baru mememenuhi undangan Korean-Asean Poet Literary Festival II, dari tanggal 25-28 Oktober, saya langsung berangkat ke Jakarta memenuhi undangan Utan Kayu-Salihara International Literary Biennale 2011. Hari itu, Jumat (28/11), malamnya saya dijadwal panitia untuk membaca sajak di Teater Atap Salihara bersama seorang penyair bernama Zaim Rofiqi. Dan seorang lagi, Ivan Nestor­man (musisi), komposer dan vokalis yang berhasrat di bidang musik etnik berasal dari Flores, ia yang juga merupakan anggota kelompok musik Si­mak Diadog akan menafsir puisi “Malam Laut”, karya Toto Sudarto Bachtiar, “Surat Kertas Hijau Lumut” dan “Dia dan Aku” karya Sitor Situmo­rang lewat nyanyiannya.

Jadwal kami malam itu bertajuk “Merayakan Sumpah Pemuda” dalam sebuah bung­kusan besar Biennale yang bertajuk “Klasik nan Asyik”. Jadwal kami tersebut memang berada pada ujung festival dua tahunan yang diadakan Utan Kayu-Salihara sudah yang keenam kalinya, jadwal yang berderetan dengan akhir festival yang akan ditutup oleh kelom­pok musik blues dari Indonesia yang sedang naik daun, Gugun and The Blues Shelter. Biennale keenam yang kami ikuti itu memang agak berbeda dengan konsep tahun-tahun sebelumnya. Sebab sebelumnya para penulis, atau seniman lain yang diundang akan bertemu dalam beberapa hari di bebe­rapa forum pembacaan atau diskusi.

“Dibanding lima festival sebelumnya, inilah bienal kami yang paling banyak memiliki program partisipasi publik. Jika pesta sastra kami sebe­lumnya sarat dengan pertun­jukan pembacaan, disertai bincang-bincang dengan sastra­wan mengenai karya mereka, kali ini ada beberapa program pembacaan sastra klasik (yaitu modern dan klasik), baik oleh aktor maupun pehobi. Pesan­nya: kami ingin penonton menjadi aktif,” kata Ayu Utami yang merupakan direktur program agenda tersebut.

Langit Jakarta mendung ketika sore saya mendatangi Komunitas Salihara, di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan itu. Akan ada hujan sepertinya. Dan benar, agenda pembacaan saya yang seharusnya akan diadakan di Teater Atap dipindahkan ke Serambi Salihara dengan kon­sep yang masih sama dengan yang direncanakan.

Pembacaan sajak malam itu Pukul 21.00 WIB, barangkali, satu bagian lain yang saya nikmati dalam mengikuti agenda tersebut. Hal-hal lain yang begitu terasa nyaman adalah perbincangan hangat dengan beberapa orang seni­man, sastrawan, atau para penggiat kesusatraan lain yang barangkali akan susah didapat­kan dalam kesempatan lain.

Diskusi Hangat

Sebelum pembacaan sajak, saya sempat bertukar pikiran soal kesusastraan hari ini dengan Nirwan Dewanto (redak­tur halaman sastra Koran Tempo), Hasif Amini (redaktur sastra Kompas), Ayu Utami (direktur program Biennale dan novelis), Ucu Agustin (cerpenis), beberapa teman lain dari serikat pekerja perempuan, dll.

Pada saat pembacaan sajak, saya berkesan pada penikmat sastra yang begitu sibuk men­dengarkan saya, Zaim Rofiqi, dan Ivan Nestorman dalam membacakan karya atau menaf­sir puisi.

“Esha Tegar Putra baca sajaknya di Serambi Salihara. Empat puisinya bagus, Cuma suaranya tertelan. Tapi hadirin minta lagi!” tulis Goenawan Mohamad di linimasa (twitter) yang catatan tersebut dikirim kawan lewat pesan ke ponsel saya. Begitu juga dengan tafsir puisi lewat musik yang diba­wakan Ivan Nestorman dengan beberapa temannya, Goenawan Mohamad bergumam: “Hujan di Salihara tapi Ivan Nestorman bawakan puisi Surat Kertas Hijau, Sitor Situmorang, Ma­lam Laut, Toto Sudarto Bach­tiar dengan memikat,” guma­man yang bisa jadi sebuah pembenaran atas tafisr Ivan lewat musiknya yang benar-benar komunikatif malam itu.

Saya membacakan lima sajak pada malam itu di depan hadirin. Dan suara saya yang tertelan di beberapa sajak itu muncul dari kegagapan saya di depan hadirin yang saya sadari begitu khusuk mende­ngarkan.

Kesempatan lain, sehabis pembacaan sajak, saya sempat berdiskusi kurang-lebih sete­ngah jam dengan Goenawan Mohamad tentang proses krea­tif­nya dalam bersajak. Soal bagaimana ia menyiasati dan memilih antara karir jurna­lisnya dan proses kepenyai­rannya.

“Kerja kepenyairan tidak bisa setengah hati, pilih jadi jurnalis atau penyair,” tukas Goenawan pada saya yang sebelumnya meminta maaf jika ucapannya terkesan menggurui. Ia juga bercerita tentang proses kepenyairan orang-orang seza­man­nya, karamnya kepenyairan seseorang, dan persoalan keringnya karya seorang penyair akibat kekurangan bahan bacaan.

Barangkali catatan perja­lanan ini terkesan sanjung-puji, atau pengukukan atas eksistensi diri sendiri. Tapi terlepas dari itu semua, catatan ini adalah bagian dari sebuah proses, yang bagi saya akan bermanfaat bagi diri sendiri, juga pemantik berkarya bagi kawan-kawan penyair di Sumatera Barat. Pemantik yang bukan saja berfukus pada undangan festi­val, lebih dari itu semua, pertemuan-pertemuan kecil dengan cerita-cerita sederhana adalah sesuatu yang berpe­ngaruh besar bagi proses kreatif, ini anggapan personal saya.

Pembacaan sajak saya, Zaim Rofiqi, atau tafsir musik dari Ivan Nestorman dan Gugun and The Blues Shelter merupakan penutup Utan Kayu-Salihara International Literary Biennale (28-29/11). Tapi agenda tersebut sudah dibuat tiga minggu sebelumnya dengan beragam pembacaan karya, tafsir puisi, dan ceramah sastra.

Sebelumnya telah terse­lenggara lokakarya Baca Sastra, untuk guru dan umum, Gera­kan Indonesia Membaca Sastra (GIMS): suatu pembacaan prosa klasik di kafe, yang direkam dan hasilnya berupa buku-audio yang bisa diguna­kan para tunanetra. Juga seri kuliah filsafat tentang “Pemi­kiran Keindonesiaan dalam Sastra”. (Ignas Kleden: “Pra­moe­dya dan Pemikiran Kebang­saan”. Sapardi Djoko Damono: “Kesusastraan sebelum Perang”. Manneke Budiman: “Suara-suara dari Tepian” tentang penulis perempuan yang bicara pulau-pulau kecil Nusantara. Arif Bagus Prasetyo: “Bangsa dan Puisi”).

Salah satu diskusi lintas bangsa yang menarik mengenai pentingnya sastra kanon adalah dengan ceramah pengarang kelahiran Pakistan, Tariq Ali. Ada juga diskusi dan pem­bacaan karya mengenai “Sastra dan Tradisi Islam” (Ahmad Fuadi, Ben Sohib, Hasan Al Banna, Okky Madasari, Syaiful Alim), seni “Ironi, Humor, Sufi”. (Danarto, D. Zawawi Imron, F. Rahardi, Joko Pinur­bo. Danarto ), “Sastra dan Sejarah” (Bre Redana, Iain Bamforth, Shirley Lim dan Steven Conte), dan banyak lagi penulis seperti Avianti Armand atau musisi muda dengan nama Frau yang ikut berpartisipasi pada festival antarbangsa tersebut.

“Pada akhirnya, merumus­kan tema adalah tugas penye­leng­gara, tetapi tugas seorang sastrawan adalah memelihara kejujuran mengenai dorongan-dorongan estetik yang men­desak dari dalam tubuhnya bagaikan janin minta dilahir­kan,” kata Ayu Utami tentang rumusan yang telah mereka buat di sedereat agenda festival tersebut.

Seperti yang saya tulis di atas, catatan perjalanan ini mungkin tidak akan meleng­kapi perjalanan dan pengala­man yang saya dapat pada festival yang dikonsep an­tarbangsa tersebut. Akan tetapi, dengan mencatat ini, setidaknya akan banyak kawan-kawan sastrawan muda di Sumbar yang akan menghadiri acara serupa atau lebih dari yang sudah-sudah—tentu menghadiri sebuah agenda bukan hal yang pokok.

13 November 2011