MENERTAWAKAN ROMANTISME DAN MENGGOSOK MASA LALU

MEMBINCANGKAN CERPEN KITA SEMUA BERJALAN MUNDUR
Benny Arnas
http://harianhaluan.com/

Tak ada yang kita tinggalkan kalau kita berjalan mundur….Demikian kalimat pembuka cerpen Sungging Raga yang berjudul Kita Semua Berjalan Mundur (KSBM) yang dimuat Koran Tempo (10/10/2010). Sepenggal kalimat yang—mela­lui cerpen tersebut—diakuinya dikutip dari buku puisi Afrizal Malna; Pada Bantal Berasap (Omahsore, 2010). Sebuah kalimat (kutipan) yang sangat filofosis. Sungguh, ketika mem­baca cerpen terse­but, langsung terbersit dalam pikiran saya untuk mengu­lasnya. Namun, ketika saya akan mulai mengu­lasnya, tiba-tiba saya mengang­gap niat saya tersebut berpeluang menjadi kesia-siaan. Ya, saya takut terjebak oleh kalimat pembuka cerpen tersebut. Saya khawatir, alih-alih menelisik KSBM, namun malah membaca ulang kutipan puisi Afrizal Malna tersebut. Namun begitu, keingi­nan untuk melakukan pemba­caan khusus terhadap KSBM tampaknya jauh lebih menyala dibanding spekulasi tentang kesia-siaan yang mungkin saya lakukan.

Hidup adalah rententan peristiwa yang bermain dalam ruang dan waktu. Baik ruang personal, transendental, mau­pun eksternal. Baik waktu dalam pengertian harfiah maupun maknawiah. Peristiwa-peristiwa tersebut memiliki sifat yang genuine. Ia senantiasa dinantikan untuk kemudian dijalankan, lalu dimasukkan ke dalam dua buah kotak. Kotak pertama bernama ’biasa’. Kotak kedua bernama “tidak biasa”. Kota pertama ditandai dengan warna abu-abu. Kotak kedua berwarna cerlang. Kotak per­tama adalah tumpukan peris­tiwa yang oleh subjek tak diacuhkan sebagai keberartian. Kotak kedua adalah susunan peristiwa yang oleh subjek diacuhkan sebagai keberartian. Maka, kotak pertama adalah kotak sampah kehidupan, yang sengaja atau tidak, dialirkan di sungai yang bernama alpa/kekhilafan. Kotak kedua adalah kotak permata, yang dengan sengaja, disimpan dalam rumah yang bernama kenangan.

Bagaimana manusia dapat menyadari bahwa ia senantiasa memiliki kotak yang sewaktu-waktu dapat dengan sadar/tidak ia buka? Memang sangat klise bila istilah “merenung” harus kembali diseret dalam perbin­cangan ini. Merenung berafiliasi dengan kesadaran terhadap keberadaan dua kotak terse­but walaupun mungkin ko­tak-kotak tersebut disusun dan diterjemahkan oleh pikiran dalam verbal dan visual yang berbeda-beda. Sedalam mana proses “merenung” akan sam­pai pada kesadaran tentang peristiwa-peristiwa yang lalu-lalang tersebut, selalu akan dibenturkan dengan kemam­puan dalam memilah tanda dalam mengungkapkannya. Dan pengarang adalah mereka yang berkarib dengan aktivitas-aktivitas yang genuine ini. Pengarang memilah kata, lalu menganyamnya menjadi barang kerajinan berupa karya literer yang siap untuk dipamerkan (dipublikasikan) atau dipakai sendiri (koleksi pribadi), atau hanya untuk keluarga (dalam lingkup komunitas). Dalam taraf ini, pengarang akan memproduksi frase, parafrase, ungkapan (baik sebagai meta­fora, ekspresi yang digubah sendiri, atau produk pemiuhan kalimat) untuk membahasakan bahwa apa-apa yang ia karang sejatinya hanyalah daur-ulang dari bahan baku terbarukan. Dan, masa lalu (kadang men­jelma sebagai kenangan atau nostalgia) adalah bahan baku yang paling mustajab untuk menggubah dan atau meng­hidupkan cerita. Pemahaman ini tentu takkan dapat dilepas­kan kemampuan pengarang untuk ’berjalan mundur’. Dan “berjalan mundur” kerap diarti­kan sebagai usaha mengendus jejak-jejak masa silam. Untuk dikumpulkan, lalu dipikirkan, lalu direnungi, lalu diubah menjadi melankolia, lalu lahir­lah sentimentalia, lalu basahlah kelopak mata, lalu berderailah airmata, lalu meraung-raunglah, lalu terdiam, lalu tersadar bahwa “berjalan mundur” dalam rangka mendramatisasi sebuah peristiwa adalah kesia-siaan.

Di sinilah kesalahan besar Ruminah, tokoh utama KSBM. Ruminah menganggap “berja­lan mundur” adalah usaha untuk menjemput apa-apa yang selama ini kerap diabaikan, kerap dilupakan, dan atau ditinggalkan. Ia bagai tak peduli bahwa apa-apa yang dilakukan oleh sebagian besar orang (termasuk keluarganya; ayah dan ibunya) adalah sebaliknya; mengartikan ’berjalan mundur” dalam secara maknawiah, dalam ruang yang transendental. Maka, demi meluruskan persep­si tersebut, Sungging Raga pun menyusup lamat-lamat (hingga nyaris tak tampak) untuk memberikan Ruminah pelaja­ran. Dan pelajaran tersebut justru diberitahukan melalui hati kecil Ruminah. Akibatnya, tokoh utama tersebut selalu bertanya-bertanya (dan ini makin menegaskan kebodo­hannya, kekeliruannya dalam memosisikan pikirannya; ah betulkah?):

….Ruminah mulai belajar untuk berjalan mundur. Ia segera bangkit dan berdiri tegak. Ia tersenyum-senyum sendiri. Di percobaan pertama, ia mencoba melangkah mundur dari jendela menuju pintu kamar. Ruminah bergerak perlahan-lahan. Agak sulit ternyata kalau menghadap ke depan dan melangkah ke belakang. Namun nyatanya ia berhasil. Ruminah berjalan mundur tanpa gangguan, hanya tangannya yang meraba-raba ke belakang, takut menabrak sesuatu, ia menjadi lebih hati-hati, sampai akhirnya tangan­nya menyentuh daun pintu. (Paragraf 14)

Ruminah adalah sebuah invers dari penjelasan yang diputar. Sejatinya ia membawa misi meluruskan, tapi sebalik­nya, kehadiran Ruminah (de­ngan pemikirannya) justru membuat ia tidak mampu menjadi ’pendekar’ untuk orang-orang yang membutuhkan penjelasan tentang hakikat peristiwa. Memang, ini adalah cerita yang kesekian yang memojokkan tokoh utama perihal penyadaran hakikat berpikir (conciousness of mind), namun Sungging Raga justru memiliki tempat tersen­diri ketika ia ternyata justru seolah “berdiam diri” ketika mengatakan bahwa apa yang ia yakini—bahkan apa yang Afrizal Malna tuliskan—pun sejatinya masih perlu diper­debatkan keabsahannya.

Maka, terserah Anda mau benar-benar berjalan mundur atau justru sebenarnya (selama ini) sudah meyakini bahwa hidup kita sejatinya berjalan mundur! Anda ingin berada dalam pihak Ru­minah atau justru bersekongkol dengan Sungging Raga sebagai ’pencip­tanya’. Anda ingin kelabakan menjangkau benda-benda seki­tar karena ribetnya berjalan mundur, atau justru menjadi seorang idealis seperti Sungging Raga, yang di akhir cerita tiba-tiba merasuk ke dalam tokoh “Ayah” sebagaimana kalimat yang mengakhiri KSBM: Kali ini, sang ayah memakai sepatu di atas kepalanya.

*) Cerpenis tinggal di Lubuk Linggau