Puisi-Puisi Ahmad Zaini

Malam Renungan

Kerlip lilin di hening malammu
menyinar kepak sang merah putih
di tengah renungmu

seulas senyum para pahlawan
hadir di tengah-tengahmu
lalu menetes air mata haru

ia hadir menyusupi segelintir jiwa
yang masih mempedulikanmu
menghormat dan mengangkat
nilai-nilaimu

kerlip lilin di malammu
membekas sinar untuk bangkit
memperjuangkan harkat dan martabat negerimu

Agustus 2011

Persembahanku untuk-Mu

telah kuracik menu ibadah
kubersembahkan untukMu
namun aku tak tahu
apakah Engkau sudi menerima
racikan menu ini
hamba pasrah atas keputusanMu
aku hanya abdi yang hanya mampu meracik
sesuai dengan kemapuanku

jika Engkau tidak berkenan
maka aku mohon kepadaMu
agar Engkau memberikan resep
meracik menu yang lebih baik

bumbu keikhlasan dan kesabaran
dalam menjalankan perintahmu telah kuaduk
namun masih tercampur
virus-virus yang menyusup di hatiku

kuharap Engkau memaklumi
racikan menu ibadah hamba lemahMu ini
karena inilah yang dapat kupersambahkan
untukMu

Agustus 2011

Separo Perjalalan

Setengah perjalanan
berteduh di rindang pohonMu
menghela napas lapar dahaga

separo perjalanan
merangkai ceceran hati
di jalan tajam berkirikil

langkah memijak jalanMu
menggapai kemulyaan
melintas di titian iman

ingin kusampai di akhir perjalanan ini
sebuah kedai kenikmatan yang tak surut hidangan
menyuguhkan buah khuldi
arak dan susu laranganMu

Lamongan, 13 Agustus 2011

Ritual Hampa

Setelah beduk maghrib
kau jajar menu sepanjang siang
kau buang

sehari nafsu meringkuk
di tengkuk kering di ususmu
di petang kau jejal gemukkan nafsu kemenangan

lantunan takbir malas kau kumandangkan
terbeban di perut
enggan bergerak

pergantian siang menjadi malam
malam menjadi siang
ritual hampa
tak berarti apa-apa

Lamongan, Agustus 2011

Bisik Daun Malam

Angin berbisik lewat daun-daun
di halaman malam
meniupkan nafas beraroma surga
mengajak ke sana
lewat gemerisik
melantun takbir di malam ini
kumenikmati keindahan bulan
yang melingkari bulan suci

Qiyamullail di bulan ini
menghapusi dosa-dosa
yang pernah tertoreh
di kening ini

dan shiyam di siangmu menghamparkan
kertas suci tak pernah tertulisi

di ujung bulan ini
ada kebahagiaan berhari raya
dan di akhir kehidupan
menunggu kebahagiaan
di hari pembalasan

Lamongan, 3 Agustus 2011

Kedatangamu

Kau datang saat diriku dirundung sepi
dengan membawa sekeranjang bunga
kau harumkan malamku yang dingin

kini malamku merona
dengan kedatanganmu
gigil dingin pun mencair oleh senyummu
bintang-bintang kini menari
menghibur malamku

kau datang saat diriku hampa
dengan sejuta kata kau hujamkan
pada jiwaku yang layu

kedatanganmu
telah mengubah jiwaku
menjadi penuh arti
kerapuhan telah menjadi kekuatan
untuk bertahan dari terpaan badai
kau kokohkan sendi-sendi kehidupan
agar kuat menahan gelombang
yang menghantam

kedatanganmu
telah mengubah segalanya bagiku

Lamongan, 4 Juli 2011

Sepekan

Sepekan terlalu lelah menahan keluh kesah
pada angin yang membelai ilalang
kutumpahkan isi jiwaku

aku ingin terlepas dari beban
di luar ruangku
aku ingin terbang tiada beban
menikmati kepuasan
yang tertunda

24 Mei 2011

*Penulis adalah peserta parade baca puisi “Kidung Nagari” HUT Jatim 2010 di RRI Surabaya