Puisi-Puisi Bambang Kempling dan Mahmud Jauhari Ali

Tentang Aku dan Listrik Hari Ini
Mahmud Jauhari Ali

dalam dekap cahaya panas
dadamu dihunus sebilah tembaga
tubuhmu roboh tepat di samping sebuah guci warna jingga
“Sabar! Kau harus sabar!” ucapmu pelan
tiba-tiba dadaku sesak
lalu kaupegang tanganku erat-erat
“Kau jangan sedih. Anakku akan datang menemanimu nanti.”
katamu lagi bersama mata yang sayu

sebelum jantungmu berhenti berdetak
kulihat air matamu bagai luapan sungai
menyapa kakiku
menyentuh tanganku
juga menggenangi wajahku yang kian menghangat

di ruang-ruang selatan
bagai seorang ibu yang mengandung tua
aku menanti kehadiran anakmu hampir sembilan jam lamanya
dan, ketika aku jongkok di beranda malam
anakmu datang
dia membawa sekuntum matahari
sementara itu bibirku merekah, menemani hatiku yang purnama

Tanah Borneo

Mozaik Pagi
Bambang Kempling

dari celah pagi kau susuri
jejak buih
mozaik luka pasir pantai

debar telah membawamu
tengelam dalam langkah-langkah kecil dan tergesa
siput-siput meliang
dalam tatapmu

sementara perahu-perahu tertambat
dan matahari berpeluh di relung jiwa

tiba-tiba senyap
menjeratmu
menelusuri jejak-jejak itu

Panyuran, November 2011