Remy Sylado: Tak Semua Kata Bisa Diterjemahkan

Jodhi Yudono
http://entertainment.kompas.com/

Setelah meluncurkan buku terbarunya Kamus Bahasa dan Budaya Manado Sabtu (12/7) sore, malamnya bersama para kerabat Remi Silado merayakan ultahnya yang ke-63 di Kafe New Museum, Jalan Veteran, Jakarta Pusat.

Di sela-sela nyanyian lagu-lagu berbahasa Manado, Remy yang bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong mengutarakan kesan-kesannya atas perayaan ultahnya. Katanya, “Ternyata ada orang lain yang memerhatikan aku dan itu Taufik Rahzen (pengelola New Museum). Ini gagasan dia, dan saya berterimakasih kepada dia.”

Sebuah kue ulang tahun, istri yang setia (Emmy Louise Maria) dan sajian musik pun menemani kelahiran Malino, Makasar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1945. Berkali-kali ia menerima ucapan selamat dari kawan-kawan yang hadir, termasuk ucapan selamat lewat karangan bunga dari aktor Frans Tumbuan dan Rima Melati yang diletakkan di pintu masuk kafe.

Menanggapi peluncuran bukunya, Remy mengatakan, bukunya ia susun selama enam bulan. Cuma, ujar Remy, kesulitan yang dihadapi oleh penyusun kamus adalah karena tidak semua istilah dalam sebuah bahasa tidak bisa diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Indonesia.

“Misalnya puisi, peribahasa. Makanya untuk menerjemahkannya saya cenderung memakai transkreasi, bukan translasi,” ujar Remy sembari mengaku cetakan pertama bukunya ini hanya dibuat 5.000 eksemplar.

Pada buku setebal 390 halaman yang diterbitkan oleh Gramedia Penerbit Buku Utama itu, Remy Sylado mengangkat arti ribuan fam atau marga dan langgam bahasa pengantar sehari-hari di lingkup Orang Manado, terutama di kalangan etnis Minahasa.

Remy juga dikenal sebagai seorang Munsyi, ahli di bidang bahasa. Ia hingga kini dikenal pengguna aktif bahasa-bahasa Tontemboan, Makassar, Ambon, Jawa, Sunda, Betawi, Manado dan menguasai beberapa bahasa asing, termasuk aksara asing. Aksara asing yang dikuasainya antara lain Yunani, Ibrani, China dan Arab.

Selain itu, Remy Sylado juga dikenal sebagai pengajar teater, seni rupa, musik dan agama, selain penulis novel, naskah teater serta film. Karya-karya novelnya adalah Gali Lobang Gila Lobang (1977), Kita Hidup Hanya Sekali (1977), Cau-Bau Kan (1999), Kembang Jepun (2000), Paris Van Java (2003).

13 Juli 2008