Watu Beber

Akhmad Muhaimin Azzet *
http://www.kompasiana.com/akhmad_muhaimin_azzet

Hujan gerimis yang terjadi hampir seharian, hingga senja menuju gelap ini belum juga berhenti. Anjing Lek Marsuji di ujung jalan juga tidak seperti biasanya, seakan mempunyai keasyikan tersendiri dengan menyalak berkepanjangan. Dan, suasana semakin terasa wingit, tatkala dari rumah Ki Waseso asap kemenyan mengepul lewat celah-celah genting dan baunya menyergap ke segala penjuru. Bibir sesepuh desa itu menggumamkan mantra tiada henti.

Aku duduk termenung sendiri di teras rumah. Dalam benakku masih memikirkan kata-kata Ki Waseso tadi siang, bahwa mulai seminggu yang lalu, semenjak kematian mendadak Mas Darun, kemenakannya Pak Carik itu, sebenarnya tantangan maut dari para penghuni Watu Beber telah dimulai. Hal itu terbukti, masih menurut Ki Waseso, di leher Mas Darun ada tanda tiga lingkaran kecil berwarna hitam kebiruan. Demikian pula dengan kematian Mbok Girah dan Mbah Tanu yang menyusul mendadak bergantian setelah tiga hari berlalu.

Sebagai seorang sarjana pendidikan dan sudah mengajar di sebuah SMP kota, bukan berarti aku tak percaya sama sekali omongan Ki Waseso. Tapi, sesungguhnya, aku semakin penasaran untuk mencari kebenarannya. Dan, oleh sebab itulah mulai malam ini aku sengaja tinggal dan menginap di rumah Ki Waseso untuk beberapa malam. Kebetulan minggu ini juga ada libur kenaikan kelas.

Perkenalanku dengan Ki Waseso dan dengan masyarakat Desa Kedunglir ini terjadi semenjak tiga tahun yang lalu, yakni ketika aku KKN di sini. Sebagai orang luar Jawa, aku sangat tertarik dengan tradisi dan kepercayaan mistik orang-orang di sini. Maka, ketika aku mendapat SK untuk menjadi guru negeri di kecamatan kota yang hanya sepuluh kilometer dari desa sini, aku sungguh senang bukan main. Apalagi Wulansari, gadis kembang desa itu sangat menarik hatiku. Kedatanganku kali ini pun sebenarnya juga dalam rangka pendekatan terhadap putri bungsu Pak Ratman itu.

“Kamu masih tidak percaya bahwa sebenarnya para penghuni Watu Beber telah marah kepada seluruh penduduk desa sini dengan cara menunjukkan tantangan mautnya?!” Ki Waseso ternyata sudah berhenti dari prosesi meditasinya dan tiba-tiba duduk di sampingku.

“Bukan begitu, Ki, lantas alasan dan hak apa yang membuat para lelembut itu marah kepada masyarakat sini?”

Ki Waseso manggut-manggut. Jenggotnya yang sudah mulai memutih dielusnya. Dan, dalam sekejap, ia begitu terampil melinting rokok klobotnya. Asap berkelembak mengepul tebal dan hampir-hampir menutup seluruh wajahnya yang dipenuhi dengan guratan persoalan hidup.

“Begini, Nak Guru, dahulu masyarakat sini begitu menghormati penghuni Watu Beber. Setiap menjelang dan usai panen padi, jagung, kedelai, dan kacang tanah, orang-orang selalu mengadakan sedekah desa sebagai tanda syukur di pelataran Watu Beber. Tapi, kini tradisi agung ini telah dilupakan. Hanya Aki sajalah yang melakukan seorang diri. Itu pun, terkadang mendapat perlakuan menyakitkan dari mereka. Tidak jarang Aki disindir melakukan perbuatan yang tidak masuk akal dan ketinggalan jaman.” Ki Waseso menandaskan setiap kata yang meluncur dari bibir tebal dan hitamnya, seakan menguraikan keprihatinan.

Dan, memang, di ujung sebelah utara dari desa Kedunglir ini di sisi kanan bukit, ada sebuah pelataran dan dinding bukit berbatu yang berbentuk empat persegi panjang, persis seperti panggung dan kelir pertunjukan wayang kulit. Oleh karena itulah, orang-orang lantas menamai tempat itu dengan sebutan Watu Beber. Tempat itu dahulu sangat dikeramatkan. Apalagi, menurut keterangan Ki Waseso, dan beberapa orang tertentu termasuk aku yang telah mendengarnya, pada malam-malam tertentu dari Watu Beber terdengar pertunjukan wayang kulit yang digelar semalam suntuk. Namun, setelah didekati, suara yang bagiku masih misteri itu perlahan menjauh dan hilang begitu saja. Hanya suara angin yang menderu bergesekan dengan daun-daun jati yang mulai kering dan berjatuhan.

Dan, di Watu Beber sebenarnya aku menyimpan kenangan hati yang hingga kini tiada terlupakan. Pada saat itu hari Minggu pagi, program kelompokku KKN adalah bersama karang taruna mengadakan kerja bakti di Watu Beber. Seorang gadis cantik, rambutnya hitam dan lurus, tinggi semampai dengan bibir tipis mungil yang bernama Wulansari, pada saat bersih-bersih di Watu Beber benar-benar menikam jantung asmaraku. Bahkan, hingga kini, matanya yang berbinar dengan bulu mata yang lentik itu tak mampu menghilang dari bayangan keseharianku. Tapi sayang, hingga kini aku belum cukup keberanian untuk mengungkapkan cinta kepadanya. Entah karena apa.

Oh tidak! Aku nyaris tidak percaya terhadap apa yang aku lihat. Di belakang Ki Waseso berkelebat bayangan tinggi besar berwarna hitam pekat.

“Awas di belakang, Ki!” mulutku spontan berteriak.

Ki Waseso dengan cekatan berkelit. Sisa-sisa kemahirannya sewaktu muda sebagai anggota pencak silat, masih terlihat piawai. Dan, dalam sekejap, terjadilah duel hebat antara Ki Waseso dengan makhluk aneh, mengerikan, sekaligus berwajah buas itu. Suara dengus antara keduanya berdesis-desis bersamaan hujan di tengah malam yang mulai melebat. Aku terpaku seorang diri. Dan, sungguh, aku bingung mesti berbuat apa. Rupanya perkelahian berjalan semakin tidak seimbang. Ki Waseso terdesak, dan… Crash!!!

Aku seperti mati berdiri melihat tubuh Ki Waseso memuncratkan darah segar ditikam taring makhluk asing itu. Tubuh Ki Waseso roboh. Dan, menghembuskan nafas yang terakhir.

Semuanya berjalan begitu singkat dan cepat. Duh, Ya Tuhan, aku baru sadar, ternyata makhluk itu semakin buas mengarah kepadaku. Dengan sisa keberanian dan kaki yang masih bergemetaran, aku menggenjot dan berlari secepat mungkin. Tak peduli semak-semak dan pagar bambu, setiap yang ada di depanku kutabrak berantakan. Dan, mulut ini dengan spontan berteriak…, “Tolong…, tolong…, tolong…!!!”

Penduduk desa berhamburan keluar rumah. Suasana menjadi sangat gaduh. Aku terus saja berlari dan menabrak penduduk yang menyongsongku. Makhluk asing yang orang-orang menyebutnya sebagai Gendoruwo Preh itu mendadak berhenti. Mundur beberapa langkah karena orang-orang mengacung-acungkan obor.

“Tenang…, tenang…!!! Semuanya tenang saja.” Mbah Zaed tiba-tiba muncul tepat di saat orang-orang mulai panik karena Gendoruwo Preh itu beraksi dengan menyemburkan api berulang dari mulut lebarnya. Pardi tiba-tiba terkapar berkelojotan karena terkena semburannya. Dan, setelah itu, tak bergerak lagi.

Mbah Zaed berjalan cepat mendekati Gendoruwo Preh dengan gagah berani. Tangannya masih memegang tasbih dan memutar-mutarnya. Mulutnya fasih dan tartil membaca kalimat-kalimat suci. Dan… Hah?! Semua orang yang ada mendadak bengong dan tak tahu harus berbuat apa, karena tiba-tiba Mbah Zaed dan Gendoruwo Preh itu hilang dari pandangan mata.

Selanjutnya, sungguh kami semua tahu telah terjadi pertarungan yang sangat dahsyat antara Mbah Zaed dan Gendoruwo Preh itu. Cuma kami tak dapat melihatnya. Hanya beberapa hembusan angin yang kencang, kadang terasa dingin, kadang terasa panas sekali, berkali-kali menyapu tempat sekitar kami. Dan, tak lama kemudian, Mbah Zaed terlihat kembali dengan tetap berdiri tegak. Terus terang, kami semua kagum atas kesaktian Mbah Zaed.

Akhirnya, tanpa banyak bicara, ini semua juga disebabkan karena Mbah Zaed orangnya pendiam, kami semua berbondong untuk segera merawat jenazah Ki Waseso dan Pardi yang meninggal dengan mengenaskan. Malam yang basah karena hujan semakin lebat dan terasa wingit. Dan, malam itu juga semua prosesi perawatan jenazah Ki Waseso dan Pardi yang dipimpin langsung oleh Mbah Zaed berjalan dengan perasaan tegang. Menjelang adzan Shubuh, segalanya telah usai.

Mbah Zaed mengajak orang-orang untuk berjamaah Shubuh di masjid. Suasana jamaah shalat Shubuh di masjid tua itu menjadi ramai kembali. Tidak seperti selama ini, hanya Mbah Zaed dan beberapa orang saja yang memakmurkannya. Dan, aku tahu betul, pada saat berjalan menuju tempat wudhu, dari kedua bola mata Mbah Zaed mengalir linangan air bening yang deras bercucuran.

*) Suka membaca dan menulis. Di antara tulisannya pernah dimuat di Republika, Koran Tempo, Suara Pembaruan, Suara Karya, Elka Sabili, Ummi, Annida, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Koran Merapi, Bernas, Solo Pos, Suara Merdeka, Wawasan, Surabaya Post, Lampung Post, Analisa, Medan Pos, Waspada, Pedoman Rakyat, dan beberapa media kalangan terbatas. Menulis juga buku (nonfiksi) yang sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit. Suka pula bersepeda dan aktif di Lereng Merapi Onthel Community, Yogyakarta —[twitter: @kangazzet]